suplemenGKI.com

Seringkali sesuatu yang tampak kelihatan oleh mata akan lebih dapat dengan mudah kita percayai. Secara manusiawi kita cenderung lebih mempercayai apa yang kelihatan dari pada yang tidak kelihatan.
Ketika untuk beberapa lamanya Musa berada di atas gunung Sinai, dan bangsa Israel tidak mengetahui di mana keberadaannya, mereka meminta kepada Harun untuk membuat suatu allah yang akan memimpin mereka. Musa bagi bangsa Israel adalah sosok pemimpin yang dipilih Allah, memimpin mereka keluar dari tanah Mesir. Karenanya tanpa kehadiran Musa, mereka merasa tidak ada lagi yang akan berjalan di depan mereka (Kel 32 : 1).
Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya Allah sendirilah yang telah memimpin mereka selama ini. Allah yang memanggil mereka keluar dari tanah perbudakan Mesir dengan berbagai-bagai tanda ajaib. Mereka melupakan karya-karya ajaibNya di dalam memelihara mereka selama berjalan di padang gurun. Yang paling parah mereka kemudian percaya bahkan mempersembahkan korban kepada allah buatan tangan manusia, patung anak lembu emas (Kel 32 : 4-5).
Dari kisah di atas, mari kita bercermin kepada diri kita sendiri. Kita mengaku bahwa kita beriman kepada Tuhan namun seringkali kita menggantikan posisi Tuhan dengan ilah yang lain. Kita tidak lagi menggandalkan dan menempatkan Dia yang sebagai Tuhan yang harus ditaati, tetapi lebih berpaut kepada hal-hal lain yang menurut kita lebih dapat diandalkan.
Ibu Teresa pernah memberikan sekantong beras kepada seorang petani beragama Hindu yang sangat miskin di pinggir kota Kalkuta. Ibu Teresa heran melihat bahwa tidak lama kemudian petani itu membawa separuh dari kantong itu keluar rumah. Apa yang dilakukannya ? Ternyata petani itu memberikan sebagian dari berasnya kepada seorang petani yang lebih miskin.
Bila kita melihatnya melalui kaca mata iman Kristiani, bukankah adegan itu sungguh merupakan pengamalan yang riil dari ajaran Kristus mengenai mengasihi sesama. Terlepas dari keadaannya yang sangat miskin, petani itu tetap mau menjalankan prinsip mengasihi sesama. Dia lebih mementingkan melakukan dan taat akan perintah Tuhan dari pada menyimpan berasnya untuk dirinya sendiri. Petani itu menempatkan Tuhan yang tidak kelihatan lebih utama dari pada beras/materi yang kelihatan. Penghayatan yang demikian sungguh berdasar kepada kesadaran bahwa Tuhan adalah sumber berkat yang senantiasa memeliharanya sehingga dia tidak kuatir dan perlu berpaling atau mengutamakan yang lain.
Bagaimana dengan kita ? Beriman kepada ilah yang palsu kerap merupakan kelemahan kita. Apabila keadaan keuangan dan pekerjaan sedang tidak bagus, apakah kita tetap mempercayai Tuhan, tetap memberikan persembahan yang terbaik untuk Tuhan, tetap mengimani dan mengamini bahwa Tuhan adalah sumber berkat bagi kehidupan kita ? Ataukah sebaliknya, kita akan menyimpannya dan mengandalkannya untuk kepentingan kehidupan kita sendiri ?
Ada banyak ilah palsu di sekeliling kita : uang, harta benda, kekayaan, kedudukan, pangkat, kepandaian dan sebagainya, yang sering mengecoh kita. Hendaklah seperti nasihat rasul Paulus, janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur (Filipi 4 : 6). Dalam keadaan apapun, tempatkanlah Tuhan sebagai Allah yang dapat dipercaya. Dia adalah Allah yang hidup yang senantiasa mengasihi kita. Jangan memilih ilah yang salah. Amin.

(pbs/lw)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*