suplemenGKI.com

 

Bendera Merah Putih

Ambil & Bacalah! Edisi 5. Agustus 2007. Departemen Pengajaran

Salam merdeka bagi semua! Di bulan Agustus ini, kita bangsa Indonesia bersukacita merayakan hari kemerdekaan yang ke-62. Dekorasi merah putih juga mewarnai gereja kita. Hal ini menandakan bahwa kita mengambil bagian dalam perayaan kemerdekaan. Mengapa GKI ikut merayakan/ memperingati hari kemerdekaan bangsa Indonesia? Ada orang Kristen yang berpandangan bahwa gereja tak perlu ikut-ikutan merayakan kemerdekaan bangsa karena peringatan kemerdekaan tidak berkaitan dengan hal-hal rohani atau peribadahan. Bagaimanakah pendapat Anda? Hal ini tentunya tak dapat dipisahkan dari penghayatan tentang hubungan gereja dan negara. Dialog berikut ini akan memandu kita untuk merenungkan kembali hubungan gereja dan negara. Ambil dan Bacalah!

Mengapa ada peringatan kemerdekaan Indonesia di GKI ?

Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu memahami apakah gereja itu? Dalam mukadimah tata gereja GKI dikatakan bahwa gereja adalah persekutuan yang esa dari orang-orang beriman kepada TUHAN YESUS KRISTUS –TUHAN dan JURUSELAMAT dunia- yang dengan kuasa ROH KUDUS dipanggil dan diutus ALLAH untuk berperan serta dalam mengerjakan misi ALLAH yaitu karya penyelamatan ALLAH di dunia. Dalam rangka berperan serta mengerjakan misi ALLAH, gereja melaksanakan misinya. Misi gereja dilaksanakan oleh seluruh anggota gereja dalam konteks masyarakat, bangsa dan negara di mana gereja ditempatkan. Ini berarti bahwa keberadaan gereja tidak dapat dilepaskan dari masyarakat sekitarnya. Gereja ditempatkan TUHAN di tengah dunia dan diutus ke dalam dunia. Dengan demikian gereja menjadi bagian dari kehidupan di dunia ini. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, maka sudah selayaknyalah kita (GKI) ikut bersukacita merayakan kemerdekaan bangsa ini. Apa yang dirasakan oleh bangsa ini, juga gereja rasakan, termasuk segala duka, persoalan maupun sukacita dan kebahagiaan. Gereja menjadi bagian dari bangsa Indonesia yang memperjuangkan kemerdekaan, bersyukur atas kemerdekaan bangsa ini dan mengisi kemerdekaan ini dengan penuh tanggung jawab.

Apakah itu berarti kehidupan gereja dan kehidupan negara dapat dicampurkan menjadi satu? Bagaimanakah GKI memahami keberadaan dirinya sebagai gereja di Indonesia?

Sebagai gereja di Indonesia, GKI mengakui bahwa gereja dan negara memiliki kewenangan masing-masing yang tidak boleh dicampuri oleh yang lain, namun keduanya adalah mitra sejajar yang saling menghormati, saling mengingatkan dan saling membantu. Dalam penghayatan yang seperti itu, pada dasarnya GKI mengakui bahwa negara dan gereja adalah dua lembaga yang berasal dari ALLAH yang mempunyai tugas panggilan dan kewenangannya masing-masing. Karena itu gereja tidak boleh mencampuri langsung atau mengambil alih wewenang negara. Sebaliknya negara tidak boleh membatasi kebebasan gereja dalam menyatakan diri dan menjalankan fungsinya. Namun demikian negara dan gereja harus hidup saling berdampingan, membina hubungan baik dan saling bekerjasama.

Apakah yang dapat dilakukan GKI dalam rangka kerjasamanya dengan negara?

Dalam kebersamaan yang dijiwai oleh iman Kristiani serta semangat persatuan dan kesatuan bangsa, selain bekerjasama dan berdialog dengan gereja-gereja lain, GKI membuka diri untuk bekerjasama dan berdialog dengan pemerintah, serta kelompok-kelompok yang ada di dalam masyarakat, guna mengusahakan kesejahteraan, keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sebagai mitra bangsa, bagaimanakah partisipasi GKI dalam pembangunan nasional?

GKI mendukung, terlibat dan berpartisipasi penuh dalam pembangunan nasional oleh karena GKI memahami pembangunan nasional sebagai upaya sengaja dan terencana untuk mewujudkan kehidupan bangsa Indonesia yang lebih baik dalam arti seluas-luasnya dan sepenuh-penuhnya. Dukungan, keterlibatan dan partisipasi tersebut harus diwujudkan dengan sikap positif, kreatif, kritis dan realistis. Positif artinya terbuka terhadap hal yang baik; kreatif artinya dalam kuat kuasa Roh Kudus terlibat secara aktif dalam usaha-usaha pembaruan; kritis artinya melihat segala sesuatu dalam terang Firman ALLAH; realistis artinya sadar akan waktu dan batas-batas kenyataan dan tidak terbawa oleh impian kosong.

Bagaimana tentang kewajiban membayar pajak? Apakah orang-orang Kristen perlu mendukung pemerintah dalam menerapkan sistem pajak?

