suplemenGKI.com

Galatia 2:15-21.

 

Dibenarkan Karena Iman di dalam Kristus

           

Pengantar:

            Galatia 2:15-21, ini hendak menunjukan suatu perbedaan hakiki tentang dua pemahaman seseorang dibenarkan oleh Tuhan. Pemahaman pertama berpegang pada unsur manusia sebagai subjek untuk mendapatkan pembenaran Tuhan. Pemahaman ke dua berpegang pada Iman kepada Kristus itulah yang dapat membenarkan seseorang. Tentu ini bukan persoalan sederhana karena tidak mudah untuk memahaminya maka persoalan hakiki ini terus menjadi ketegangan bagi kedua belah pihak.

Pemahaman:

  1. Ada persoalan apa di jemaat Galatia, sehingga Paulus harus menegaskan bahwa orang hanya dapat dibenarkan karena Iman kepada Kristus dan bukan kepada melakukan taurat?
  2. Mengapa Paulus yakin bahwa manusia tidak mungkin dibenarkan karena melakukan Taurat (17-18)? Apa makna pernyataan Paulus dalam ayat. 19-21?

Tidak dapat dipungkiri bahwa di jemaat Galatia pada saat itu ada sekelompok orang Yahudi yang mempertahankan aturan hukum taurat dalam kehidupannya dan menganggap keselamatan adalah buah dari ketaatan melakukan taurat secara sempurna. Kelompok tersebut bahkan merasa diri superior sehingga ekklusif, memandang rendah orang lain. Bahkan kelompok Yahudi eksklusif itu untuk sekedar duduk makan dengan kelompok lain saja merasa najis (Lih. v. 15) Dalam situasi demikian, Paulus ingin memberi pengajaran kepada jemaat Galatia, bahwa pemahaman manusia dapat dibenarkan karena melakukan taurat adalah tidak tepat. Bagi Paulus anugerah di dalam Kristuslah yang memerdekakan manusia dari perhambaan taurat, artinya peraturan taurat memang baik, tetapi posisi manusia yang berdosa dengan sendirinya tidak mungkin sanggup mentaati taurat dengan sempurna untuk mengantarnya pada pembenaran. Satu-satu jalan menuju pembenaran adalah melalui Iman kepada Kristus. Paulus mencontohkan dirinya dalam hal mentaati taurat bisa dikatakan sengat sempurna, tetapi justru karena Kristus dia diselamatkan (band. Fil 3:4-8)

            Keselamatan adalah anugerah yang bersumber dari kasih Allah dalam Kristus, maka kita wajib menghidupi hidup ini di dalam kuasa dan pimpinan Tuhan Yesus bukan dengan memegahkan diri, apalagi merasa diri lebih baik dari orang lain, kemudian mengatakan orang lain kafir. Paulus menegaskan bahwa “aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” Sebuah pernyataan yang menempatkan diri pada posisi tidak ada apa-apanya jika bukan karena anugerah Tuhan Yesus.

Refleksi:
Berdiam dirilah sejenak, renungkan “Apakah aku merasa lebih baik dari orang lain? Apa hak ku untuk menilai orang lain, sementara diriku hanya hidup oleh anugerah Tuhan Yesus?”

Tekadku:
Tuhan ajarkanku untuk hidup bagi-Mu dan sesama, supaya orang lainpun merasakan anugerah-Mu, sebab untuk itulah Engkau menyelamatkan aku.

Tindakanku:
Mulai saat ini aku belajar memandang orang lain dengan pandangan kasih Tuhan Yesus bukan merendahkannya, agar mereka juga memahami bahwa Yesus mengasihinya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«