suplemenGKI.com

“Ambil dan Bacalah” Edisi ke-14 Bln Mei Tahun 2008
G K I R e s i d e n S u d i r m a n S u r a b a y a

Iman Kristen & Seputar Tradisi Kematian Ada banyak pergumulan orang Kristen tentang bagaimana hidup beriman di tengah tradisi atau budaya yang sudah lama menyatu dalam kehidupannya. Misalnya apakah Anda memiliki pergumulan iman di seputar tradisi kematian? Jika ya, silakan mengikuti dialog antara seorang anggota jemaat, sebut saja namanya Mey dan pendetanya dalam tulisan berikut ini.

Ambil dan Bacalah!

Mey : Masyarakat sekitar saya memiliki tradisi slametan (selamatan) untuk memperingati dan mendoakan arwah orang yang sudah meninggal yang biasanya dilakukan pada hari pertama kematian hingga hari ketujuh, pada hari ke-40, ke-100, ke satu tahun pertama, kedua hingga hari ke 1000. Apakah dalam kekristenan juga ada tradisi seperti itu? Bolehkah saya juga mengadakan peringatan 100 hari meninggalnya ibu saya?

Pendeta : Tradisi peringatan, 7 hari, 40 hari, 100 hari dan seterusnya bukanlah tradisi kristiani. Dalam masyarakat Jawa, tradisi perhitungan hari seperti itu memiliki makna tersendiri. Misalnya adanya penghayatan bahwa arwah masih berada di sekitar rumah, karena itu harus didoakan (Jw: dislameti ) agar tidak menjadi arwah penasaran dan diterima di sisi Tuhan. Sedangkan iman Kristen memahami bahwa orang yang sudah meninggal ada di tangan TUHAN. Kita mendoakan dan memberikan perhatian padanya ketika dia ada di dunia ini. Jadi kita tak perlu mengadakan doa untuk memperingati orang yang meninggal dalam hitungan 7 hari, 40 hari, dst.

Mey : Tapi, bukankah tidak mudah untuk meninggalkan tradisi yang sudah menyatu dalam kehidupan kita dan masyarakat? Ada teman saya yang tetap memakai tradisi slametan itu dan mengisinya dengan doa penghiburan. Bolehkah pada hari ke-7, ke-40, ke-100 dst meminta pelayanan kebaktian doa penghiburan bagi keluarga yang berduka?

Pendeta : Orang Kristen tidak boleh hidup larut dalam dukacita. I Tesalonika 4:13-14 mengingatkan agar orang-orang Kristen tidak berduka seperti orang yang tidak punya pengharapan karena setiap orang yang meninggal dalam iman kepada TUHAN YESUS, maka ia akan dikumpulkan bersama dengan TUHAN. Dengan demikian untuk apa orang Kristen berduka terlalu lama? Boleh berduka dan merasa kehilangan anggota keluarga yang kita kasihi tapi jangan terlalu lama sebab orang Kristen yang meninggalkan dunia telah berada di pangkuan BAPA. Kalau sampai 7 hari, 40 hari, 100 hari, setahun bahkan 1000 hari masih berduka berarti dia tidak hidup dalam iman dan pengharapan kepada TUHAN YESUS KRISTUS.

Mey : Jadi apakah tidak boleh sama sekali mengadakan doa peringatan dalam hitungan hari-hari tersebut?

Pendeta : Memang kadang-kadang masih ada anggota jemaat yang meminta pelayanan bidston (kebaktian doa) pada hitungan hari-hari tersebut. Kalau pun gereja melayani permintaan kebaktian doa tersebut maka isi dan maknanya berbeda, bukan untuk mendoakan arwah tapi merupakan kebaktian syukur karena keluarga terus disertai TUHAN walaupun ada anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Kebaktian itu diadakan untuk menguatkan iman keluarga dan mengajak keluarga mensyukuri kasih TUHAN. Namun sesungguhnya untuk bersyukur tidak perlu memakai hitungan hari-hari tertentu. Kita bersyukur setiap hari.

Mey : Oke, saya mengerti sekarang. Bolehkah selanjutnya saya mengajukan pertanyaan untuk masalah yang lain? Saya juga sering melihat orang memecah semangka, melepas burung merpati atau ayam menjelang pemberangkatan jenazah ke pemakamam. Apakah hal ini diperbolehkan?