TUHAN YESUS pernah mengemukakan pendapatnya terkait dengan pembayaran pajak. Dalam Matius 22:21b, Markus 12:17, Lukas 20:25, TUHAN YESUS mengatakan “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada ALLAH, apa yang wajib kamu berikan kepada ALLAH. “ Ayat Firman TUHAN ini dengan jelas menyatakan bahwa pemerintah atau penguasa berhak memungut pajak dari rakyatnya. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma, mengaitkan pungutan pajak dengan tugas panggilan pemerintah. Dalam surat Roma 13:1-7, dikatakan bahwa pemerintah adalah hamba ALLAH untuk kebaikan rakyat yang diperintahnya. Oleh karenanya orang harus takluk kepada pemerintah, sebab pemerintah dan para petugas pajak adalah pelayan-pelayan ALLAH. Dari hasil pungutan pajak tersebut pemerintah melaksanakan tugasnya yang ditetapkan oleh ALLAH bagi kebaikan dan keamanan rakyatnya. Maksud adanya pungutan pajak adalah supaya pemerintah dapat menunaikan tugasnya dengan baik, sebagaimana mestinya dan tujuannya adalah supaya rakyat yang diperintahnya dipelihara dan dilindungi dengan baik sebagaimana ALLAH melindungi umat-Nya. Maka sungguh celaka dan merupakan kejahatan jikalau pemerintah atau petugas pajak memanfaatkan pajak yang dipungutnya dari rakyat untuk kepentingan dirinya semata. Semua pajak harus dapat dipertanggungjawabkan terhadap ALLAH dan mereka yang dikenai pungutan pajak. Jika maksud dan tujuannya adalah menuruti rencana dan kehendak TUHAN, maka pelaksanaannya juga harus sesuai dengan norma-norma yang ditetapkan TUHAN. Sebagai orang percaya dan sebagai gereja kita mendukung sepenuhnya pungutan pajak. Dengan mendukung pungutan pajak oleh pemerintah berarti kita mendukung upaya pemerintah dalam memelihara dan melindungi rakyatnya untuk memperoleh suatu kehidupan yang baik dan aman. Kita percaya bahwa hal itu akan benar-benar terlaksana dengan baik jikalau pelaksanaannya mengikuti norma-norma yang ditetapkan TUHAN. Maka jikalau pemerintah dan para petugas pajak melaksanakan tugas mereka secara baik, adil dan benar, juga dalam memanfaatkan hasil pungutan pajak dari rakyat, maka TUHAN pasti campur tangan dan memberkati dengan keberhasilan, sehingga rakyat hidup damai, aman dan sejahtera. TUHAN YESUS KRISTUS datang ke dunia ini untuk menciptakan kehidupan damai sejahtera di tengah umat manusia yang diperkenan oleh ALLAH. Maka jika IA membenarkan pajak tentunya adalah dalam rangka mewujudkan kehidupan damai sejahtera tersebut.

Sejalan dengan hal itu, membayar pajak perlu dibudayakan. Jikalau dahulu dalam masa penjajahan, pajak dipungut dan dimanfaatkan oleh si penjajah, bahkan dimanfaatkan oleh negara penjajah sehingga menimbulkan rasa antipati sebagai upaya pemerasan, maka di negara merdeka seperti Indonesia yang kita cintai dan diperintah oleh bangsa kita sendiri, bayangan seperti itu haruslah dikoreksi dan diperbarui. Warga gereja sebagai bagian dari masyarakat bangsa Indonesia mestinya rela membayar pajak. Sebaliknya juga diperlukan tanggungjawab dari pemerintah dan para petugas pajak. Tanggungjawab dari kedua belah pihak sangat diperlukan, dengan demikian dihindarilah upaya rakyat untuk memalsukan atau menyelundupkan pajak, dan dihindarilah upaya petugas pajak untuk memeras rakyat secara tidak adil demi keuntungannya sendiri. Oleh karenanya betapa pentingnya pertanggungjawaban secara jelas dan benar, serta adanya pengawasan yang konsisten guna menunjang segala macam usaha pembinaan untuk membayar pajak secara teratur dan jujur.

Umat Kristen sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan bersama-sama dengan seluruh rakyat Indonesia wajib mematuhi undang-undang dan peraturan pemerintah Indonesia. Bahkan umat Kristen mempunyai dasar Firman TUHAN yang menjadi keyakinan iman bahwa membayar pajak adalah juga perintah ALLAH, sebagai wujud dukungan nyata akan tugas dan kewajiban pemerintah terhadap rakyatnya. Oleh karena itu umat Kristen mempunyai dua tiang pondasi yang menopang kewajiban membayar pajak secara jujur dan benar, sehingga kepatuhannya membayar pajak dibenarkan pemerintah dan TUHAN.

Sumber:
- Mukadimah dan Penjelasan atas Mukadimah, dalam Tata Gereja GKI, Jakarta,
BPMS GKI, 2003.
- Suatu Tinjauan Alkitabiah, dalam Gereja dan Kontekstualisasi,
buku 3 Seri Membangun Bangsa, Bidang Pembinaan Gerejawi Di Tengah
Masyarakat, Jakarta, Sinar Agape Press, 1998
Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*