suplemenGKI.com

 

Jumat,  12 September 2014

Roma 14:5-12

 

Pengantar

Terkadang manusia merasa hidupnya miliknya sendiri maka dia menggunakan hidupnya “semau gue”. Pandangan hidup yang seperti itu bisa berdampak negatif baik untuk diri sendiri maupun dalam relasi dengan orang lain. Orang yang hidup “semua gue” cenderung merusak perdamaian dalam hidup bersama. Lihatlah misalnya kehidupan keluarga yang semula rukun dan harmonis bisa berubah menjadi penuh konflik karena ada anggota keluarga yang bersikap “semau gue”, tanpa takut dan hormat pada TUHAN. Renungan hari ini mengajak kita menempatkan kembali hidup kita di tempat yang seharusnya sebagai milik TUHAN. Marilah kita merenungkannya.

Pemahaman

  • Ayat 5-7  : Dalam Kekristenan, adakah hari atau makanan yang lebih baik dan lebih penting dibandingkan yang lain?
  • Ayat 8- 9 : Apakah konsekuensi keyakinan iman  ”Baik hidup atau mati, kita adalah milik TUHAN”?
  • Ayat 10-12: Apakah yang menjadi dasar pemikiran membangun hidup persaudaraan dengan tanpa saling merendahkan atau saling menghakimi?

Dalam bagian ini Rasul Paulus menjelaskan pemahaman iman tentang tempat TUHAN dalam kehidupan orang percaya. Orang yang sungguh-sungguh menempatkan TUHAN sebagai penguasa kehidupannya, tidak akan gampang “mendewakan” apa pun dalam hidup ini temasuk hari Sabat.  Semua hari, juga hari Sabat sama-sama milik TUHAN. Hal ini perlu dipahami mengingat orang-orang Yahudi sangat mendewakan hari Sabat sehingga menghakimi perilaku orang lain sebagai dosa melanggar hari Sabat. Sesungguhnya penghargaan terhadap hari tertentu tidak boleh menodai kasih persaudaraan.

Penghayatan serupa juga berlaku untuk sikap terhadap makanan. Semua makanan diciptakan TUHAN dan akan mendatangkan berkat kalau kita syukuri. Apa pun yang kita makan seharusnya kita nikmati dengan penuh pengucapan syukur dalam nama TUHAN.

Sesungguhnya jika kita hidup, kita hidup untuk TUHAN dan jika kita mati, kita mati untuk TUHAN sebab baik hidup atau mati kita adalah milik TUHAN. Pandangan hidup ini akan selalu mendorong kita untuk mempertanggungjawabkan seluruh pola pikir dan perilaku kita di hadapan TUHAN. Hal ini akan berdampak pada kearifan perilaku yang membawa damai sejahtera dalam relasi persaudaraan di tengah keluarga, gereja maupun masyarakat.

Refleksi

Dalam keheningan, gambarkanlah kehidupan Saudara. Manakah yang lebih banyak Saudara lakukan: berpikir, berkata-kata dan berperilaku “semau gue” ataukah mempertimbangkan segala pikiran, perkataan dan perilaku dalam pertanggungjawaban penuh kepada TUHAN?

Tekadku

Ya TUHAN, mampukanlah aku untuk selalu menyadari bahwa hidup dan matiku milik-Mu, bukan milikku sendiri, agar aku tidak sembarangan berpikir, berkata-kata dan berperilaku.

Tindakanku

Mulai hari ini aku akan menjalin kasih persaudaraan dalam keluarga, gereja dan masyarakat dengan sikap arif dan penuh penghargaan. Oleh karena itu aku akan menghentikan sikap menghakimi orang lain.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*