Pendeta : Kita perlu tahu apa arti ritual itu. Kadang-kadang ada orang yang melakukan ritual seperti itu tanpa tahu apa artinya. Dalam pemahamannya, ia akan mendapatkan celaka kalau tidak melakukannya. Jika maksud ritual itu adalah untuk melepas nasib sial yaitu agar kematian tidak melanda keluarga lagi, tentu itu tidak cocok dengan pemahaman iman kita. Bukankah iman Kristen mengajarkan bahwa ada TUHAN yang berkuasa atas hidup dan mati kita? Bagi orang Kristen, kematian bukan akhir dari segalanya melainkan awal dari kehidupan kekal bersama TUHAN. Jadi kalau kita hidup beriman Kristen, tak perlu takut menghadapi kematian dan seharusnya percaya bahwa orang mati tidak akan dapat mempengaruhi keselamatan orang yang hidup. Keselamatan kita di tangan TUHAN. Dan dengan demikian, ritual-ritual seperti itu tak ada gunanya bagi orang Kristen.
Mey : Bagaimana dengan penghormatan di depan peti jenazah? Apakah kalau kita datang ke rumah duka diperbolehkan mengangkat hio untuk melakukan penghormatan terhadap jenazah?
Pendeta : Sebenarnya kalau yang dimaksud adalah menghargai dan menghormati orang yang sudah meninggal yang jenazahnya ada di depan kita, boleh-boleh saja. Namun yang lebih penting adalah menghormati dan menghargai orang yang masih hidup, sebab yang meninggal tidak akan tahu penghormatan kita. Hio dihayati sebagai apa? Jika mengangkat hio dihayati sebagai sebuah pemujaan terhadap arwah, tentunya jangan lakukan, sebab orang kristen hanya memuja TUHAN. Tapi kita juga dapat mengangkat hio dan mengangguk hormat di depan peti jenazah itu dalam penghayatan sebagai sebuah bentuk tindakan kesopanan (etiket) untuk menghormati jenazah yang ada di depan kita dan penghormatan terhadap keluarga yang sedang berduka. Namun, sopan santun (etiket) penghormatan dalam makna seperti itu tentunya juga bisa dilakukan tanpa hio, jika memang hio berkonotasi dengan pemujaan terhadap arwah.
Mey : Kalau begitu apakah orang Kristen boleh melakukan penghormatan terhadap arwah nenek moyang?
Pendeta : Dalam konteks budaya Cina ada konsep hao yang mengajarkan hormat atau bakti terhadap orang tua. Ajaran hormat atau bakti terhadap orang tua juga ada dalam iman Kristen. Namun hormat dan bakti terhadap orang tua mestinya dilakukan semasa mereka masih hidup di dunia ini. Jika mereka telah meninggalkan dunia ini maka arwahnya tidak dapat mempengaruhi kehidupan kita. Jadi hormatilah orang tua semasa hidupnya, dan jangan puja arwahnya. Dalam budaya Cina orang tua bukan hanya dihormati ketika masih hidup tapi arwahnya pun dihormati bahkan dipuja karena dianggap dapat mempengaruhi kehidupan keturunannya di dunia ini. Akibatnya yang terjadi adalah penyembahan kepada roh nenek moyang yang dipandang mampu memberikan berkat dan kebahagiaan kepada keturunannya. Dalam konsep Kristen, kebahagiaan dan berkat asalnya dari TUHAN karena itu hanya TUHAN yang patut dipuja dan disembah.
Mey : Dengan semua penjelasan tadi, jadi bagaimanakah sikap iman Kristen terhadap tradisi/budaya?

