suplemenGKI.com

Rabu, 16 November 2011

Mazmur 95:1-7a

Mazmur ini mengungkapkan nyanyian syukur umat yang datang beribadah kepada TUHAN. Umat datang beribadah dan disambut oleh pelayan Bait ALLAH dengan sapaan berbalasan.
Pendalaman Teks Alkitab

1. Siapakah TUHAN bagi umat Israel? (ayat 3-5, 7)
2. Siapakah TUHAN bagi Saudara?
3. Langkah konkret apa yang perlu dilakukan untuk menghormati dan memuliakan TUHAN ?

Renungan

Dalam Mazmur 95 digambarkan tentang umat yang dipanggil untuk datang ke bait ALLAH, tempat dimana kekuasaan YAHWE diperlihatkan. Pemazmur mengungkapkan tentang kekuasaan TUHAN dalam ciptaan-Nya.
Dengan indah Pemazmur menuliskan kekuasaan YAHWE yang mengatasi segalanya. Dengan kuasa-Nya diperlihatkan kuasa YAHWE yang mengatur dunia ini dengan baik. TUHAN menempatkan unsur-unsur berpasangan yang membangun dunia: kedalaman bumi dan ketinggian gunung-gunung, lautan dan daratan. Bahkan bukan hanya itu, kekuasaan YAHWE juga nyata dengan penciptaan Israel sebagai kawanan yang istimewa.

Umat yang datang ke Bait Suci mengungkapkan rasa syukur dan terimakasih yang mendalam karena Yahweh sudah menjadi gunung batu keselamatan bagi mereka. Hidup mereka terjamin dan terlindung penuh. Itu bukan basa-basi atau formalitas liturgis belaka melainkan kesaksian berdasarkan pengalaman hidup mereka. TUHAN sudah menjadi Gembala yang baik bagi mereka. Tak ada hal lain yang bisa mereka lakukan kecuali bersyukur dan berlutut menyembah DIA.

Kesadaran akan betapa besarnya kekuasaan TUHAN dalam seluruh kehidupan ini membuat kita akan selalu bersyukur, memberikan hormat dan kemuliaan bagi TUHAN. Bagaimanakah sikap yang tepat dalam menaruh hormat dan kemuliaan TUHAN? Ada orang yang begitu bersemangat memuliakan TUHAN dengan bersorak-sorai dan bersukacita memuji-muji TUHAN. Dengan penuh semangat orang menyanyi:” Mulia, sembah raja Mulia”. Atau menyanyi : “Sungguh kubangga Bapa punya ALLAH seperti engkau”.Tapi cukupkah itu? Memiliki TUHAN yang Maha mulia memang membanggakan, namun kebanggaan itu harus dibarengi dengan kerendahan hati dan tahu diri. Inilah kesadaran diri sebagai umat yang siap memuliakan TUHAN dengan sikap hidup sehari-hari.

Hormat dan kemuliaan yang kita haturkan bagi TUHAN, Sang Gembala kita, mesti berwujud nyata dengan menjaga dan mengupayakan kehidupan yang menunjukkan martabat kemuliaan TUHAN. Bila kita hidup sembarangan, tidak menjaga kekudusan hidup, merusak kehidupan ini, melecehkan sesama, menghina dan merugikan sesama, sesungguhnya kita sedang merendahkan kemuliaan ALLAH.

Seorang teolog yang bernama Ireneus, pada abad pertama pernah berkata: Gloria Dei, Homo Vivens. Artinya ALLAH dimuliakan ketika manusia hidup sebagai manusia. Maka sesungguhnya apabila manusia tidak hidup sebagai manusia yang manusiawi, tidak hidup sebagai gambar dan rupa ALLAH yang penuh kasih , maka ia tidak memuliakan ALLAH. Sesungguhnya jika kita bersikap tidak memanusiakan manusia, maka kita tidak memuliakan ALLAH. ALLAH, Sang Gembala dimuliakan apabila manusia yang memuliakan Tuhan berani hidup menggembalakan sesama dengan kasih, dan penuh penghargaan.

Kemuliaan Allah hanya bisa diakui ketika kita memperjuangkan kehidupan manusia agar manusiawi.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«