Dalam kehidupan sehari-hari, kita diperhadapkan dengan berbagai budaya dan tradisi masyarakat. Bagaimanakah sikap orang Kristen berhadapan dengan budaya dan tradisi itu?  Dialog di bawah ini akan memaparkan pergumulan-pergumulan orang-orang Kristen ketika berhadapan dengan  budaya dan tradisi masyarakat. Anda tertarik untuk mengikutinya? Ambil dan Bacalah!

Tanya  : Apakah yang dimaksud dengan budaya  atau tradisi masyarakat ?

Jawab : Yang dimaksud dengan budaya dan tradisi masyarakat adalah upacara (ritus), perayaan adat yang berkaitan dengan  ritus kehidupan manusia serta falsafah hidup yang masih berkembang dan dilakukan masyarakat.

Tanya : Apakah iman Kristen anti budaya dan tradisi?

Jawab :  Sesungguhnya kehidupan manusia tidak bisa lepas dari budaya dan tradisi. Justru dalam budaya dan tradisi itulah manusia mengembangkan  kemanusiaan dan komunitasnya. Budaya dan tradisi menjadi  sarana bagi manusia untuk  memaknai alam, sesama dan TUHAN-nya. Bahkan iman itu sendiri tidak bisa dipisahkan dari budaya dan tradisi. Iman Kristen pun demikian.  Iman Kristen dipengaruhi budaya dan tradisi yang ada di sekitarnya  tetapi sekaligus juga menciptakan budaya dan tradisi baru. Iman dan budaya memang berbeda namun juga begitu menyatu dan saling tak terpisahkan, saling menghidupi. Jadi  kita tidak boleh anti budaya namun harus kritis terhadap budaya. Akan tetapi juga perlu berhati-hati, jangan mencampuradukkan iman Kristen dengan kepercayaan-kepercayaan lain. Tentu tradisi yang tidak mengandung unsur pemujaan kepada allah lain bahkan mengandung nilai-nilai solidaritas dan kemanusiaan perlu kita hargai dan terima. Bila perlu tradisi itu kita pakai dengan memberi makna baru yang lebih kristiani.

Tanya :  Terkait dengan ritus kehidupan manusia, ada upacara adat warisan leluhur di sekitar kelahiran, misalnya dalam budaya  Jawa, pada saat janin berusia 7 bulan, harus dilakukan upacara mitoni.  Apakah orang Kristen boleh melakukan upacara itu?

Jawab :  Untuk menjawab pertanyaan ini tentu kita harus memahami terlebih dulu apa makna dari upacara itu sehingga kita dapat mengetahui apakah perlu melakukannya. Upacara mitoni yang dilakukan pada saat janin berusia 7 bulan dimaksudkan untuk mengusir roh halus yang mau merebut anak yang masih ada dalam kandungan. Jadi ketika kita mau melakukan upacara itu bertanyalah pada diri sendiri apakah kita percaya bahwa kuasa roh jahat mampu merebut anak yang dalam kandungan? Bukankah iman Kristen mempercayai bahwa janin dalam kandungan  itu adalah ciptaaan TUHAN dan berada dalam kuasa TUHAN. Jika kita doakan setiap hari agar kuasa TUHAN selalu melindungi dan memberkati pertumbuhan janin tersebut, maka tentu tak ada kuasa lain yang bisa mengalahkan kuasa TUHAN.

Tanya :  Teman saya melakukan upacara mitoni dengan cara lain. Ia tidak melakukan upacara seperti tradisi masyarakatnya namun merayakan  moment 7 bulan kehamilan dengan mengadakan ibadah pengucapan syukur.  Apakah hal seperti itu diperkenankan iman Kristen?

Jawab :  Tradisi  mitoni memang bisa dipakai untuk mengumpulkan sanak keluarga dalam rangka merayakan  7 bulan kehamilan.  Tentu boleh saja jika motivasinya adalah untuk mengucap syukur kepada TUHAN yang telah menyertai dan terus menyertai kehamilan dan kehidupannya. Akan tetapi persoalannya adalah mengapa untuk mengucap syukur menunggu  saat 7 bulan kehamilan?