Pendeta : Untuk dapat menentukan sikap terhadap tradisi/budaya, kita perlu terlebih dahulu menyadari bahwa sesungguhnya untuk sampai kepada manusia, Injil selalu membutuhkan wahana budaya. Di pihak lain kita juga harus menyadari dua hal, pertama bahwa Injil tidak pernah identik dan dikuasai seluruhnya oleh budaya. Jadi walaupun Injil selalu terikat oleh budaya namun Injil juga senantiasa merupakan kritik terhadap budaya. Kedua, kebudayaan juga tidak pernah merupakan wahana yang netral bagi Injil yang dikandungnya. Maksudnya kebudayaan senantiasa memberikan tafsiran dan pemahaman tertentu kepada Injil. Injil dan kebudayaan bagaikan darah dan daging – berbeda namun juga begitu menyatu dan saling tak terpisahkan, saling menghidupi. Jadi sekali lagi kita tidak boleh anti budaya namun harus kritis terhadap budaya. Tapi juga perlu berhati-hati, jangan mencampuradukkan iman Kristen dengan kepercayaan-kepercayaan lain.
Mey : Baiklah, trimakasih atas semua penjelasannya. Semoga saya semakin mampu bersikap tepat dalam hidup beriman di tengah keseharian tradisi dan budaya yang ada dalam masyarakat.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

6 Comments for this entry

  • ny. Youke says:

    Hampir setahun ini hidupku dalam kekalutan dan air mata rindu , karena anak saya di jemput Tuhan ketika kami tidak siap ditinggal. ( anak kami Tuhan sdh berkati ketika menjalankan operasi usus, dan ketika semingu di rumah, tiba2 anak kami pingsan dan ….) Selama ini saya mencoba dan berusaha tegar dengan mengisi kesibukan, sambil bergumul dalam doa. Dalam permohonan itu saya memohon kepada Tuhan Yesus : “Kiranya Tuhan Yesus mengkuatkan kami dan memohon belas kasih dan kuasa Tuhan Yesus supaya anak kami dikembalikan” , saya percaya Tuhan Yesus sanggup melakukan itu ! FirmanNya “ya” dan “amin” MujizatNya tidak pernah berhenti (saya seorang berpendidikan teologi bahkan sampai S2) Kenyataan saya tidak atau belum bisa melupakan begitu saja. Sering saya menangis merindukannya. Bahkan saat ini ketika saya membaca artikel ini , saya masih dalam kerinduan n angisku mengiringi pengetikan ini. Saya mohon tanggapan n dukungan doa disertai ayat Firman Tuhan ya. Terima kasih Kiranya tuhan yesus menolong saya amin

  • naning says:

    Ibu Youke yang saya kasihi,
    kami ikut kehilangan anak ( putra/putri?) Ibu.
    memang tidak mudah untuk berpisah dengan anak terkasih. Saya tahu ini merupakan pergumulan iman yang tidak mudah. Apa yang Ibu alami, sepertinya mirip dengan peristiwa yang dialami Ayub manakala kehilangan anak-anaknya. Lihat Ayub 1:21. Saat itu Ayub berkata: “TUHAN yang memberi dan TUHAN yang mengambil, terpujilan nama TUHAN”. Saya kira dalam cerita itu Ayub pasti bergumul berat, namun dia mengimani bahwa kalau mengakui TUHAN sebagai satu-satuNya Penguasa kehidupan dan sumber kehidupan, maka apa pun yang terjadi dalam hidup ini ada dalam kekuasaan ALLAH. Anak adalah pemberian TUHAN, DIA tahu yang terbaik untuk miliknya. Bukankah orang tua hanya dititipi anak oleh TUHAN? Jadi jika Sang Pemilik kehidupan anak Ibu berkenan memanggil pulang, maka sekalipun Ibu sangat mencintai DIA, yakinlah bahwa Sang Pemilik kehidupan juga sangat mencintai dia, sehingga dia aman dalam rangkulan TUHAN Sang pemilik kehidupannya. I Tesalonika 4:13-14, mengajak kita untuk tidak larut dalam duka, karena kita beriman bahwa kematian bukan akhir dari sebuah kehidupan. ada kehidupan baru, ada kebangkitan yang TUHAN YESUS janjikan untuk setiap orang yang mempercayakan hidup kepada-Nya. Jadi saya memahami bahwa kematian mengantar anak Ibu untuk memasuki kehidupan baru yang lebih baik yang telah TUHAN sediakan.

    Rasa cinta kita kepada anak mestinya untuk kebaikan anak itu. Karena itu saya mengajak Ibu untuk meyakini bahwa TUHAN mengerti bahwa Ibu sangat mencintai anak Ibu dan justru karena itu TUHAN ingin Ibu yakin bahwa TUHAN memberikan yang terbaik untuk anak Ibu.

