suplemenGKI.com

Filipi 3:1-6.

 

Waspadalah Terhadap Sikap Penonjolan Diri

            Profesor John Nash dari Universitas Princeton adalah seorang yang genius dalam bidang matematika. Ia menghabiskan banyak waktu untuk menekuni dunia angka yang abstrak, persamaan-persamaan dan khayalan. Beberapa Nobel diraih karena prestasinya yang luar biasa. Nash berkata “Saya selalu percaya pada angka, persamaan dan logika yang membawa pada jawaban…Pencarian telah membawa saya melewati dunia fisik, metafisik, khayalan dan kembali lagi. Namun di balik kegeniusannya itu, ternyata Nash menderita penyakit schizophrenia, penyakit mental yang dapat menyebabkan kelakuan aneh dan mengganggu hubungan dengan sesama. Dalam kondisi demikian Nash menyerah karena ternyata prestasi matematikanya tidak bisa membawa dia pada sebuah penemuan yang mampu menolong dirinya keluar dari schizophrenia. Adalah seorang istri yang dipandang hina karena kebodohannya dan seorang dokter yang dianggapnya kuno dengan pengobatan terapinya, Nash menemukan jawaban atas hidupnya. Nash mulai belajar menerima keadaannya dan menemukan kasih dari kesederhanaan istri dan dokter yang setia merawatnya. Kemudian dia berkata “Saya telah membuat penemuan penting dalam hidup saya, ternyata semua alasan yang logis hanya dapat terjawab dalam persamaan misterius tentang kasih” Bagaimana Paulus menyikapi kelebihannya?

 

Pertanyaan-Pertanyaan Penuntun:

  1. Apa yang hendak disampaikan oleh Paulus bagi pembaca melalui peringatannya di ay. 2?
  2. Siapakah Paulus sebenarnya, terkait dengan pengakuan tentang dirinya dalam ay. 4-6?
  3. Apa yang Paulus maksudkan dengan berkata “dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah”

 

Renungan:

Filipi 3:1, Paulus menyerukan untuk bersukacita dalam Tuhan, tetapi begitu masuk ayat 2 dengan tanpa tedeng aling-aling Paulus memperingatkan pembaca agar waspada terhadap orang-orang Yahudi Kristen yang suka menonjolkan kemampuannya menuruti taurat dan ingin mewajibkan hukum taurat kepada orang-orang Kristen di Filipi. Misalnya dalam hal sunat, padahal dengan mewajibkan sunat berarti mereka meniadakan karya Kristus di atas kayu salib untuk keselamatan orang berdosa. Bagi Paulus sunat adalah hanya pemikiran, pekerjaan dan perintah orang-orang yang pantas disebut anjing (tidak pantas dituruti) Karena bagi Paulus sunat adalah perbuatan lahiriah yang tidak membuahkan sukacita, tetapi percaya bahwa keselamatan melalui Kristus di kayu salib itulah yang mendatangkan sukacita sejati.

Keterangan Paulus tentang dirinya mulai ay. 4-6, adalah ingin menjelaskan, bahwa jika keselamatan itu bisa didapat melalui kefasihan tindakan lahiriah, melalui kemampuan lahiriah manusiawi maka Paulus adalah jauh lebih istimewa dari para guru-guru Yahudi, ahli-ahli taurat dan para farisi. Tetapi kenyataannya semua itu tidak ada andilnya dalam hal memperoleh keselamatan, maka tidak ada gunanya untuk ditonjolkan.

Satu-satunya sarana untuk memperoleh keselamatan yang bisa membuat kita bermegah atau bersukacita adalah karena percaya dan beriman kepada Kristus Yesus, yang adalah Allah yang menyelamatkan melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib. Keselamatan yang diberikan dengan cara mengorbankan diri-Nya adalah wujud kasih sejati-Nya kepada kita yang berdosa ini, agar kita terbebas dari dosa. Bukan karena kehebatan manusia lahiriah atau tindakkan lahiriah seperti sunat dan sebagainya. Saudara segala kemampuan, kebisaan dan kebolehan kita tidak bisa membawa kita pada keselamatan, tetapi hanya kasih Kristus yang menyelamatkan kita, untuk itu bersyukurlah senantiasa kepada-Nya. Amin.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*