suplemenGKI.com

JANGAN SIMPAN DOSAMU

21/06/2010

Pada suatu sore, seseorang mendapati anjing doberman miliknya pulang dengan “menggondol” bangkai seekor kucing.  Bangkai kucing itu berlumuran darah, dengan bekas gigitan di beberapa bagian tubuhnya.  Setelah diperhatikan dengan cermat, ternyata kucing tersebut adalah kucing kesayangan tetangga sebelah rumah.  Dia menjadi sangat panik.  Diambilnya bangkai kucing itu, lalu dibersihkannya, dan bekas-bekas gigitan itu disamarkannya. Setelah bulu-bulunya dikeringkan kembali, secara diam-diam diletakkannya bangkai kucing itu di teras rumah tetangganya, di tempat biasanya kucing itu tidur.  Pada keesokan harinya, dia berjumpa dengan tetangganya itu.

“Ada kejadian aneh tadi malam,” cerita si tetangga.

“Kejadian aneh? Apa maksudmu?” tanya si pemilik anjing dengan hati berdebar.

“Kemarin siang kucing kesayangan kami mati, dan aku menguburkan bangkainya di pekarangan.  Tetapi, tadi pagi aku mendapati kucing itu berada di teras, di tempat biasanya dia tidur. Aneh, bukan?”

Kebohongan adalah cara yang paling sering digunakan untuk menghindar dari tanggung jawab.  Kita berbohong, menutupi kesalahan kita, untuk menghindari berbagai macam akibat dari kesalahan yang telah kita lakukan: rasa malu, ancaman hukuman, kerugian materi, atau konsekwensi-konsekwensi yang lain.  Namun, perikop-perikop bacaan kita Minggu ini mengajarkan kepada kita untuk “membereskan” kesalahan kita dengan cara menghadapinya, bukan menyimpan atau menutupinya.

Dalam 2 Sam 12:1-15, Tuhan mengutus Natan untuk menegur Daud yang telah membunuh Uria untuk menutupi perzinahannya dengan Batsyeba, istri Uria.  Melalui Natan, Tuhan membimbing Daud untuk mengakui dan bertanggung jawab atas dosa yang telah dilakukannya.  Dalam Gal 2:15-21, Paulus mengakui kegagalannya untuk hidup dalam kebenaran melalui ketaatannya terhadap hukum Taurat (ay. 15-16).  Paulus menegaskan bahwa kebenaran dapat dicapainya dengan bersandar kepada kasih karunia Allah (ay.21).  Dalam Luk 7:36-8:3, ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang yang berdosa datang kepada Yesus, membasuh kaki-Nya dengan minyak dan menyekanya dengan rambutnya.  Yesus menegaskan bahwa apa yang dilakukan perempuan ini adalah sebuah tindakan kasih yang dilakukannya karena dosanya telah diampuni (ay.44-47).  Pengampunan dosa yang dialaminya telah mengubah perempuan ini.  Sekarang, perempuan berdosa ini justru melakukan tindakan kasih yang luar biasa.  Benarlah apa yang dikatakan pemazmur: “Berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan, dan yang tidak berjiwa penipu!” (Maz 32:2).

Menjadi seorang Kristen memang bukan merupakan jaminan bahwa seseorang tidak mungkin berbuat dosa lagi.  Namun, seorang Kristen menghadapi dosanya dengan cara berbeda.  Ketika seorang Kristen berdosa, dia akan bersandar kepada kasih karunia Allah, mengakui kesalahannya, bertanggung jawab atas akibatnya, dan menanggapi pengampunan yang Tuhan berikan dengan mengubah kelakuannya.                                        (Tw)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*