    Jadi sekali lagi keterikatan batin dan kasih sayang antara Ibu dan anak mestinya ditempatkan dalam iman dan pengharapan pada TUHAN, Sang Empunya kehidupan yang terus bekerja dalam kehidupan ini.

    Ibu Youke, saya yakin Ibu memahami hal itu, akan tetapi sering kali kedukaan yang mendalam membuat kita lebih berfokus pada rasa. Proses waktu akan membuat Ibu lebih tegar jika Ibu terus berjuang untuk berpengharapan pada TUHAN.

    TUHAN melihat setiap tetes air mata Ibu. Dan pasti DIA sekarang sedang merangkul Ibu untuk menguatkan Ibu.

    Saya doakan Ibu makin kuat dan merasakan penghiburan dan pengharapan dari TUHAN. TUHAN selalu bserta Ibu dan keluarga.

    Salam dan doa,

    Pdt naning

  • jefrison says:

    saya khilangan mama yang sangat mengasihi saya…
    pak pdt,saya maw menanyakan gimana cara saya membalas budinya?
    apakah doa buat mama berguna?
    jika di islam,”doa kpd org tua yg tela meninggal,adalah hadiah yang mereka tunggu”

    thanks

  • andy Liu says:

    Menanggapi tentang pernyataan perayaan kematian karena saya juga baru kehilangan nenek saya. Saya sungguh dekat dengan dia, karena dulu waktu kecil saya sempat diasuh dia. Menurut saya peringatan hari kematian(remembrance) itu adalah baik sekali. Itu adalah sarana untuk mengingat kembali orang yang telah meninggal (remembrance) dan refleksi kehidupan bagi orang yang ditinggalkan. Kita keluarga mengadakan kebaktian 100 hari dan kita mengunjungi kubur nenek saya. Memang sih kita tidak percaya akan hitungan tersebut, tapi kita cuman pakai adat Tionghoa untuk memperingatinya. Banyak saudara saya yang ngak pernah ke gereja/non Kristen malah jadi menghargai gereja melalui peristiwa ini. Sehingga mereka tahu bahwa kita orang gereja/Kristen tidak melupakan jasa orang tua kita meskipun sudah tidak ada. Sebenarnya orang Kristen merayakan natal sebenarnya bukan tradisi Kristen, malah itu sebenarnya tradisi dari penyembahan berhala. Tapi kita orang Kristen menggunakan natal untuk menyembah Tuhan dan mewartakan kabar injil melalui perayaan natal. Perlu diingat kalau kita mengadakan peringatan kematian, kita bukan berdoa kepada orang mati tapi hanya mengingat akan hidup dan jasanya kepada kita. Kita hanya berdoa kepada Tuhan. Kita bisa mengdakannya dengan kumpul keluarga (makan bersama) dan mengunjungi makam.

  • andy Liu says:

    Saudara Jefrison, tentu boleh saja berdoa untuk mengenang mama anda. Di Alkitab tidak ada larangan berdoa untuk orang yang meninggal, tetapi kita tidak berdoa kepada orang yang meninggal. Kita boleh mengenang dengan hormat saudara kita yang sudah tidak ada.

  • angelphard says:

    Saya dalam pergumulan seputar peringatan kematian papa saya yang setahun. Papa saya meninggal mendadak disaat belum ada persiapan untuk itu. Papa saya saat itu masih beragama Budha, tapi sedikitnya tahulah sedikit doa katolik & juga ada kalung rosario (pernah dikenalkan oleh adiknya). Sewaktu sakitnya,saya sudah bilang untuk dibaptis,kata papa saya, “nanti ajalah”. Tapi siapa yang tahu bbrp hari kemudian, papa saya meninggal…. di rumah sakit sewaktu dalam penanganan dokter. Mungkin stress, karena papa saya tdk pernah ke rumah sakit dalam hidupnya.
    Sewaktu meninggal/7hari/40hari/100hari pun kami doakan secara agama Katolik. Namun ada juga yang bilang tidak boleh seperti itu. Nah sekarang, untuk acara peringatan setahun ini, bagaimana ? Tolong pak pendeta untuk pencerahannya. Tx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*