Tanya :  Terkait ritus di sekitar kematian, ada banyak tradisi yang juga masih dijalankan masyarakat ataupun keyakinan-keyakinan yang dipercaya mayarakat. Misalnya kepercayaan bahwa arwah yang masuk ke alam baka dan berkumpul dengan alam leluhur akan melindungi dan memberkati  orang-orang yang ditinggalkannya.  Sebaliknya arwah yang tidak diantar ke alam maut akan gentayangan mengganggu bahkan membunuh orang yang melalaikannya.  Bolehkah kita melakukan upacara atau selamatan 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari dan 1000 hari. Bolehkah pula melakukan  upacara tsing bing (ziarah kubur, nyadran) yang diadakan satu tahun sekali di pekuburan?

Jawab :  Tentang hal ini sebenarnya sudah pernah dibahas dalam “Ambil dan Bacalah” edisi ke-14. Upacara atau selamatan berdasarkan hitungan hari itu sungguhnya terkait dengan pandangan yang mengatakan bahwa pengembaraan arwah dari saat  menghembuskan nafas terakhir sampai menuju alam baka memakan waktu yang lama itulah sebabnya diperlukan korban, sesajen, tolak bala dan doa-doa khusus.  Orang Jawa melaksanakan ritus tolak bala itu dengan isilah “selametan”. Sedangkan upacara tsing bing (ziarah kubur, nyadran) dilakukan dalam rangka sembahyang kepada nenek moyang untuk mendapatkan berkat dan rejeki serta perlindungan dan kesehatan.  Jelaslah bahwa dasar keyakinan di balik upacara-upacara itu berbeda dengan pemahaman iman Kristen. Iman Kristen percaya bahwa ketika manusia mati, ia meninggalkan dunia ini dan sudah tidak dapat mempengaruhi  manusia lain yang masih ada di dunia ini. Orang hidup dan orang mati berada di alam yang berbeda.  Mereka yang sudah mati tidak bisa mengganggu manusia yang hidup.  Roh orang mati tidak dapat memberikan berkat atau rejeki serta perlindungan dan kesehatan. Hanya TUHAN-lah sumber hidup dan penguasa hidup manusia sehingga hanya DIA-lah sumber berkat, perlindungan dan kesehatan.

Tanya :  Apakah ritus-ritus warisan leluhur sama sekali tidak mendapat tempat dalam iman kristen?

Jawab :  Jika kita perhatikan  dalam semua ritus tersebut tercermin kerinduan manusia yang mencari keselamatan dan ingin mendapatkan berkat. Sesungguhnya hal ini merupakan kerinduan semua umat manusia, termasuk orang Kristen. Akan tetapi ada perbedaan mendasar yaitu mengenai cara mendapatkan keselamatan dan berkat. Kerinduan untuk mendapatkan keselamatan yang ada dalam pelaksanaan ritus-ritus tersebut,  berbeda dengan pandangan iman kristen. Kita percaya bahwa keselamatan yang kita dapatkan adalah anugerah TUHAN, bukan karena kebaikan atau upacara-upacara yang dilakukan manusia. TUHAN-lah sumber keselamatan dan berkat.  Di sisi lain kita juga menyadari bahwa dalam pelaksanaan ritus-ritus tertentu ada nilai-nilai solidaritas dan  kemanusiaan yang menonjol. Tentu yang seperti ini bisa kita adopsi dengan memberi makna yang baru.

Tanya :  Jadi, apakah pegangan kita untuk menilai apakah tradisi masyarakat bertentangan dengan iman Kristen atau tidak?

