suplemenGKI.com

(Markus. 11:1-11)

Kisah Tuhan Yesus yang dielu-elukan ketika Ia akan memasuki Yerusalem ini ditulis oleh semua Injil Sinoptis (Mat 21:1-9, Mark 11:1-11, Luk 19:28-38 dan Yoh12:12-15) Dalam tradisi gereja, kisah ini sering dibacakan pada Minggu Palmarum, yaitu setelah Minggu pra Paskah ke-5. Matthew Henry, mengatakan bahwa peristiwa Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya memasuki Yerusalem adalah kira-kira empat atau lima hari sebelum Ia menghadapi penderitaan sampai pada kematian-Nya di atas kayu salib. Peristiwa tersebut penting untuk dipahami sebagai penghayatan akan karya Tuhan Yesus Kristus menjelang penderitaan sampai pada kematian-Nya di kayu salib demi menebus manusia berdosa yang percaya kepada-Nya.
Apabila kita merenungkan secara mendalam rangkaian perjalanan Tuhan Yesus memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai muda, ada suatu pemandangan yang menarik yaitu orang banyak menyambut Tuhan Yesus dengan menghamparkan pakaian mereka di jalan tempat di mana Tuhan Yesus akan lewat, ada juga yang menyebarkan ranting-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang (v.8) Bukan hanya itu, tetapi orang-orang yang berjalan di depan dan di belakang-Nya bahkan berseru “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, diberkatilah kerajaan yang datang, kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi” (v. 9-10)
Makna dari tindakan/ekspresi orang banyak yang mengikuti Dia, itu bukan merupakan suatu sambutan terhadap seorang tokoh politik yang sedang berkampanye mencari dukungan, bukan pula suatu kegirangan karena Yesus memamerkan kekuatan, kehebatan dan kekuasaan-Nya di hadapan manusia. Melainkan merupakan ekspresi sikap hati orang banyak yang menyambut Tuhan Yesus Kristus yang datang sebagai Raja di atas segala raja yang membawa kebebasan, kelepasan, kedamaian dan pengharapan baru bagi mereka. Walaupun untuk saat itu pemahaman mereka memang masih tertuju pada kebebasan dan kelepasan dari belenggu pihak penguasa yang berkuasa pada waktu itu, yaitu pemerintahan kerajaan Romawi. Tetapi jika kita mengacu pada ungkapan “Hosana, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan…” Maka kita dapat memahami bahwa sorak-sorai, suka-cita, perarakan serta tindakan yang mereka lakukan adalah mengantar mereka pada sebuah tujuan yang sebenarnya. Yaitu mereka bersorak sorai, bersuka-cita dengan penuh pengharapan karena mereka menyambut Tuhan Yesus Kristus yang datang justru untuk menyelamatkan, membebaskan, melepaskan serta menyediakan pengharapan baru yaitu keselamatan sejati dari dosa yang lebih berbahaya dari pada belenggu kekuasaan pemerintah Romawi. Inilah makna yang terpenting dari ekspresi orang banyak pada waktu itu dalam menyambut Tuhan Yesus.
Bagaimana dengan kita hari ini, apakah kita juga dengan penuh suka-cita, sorak-sorai, perarakan dan kegembiraan menyambut Tuhan Yesus yang telah datang menyelamatkan kita dari belenggu dosa? Apakah kita juga menyambut Tuhan Yesus dalam hidup kita dengan penuh syukur dan tanpa ragu memberi diri untuk melayani Dia dengan apa yang kita punyai? Mungkin kita tidak menghamparkan pakaian kita atau kita juga tidak mengambil dedaunan hijau dari kebun kita untuk dihamparkan di tempat di mana Yesus akan lewat. Tetapi apakah kita sudah menghamparkan hati kita seluas-luasnya, talenta kita, kasih kita dan kemampuan kita untuk menyambut Dia melalui karya pelayanan kita, kerelaan hati kita untuk menjadi penyalur kasih Kristus bagi sesama kita? Rindukah kita meresponi kasih Kristus yang telah menyelamatkan kita dengan segala totalitas hidup kita! Dengan demikian maka kita telah memiliki hati yang menyambut Sang Raja sejati dengan hidup yang makna Hosana” amin
–ANDA–

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*