suplemenGKI.com

Minggu, 15 April 2012

Kisah Rasul 4:32-35

Fransiscus dari Assisi hidup sekitar abad ke XV di Italia. Ia adalah putera seorang pedagang yang kaya raya tapi memiliki hati yang mau berbagi . Pada suatu hari ia sedang berjalan-jalan dengan naik kuda dan mengenakan pakaian yang mewah. Ia mengulurkan tangannya untuk memberikan uang kepada para pengemis kusta di pinggir jalan. Dengan rasa takut-takut pengemis itu menerima pemberian Fransiscus. Di rumah ia berpikir mengapa pengemis itu takut? Ia menduga karena perbedaaan tingkat status sosial yang sangat jauh antara dirinya yang kaya raya dan para pengemis yang sangat miskin. Keesokan harinya Fransiscus kembali menjumpai para pengemis tersebut. Saat ia melihat mereka, ia segera turun dari kudanya dan membuka jubahnya yang mahal serta mengenakannya pada tubuh salah seorang pengemis di situ. Kemudian ia minta pakaian kumal si pengemis itu untuk dipakainya. Sejak saat itulah para pengemis mau bersahabat dengan Fransiscus. Mereka tahu bahwa Fransiscus benar-benar mengasihi mereka dengan tulus. Sungguh mulia hati Fransiscus. Apa yang dilakukannya merupakan kesaksian hidup anak-anak terang.

Pendalaman Teks Alkitab

1. Apakah bentuk kesaksian yang dapat Saudara lihat dari kehidupan jemaat mula-mula?
2. Mengapakah mereka mau berbagi harta kepada orang lain?
3. Seberapa banyak Saudara telah rela berbagi kepada orang lain?

Renungan

Dalam kepemimpinan para rasul, kuasa TUHAN bekerja. Jemaat mula-mula hidup dalam persekutuan yang erat. Kesaksian para rasul tentang kebangkitan TUHAN YESUS telah membangkitkan semangat jemaat untuk hidup rukun dalam terang kebangkitan. Hati mereka dipenuhi terang TUHAN dan dengan mudah mereka merajut hati satu dengan yang lain. Hati mereka satu dengan yang lain pun terajut oleh kasih TUHAN. Mereka mengalami persekutuan yang erat: sehati, sejiwa. Sehati dan sejiwa adalah kunci bagi kehidupan persekutuan yang berbagi sebab sehati dan sejiwa memberikan dasar bagi terciptanya kesadaran bahwa apa yang ada di dunia ini diciptakan untuk semua. Oleh karena itu mereka menghayati tak ada milik pribadi, semuanya adalah milik TUHAN untuk kesejahteraan bersama.

Penghayatan itu diwujudkan dengan memberikan persembahan yang diletakkan di depan kaki para rasul. Ini mengungkapkan pemberian yang diberikan dengan kerelaan didasari oleh hati yang mau berbagi tanpa maksud memegahkan diri. Menyambut persembahan itu para rasul membagi-bagikannya dengan prinsip keadilan: setiap orang sesuai dengan keperluannya, bukan keinginannya. Persekutuan jemaat seperti ini sungguh dikuasai oleh ROH KUDUS.

Sungguh alangkah baiknya bila hati mau berbagi. Persekutuan yang seperti ini masih mungkinkah diwujudkan di masa kini? Di jaman ini kebutuhan sehati dan sejiwa malah dirobek oleh keserakahan. Akibatnya ketimpangan dan ketidakadilan sosial terjadi di mana-mana. Bukan hanya di masyarakat, di gereja maupun dalam keluarga seringkali hal ini sulit diwujudkan.

Namun bagi setiap orang yang sungguh-sungguh hatinya dipenuhi terang ROH TUHAN, maka berbagi adalah gaya hidup pilihannya. Marthin Luther King berkata: “ Jika semua orang di dunia ini hidup sesuai kebutuhan, maka apa yang TUHAN ciptakan sudah lebih dari cukup. Tapi kalau saat ini ada banyak orang hidup berkekurangan dan sedikit orang hidup berkelimpahan, itu karena manusia selalu hidup dengan rakus.”

Miliki hati yang mau berbagi, maka berkat TUHAN akan dapat dinikmati semua orang di muka bumi

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

1 Comment for this entry

  • erwin says:

    Selamat Paskah Saudara-saudara, mari berbagi khabar kebangitan Kristus yang disaksikan oleh para Rasul (bdk. I Yohanes 1:1-7)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«