Jawab :  Yang jelas kita mesti mencari tahu apa makna dari tradisi itu,  dan apakah mengundung unsur pemujaan kepada ilah lain? Apakah merendahkan kemanusiaan? Apakah mengandung unsur-unsur diskriminatif? Tentu jika semua pertanyaan itu dijawab ya, maka berarti tradisi tersebut bertentangan dengan iman Kristen. Ingatlah Rasul Paulus memberikan peringatan : “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.” (Kol.2:8).

Tanya :  Lalu bagaimana dengan perayaan Imlek? Apakah orang Kristen boleh merayakan Imlek?

Jawab :  Kita mengetahui bahwa ada dua aspek budaya dalam perayaan Imlek, yaitu pertama sebagai ‘budaya sosial’ dan kedua sebagai ‘budaya religi’. Sebagai budaya sosial, kita melihat Imlek dirayakan sebagai tahun baru menyambut musim semi dan mulai menanam padi dalam konteks kehidupan sosial masyarakat agraris dimana diadakan perayaan bersama yang dihadiri segenap keluarga maupun bangsa. Dalam hal ini tentu tidak ada salahnya kalau seorang beriman  Kristen ikut serta merayakan Imlek bersama keluarganya.

Sebagai ‘budaya religi’, perayaan Imlek sudah dicampuri dengan penyembahan dewa-dewi dengan meja sembahyang, dan juga ritus pengorbanan animisme (sam seng). Imlek biasa dirayakan secara religi di Kelenteng maupun Vihara. Dalam perayaan Imlek yang bersifat religi ini, wanita dilarang ikut serta dan hanya bisa diikuti oleh kaum laki-laki sebagai konsekwensi keyakinan supremasi unsur ‘Yang’ atas unsur ‘Yin’. Di sini kita melihat bahwa Imlek religi ini digunakan untuk menyembah dewa-dewi (dan bukan Allah) dan jelas merupakan penyembahan ilah lain. Lagi pula, perayaan Imlek religi ini juga melecehkan kemanusiaan dimana kaum wanita direndahkan. Karena itu jelas, seseorang beriman dapat ikut merayakan Imlek selama sifatnya perayaan sosial-budaya dan kesempatan Imlek budaya sosial ini dapat digunakan sebagai kesempatan untuk menyaksikan iman Kristen di hadapan keluarga, namun bila itu sudah menyangkut budaya religi, sepatutnyalah umat Kristen tidak terlibat di dalamnya.

Tanya :  Apakah orang Kristen boleh  mengundang ‘Barongsai’ ke rumah atau ke gereja ?

Jawab :  Sebagai sebuah seni tari,  barongsai boleh kita tonton. Akan tetapi patut diingat  bahwa barongsai  juga adalah permainan magis karena wajah barongsai merupakan magisasi bentuk binatang ‘singa’ atau ‘kilin’ dan dimainkan oleh para ahli silat yang mempelajari mistik dan magis (pengolahan tenaga batin chi). Barongsai biasa disimpan di kelenteng atau vihara dan disembayangi dengan dupa/hio, dan sebelum bermain, para pemainnya berdoa tao/buddhis untuk mohon berkat. Selanjutnya, barongsai digunakan untuk mengusir roh-roh jahat yang ada di kamar-kamar rumah atau gedung.  Barongsai sebagai permainan magis seperti ini tentunya tidak  sesuai iman Kristen.

Tanya :  Lalu bagaimana dengan falsafah yang berkembang di masyarakat seperti takdir dan  hal-hal magis ? Bagaimanakah pandangan iman Kristen akan hal itu?

Jawab :  Kita akan membahas topik itu dalam Ambil dan Bacalah edisi mendatang. Nantikanlah!

————————————

Sumber:

1.       Sumartono, Edy, makalah Ajaran GKI tentang Budaya dan Tradisi Yang  Ada Di Tengah Masyarakat.

2.       http://www.yabina.org/TanyaJawab/Feb_02.htm

“Ambil dan Bacalah” Edisi ke-41  Agustus  Tahun 2010
G K I  R e s i d e n  S u d i r m a n  S u r a b a y a

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*