suplemenGKI.com

Bacaan, Yohanes 19 : 23 – 37.

“KASIH YANG BERKORBAN”

Pengantar
Penderitaan dan kesusahan menjadi berita yang kita lihat dan baca setiap hari,  kita juga pernah bahkan mungkin sering mengalaminya. Begitu banyaknya kisah penderitaan terdengar, sehingga membuat kita merasa biasa dengan semua peristiwa penderitaan yang dialami oleh orang-orang disekitar kita. Mereka menderita mungkin karena kesalahan diri-sendiri atau kerena situasi atau karena alam. Hal tersebut sangat berbeda dengan penderitaan yang dialami oleh Tuhan Yesus. IA menderita, bukan karena kepentingan diri sendiri tetapi demi kepentingan orang lain ( umat manusia ), IA bersedia menderita demi keselamatan manusia.

Pemahaman
Apa makna penderitan dan kematian Tuhan Yesus diatas kayu salib ?

Pada jam 9 sampailah mereka di bukit Golgota/tengkorak. Bukit itu disebut demikian, mungkin bentuknya yang seperti tengkorak. Di bukit itulah para prajurit Romawi menyalibkan Tuhan Yesus bersama dengan 2 orang penjahat. Sebelum disalibkan Tuhan Yesus disiksa, di dera/cambuk bahkan diejek dan dihina. Kaki dan tanganNya dipaku pada sebuah salib, mahkota duri dipasang di kepalaNya, darah segar membasahi sekujur tubuhNya. Dalam keadaan menderita tergantung di atas  kayu salib, orang-orang yang lewat disana mengolok-oloknya, Imam-imam dan Ahli-ahli Taurat bersorak gembira sambil berkata sinis, “orang lain IA selamatkan tetapi diriNya sendiri tidak dapat ia selamatkan ! IA  raja Israel, baiklah Ia turun dari salib itu, dan aku akan percaya kepadaNya. Dan masih banyak ejekan dan cercahan yang ditujukan kepada Tuhan Yesus yang sedang menderita di atas kayu salib. Bagi mereka yang mengejek, mencercah dan memperlakukan Tuhan Yesus secara tidak adil Tuhan berkata dari atas kayu salib, “Ya Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Penderitaan mencapai puncaknya ketika Yesus berseru, “Allahku, Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku. Disinilah puncak penderitaan yang sesungguhnya yaitu ketika Allah Bapa meninggalkan Yesus saat Yesus menanggung kutuk hukuman yang seharusnya diterima oleh manusia, tetapi Tuhan Yesus mengambil alih dengan penderitaan yang mengerikan diatas kayu salib. Hal itu dilakukanNya untuk menebus dosa manusia. Ketika menjelang ajal diatas kayu salib, Tuhan Yesus berkata, “Sudah Selesai”. Hal ini hendak menyatakan tentang :

  1. Ketaatan total kepada kehendak Bapa, hidupNya untuk menjalankan kehendak Bapa, sampai diujung kematianpun IA tetap setia melaksanakan kehendak Bapa.
  2. Keberhasilan menunaikan tugas sebagai Mesias, Juruselamat dunia. IA berhasil menjadi korban penebus dosa bagi manusia, sekali untuk selama-lamanya.
  3. IA telah menyelesaikan tugasNya dengan sempurnah dengan menderita dan mati kayu salib sebagai tanda bahwa iblis telah dikalahkanNya.

Dengan demikian kita patut mengucap syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah mati di kayu salib untuk menebus dosa kita.

Refleksi
Marilah kita merenung sejenak : bahwa Allah telah mengasihi saya [saudara] IA mengorbankan DiriNya dengan mati di atas kayu salib untuk menebus dosa kita! Apakah yang dapat kita lakukan untuk membalas kasih Allah tersebut ?

Tekadku
Mengingat Kasih Tuhan yang begitu besar kepada saya, maka saya bertekad untuk menjalani hidup dengan mengasihi Dia dengan segenap hati.

Tindakanku
Hari ini saya mengucap syukur atas karya terbesar Tuhan yang telah mati diatas kayu salib untuk menebus dosa saya [kita]. Mulai hari ini saya harus lebih setia dan taat kepada Tuhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*