suplemenGKI.com

Selasa, 21 Februari 2012

Ulangan 10:16-22

Dalam sebuah kebaktian peneguhan dan pemberkatan nikah, sepasang kekasih mengucapkan janji pernikahan : “ Aku akan mengasihimu dengan setia, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, sampai kematian memisahkan kita”. Si istri meneteskan air mata haru ketika mengucapkan janji itu sebab perjalanan cinta mereka pada masa pacaran penuh liku-liku sehingga mereka sempat putus pacaran.Pemuda idamannya itu sempat berpacaran dengan sekretarisnya, namun akhirnya cinta pemuda itu kembali diberikan untuknya. Ia melihat pemuda idamannya mengucapkan janji pernikahan dengan kesungguhan hati. Lima tahun kemudian barulah si istri menyadari bahwa ternyata janji itu tinggal janji sebab secara diam-diam si suami masih menjalin cinta dengan sekretarisnya. Janji pernikahan itu hanya cinta yang diobral dalam kata-kata namun tak terbukti nyata.

Cinta bukanlah sekedar kata-kata. Cinta perlu dibuktikan secara nyata. Apakah cinta umat kepada TUHAN sekedar kata-kata ataukah mewujud nyata? Marilah kita mendalami bacaan hari ini.

Pendalaman teks Alkitab

Ayat 16                       : Apakah makna “ sunatlah hatimu”?
Ayat 17-18, 21, 22 : Siapakah ALLAH yang mengasihi Israel?
Ayat 19-20                : Apakah yang harus dilakukan umat untuk menunjukkan bahwa mereka telah menyunatkan hati?

Renungan

Musa mengajak umat Israel mengingat kembali siapa diri mereka dihadapan ALLAH, Sang maha kuasa yang besar, kuat dan dahsyat. ALLAH telah membaharui perjanjian kasih dengan umat yang telah mengingkari perjanjian itu. ALLAH telah mengasihi mereka dan membuat mereka menjadi bangsa yang besar namun mereka justru hidup sebagai bangsa tegar tengkuk yang seringkali meragukan kasih ALLAH dan hidup meninggalkan ALLAH.

Sekalipun umat Israel mengaku mengasihi ALLAH namun tanda kasih mereka kepada ALLAH banyak diwujudkan dengan ketaatan menjalankan ritual (upacara) agama belaka. Diantaranya adalah sunat. Sunat menjadi tanda perjanjian TUHAN dengan umat yang dikasihi-Nya. Umat Israel sangat ketat menjalankan ritual sunat namun kurang menghidupi ritual itu dengan perilaku sehari-hari yang menunjukkan kasih mereka yang tulus kepada TUHAN. Akibatnya mereka terjatuh dalam ritualisme lahiriah namun tidak didasari perubahan sikap hati (pertobatan hati).

Musa mengingatkan mereka bahwa hidup dalam kasih dan ketaatan yang sejati tidak dapat terwujud apabila umat tidak “menyunatkan” hati dan tidak bersedia membuang sikap tegar tengkuknya. Pertobatan sejati adalah berpautnya hati umat dengan hati TUHAN sehingga umat mengalami perubahan hidup kerohanian.  Hal ini ditandai dengan hidup seperti yang ALLAH inginkan.

Salah satu yang dikehendaki ALLAH adalah umat berperilaku seperti perilaku ALLAH. Musa memberikan contoh perilaku ALLAH yang mengasihi dan menghargai umat yang lemah dan terpinggirkan. ALLAH membela hak anak-anak yatim dan janda. ALLAH juga menunjukkan kasihNya pada orang asing dengan memberi mereka pakaian dan makanan. Umat diminta meneladani sikap ALLAH dengan menyatakan solidaritas sosial. Umat diminta membangun persaudaraan sejati dengan orang asing. Pada waktu itu orang asing tidak dapat menuntut perlindungan dari keluarga, juga tidak memiliki warisan apa pun di dalam negeri. Umat diminta mengasihi mereka yang TUHAN kasihi. Umat diminta menjadikan mereka saudara dan anggota keluarga. Umat perlu solider dengan penderitaan mereka sebab dahulu Israel juga pernah mengalami penderitaan sebagai orang asing yang hidup di negeri orang, dalam perbudakan di Mesir. Umat diminta mengingat kasih TUHAN yang mereka alami saat mereka menjadi orang asing.

Musa mengingatkan umat untuk membangun relasi dan sikap hidup yang benar terhadap sesamanya sebab mereka telah dikasihi TUHAN. Hal ini hanya mungkin terjadi apabila umat telah menyunatkan hati; hidup dalam pertobatan sejati dan relasi yang benar dengan ALLAH. Kasih kepada TUHAN selalu berjalan seiring kasih kepada sesama.

Apakah kebesaran kasih TUHAN telah mengubah hati dan kehidupan Saudara menjadi lebih benar? Apakah ibadah Saudara kepada TUHAN hanya ritualisme lahiriah ataukah menghasilkan perilaku pertobatan sejati yang menyatakan kasih kepada sesama. Pertobatan bukan sekedar urusan saya dengan TUHAN tapi juga berdampak dalam relasi kasih dengan sesama.

Pertobatan sejati selalu mewujud dalam

perilaku hidup sehari-hari.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*