suplemenGKI.com

Kamis, 10 Februari 2011
I Kor 3: 1-9

Iri hati sering terjadi di sekitar kita, bahkan mungkin di dalam diri kita. Persoalan ini tidak jarang menimbulkan persoalan yang lebih besar dari yang seharusnya. Dalam I Kor 3:1-9, Paulus berusaha untuk membahas dan menyelesaikan isu perselisihan di dalam jemaat Korintus, yang pada awalnya didasari oleh rasa iri hati.

Ayat 1-3 : Bagaimana keadaan jemaat Korintus saat dikunjungi oleh Paulus ?
Ayat 4-5 : Apa isu perselisihan yang terjadi dalam jemaat Korintus ?
Ayat 6-9 : Siapa saja yang berperan dalam pertumbuhan sebuah jemaat?
Renungan :


Ketika mendengar perselisihan yang terjadi di jemaat Korintus, Paulus segera mengambil tindakan untuk mengirim surat penggembalaan kepada mereka dan berusaha untuk memberikan pengertian yang benar supaya mereka tidak larut dalam perselisihan itu.
Rupanya perselisihan yang terjadi dalam jemaat korintus ini dilatarbelakangi oleh adanya pengajar yang sedikit berbeda dengan Paulus, yaitu Apolos. Perbedaan yang sudah dilandasi dengan rasa iri (ay. 3), kemudian berkembang menjadi suatu perselisihan. Orang-orang yang mengidolakan Paulus menyebut diri sebagai “Golongan Paulus” sedangkan orang-orang yang mengidolakan Apolos menyebut dirinya sebagai “Golongan Apolos”. Masing-masing kelompok mengaku bahwa merekalah yang lebih baik dan benar.
Paulus memberikan penjelasan, ketika Paulus mengajar di Korintus, Paulus masih memperlakukan mereka seperti seorang yang belum dewasa secara iman dan belum cukup mengerti sehingga Paulus mengajar mereka dengan cara yang lebih mudah untuk dipahami. Sedangkan Apolos mengajar mereka dengan cara dan bahasa yang berbeda. Rupanya perbedaan ini yang menyulut adanya perselisihan. Kemudian Paulus berusaha menjelaskan bahwa baik Paulus atau Apolos tidak ada yang lebih antara satu dengan yang lainnya, sebab mereka memiliki peran masing-masing. Paulus menanam, sedangkan Apolos yang menyiram. Dan yang paling utama adalah Tuhan, yang telah memberikan kehidupan dan pertumbuhan kepada jemaat.
Perselisihan yang didasari oleh rasa iri hati ini, menunjukkan bahwa Jemaat Korintus saat itu juga belum dewasa secara iman. Warna kehidupan duniawi mereka masih lebih besar dibandingkan dengan warna kehidupan rohaninya. Hal ini juga menandakan bahwa relasi mereka dengan Tuhan juga kurang baik. Spiritualistas mereka masih belum cukup baik.Jika kita mengatakan bahwa kita mengasihi Tuhan, tetapi membenci Saudara kita, sesungguhnya kita tidak mengasihi Tuhan. Jika kita masih menunjukkan sikap yang tidak mengasihi sesama kita, berarti kita melawan Tuhan, sebab Tuhan menghendaki supaya kita mengasihi sesama.
Masihkah ada iri hati di dalam diri kita ? Jika kita mengasihi Tuhan, mari kita buang jauh-jauh sisa perasaan iri hati itu. Jangan biarkan rasa iri menggerogoti diri kita, membuat hati kita merasa cemburu, tidak nyaman, dan pada akhirnya kita akan melukai orang lain, dan terlebih lagi Tuhan, karena kita sudah mengecewakan-Nya.

Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang. Amsal 14:30

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

1 Comment for this entry

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*