suplemenGKI.com

Jumat, 13 April 2012

I Yohanes 1:5-2:2

Tahukah Saudara akan peribahasa yang mengatakan: “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”? Peribahasa ini seringkali dipakai untuk menjelaskan perilaku anak yang tak jauh berbeda ( mirip) dengan perilaku orang tua. Sebagai anak-anak ALLAH apakah perilaku kita mirip perilaku ALLAH? Mari kita merenungkannya.

Pendalaman Teks Alkitab

1. Ayat 5 : Apakah berita yang Saudara tangkap dari ayat ini?
2. Ayat 6-7 : Apakah konsekuensi pengakuan bahwa ALLAH adalah terang?
3. Ayat 8-2:2 : Mengaku kita mesti berani mengaku dosa?
4. Apakah kehidupan Saudara mencerminkan umat yang beriman kepada ALLAH, Sang Terang?

Renungan

Bacaan hari ini mau menyampaikan pesan bahwa ALLAH adalah Terang. Penulis membedakan antara gelap dan terang. Pernyataan ALLAH adalah terang mengandung konsekuensi bahwa kegelapan adalah kehidupan tanpa ALLAH. Kegelapan dikaitkan dengan ketiadaan kasih; hidup dalam kebencian. Kegelapan menunjuk pada kebodohan hidup yang terpisah dari ALLAH. Dalam persekutuan kita dengan ALLAH sama sekali tidak boleh ada gelap. Dengan demikian kehidupan dalam persekutuan dengan ALLAH senantiasa harus mencerminkan terang. ALLAH mengawali hal ini dengan memberikan kasih dalam pengampunan yang diberikan kepada manusia (2:2). Bila manusia bersama ALLAH, dosa ( kegelapan) tidak lagi mendapatkan tempat. ALLAH menggantinya dengan terang kasih yang menguasai manusia. Oleh karena itu manusia tak perlu menyembunyikan atau menutup-nutupi dosa.

Apabila kita serius mau bersekutu dengan ALLAH, maka harus ada keterbukaan dan kejujuran agar Terang pengampunan dan kasih ALLAH sungguh-sungguh dapat kita rasakan memenuhi hati dan kehidupan kita. Keberanian untuk tidak berbuat dosa adalah keberanian anak-anak ALLAH. Keberanian untuk mengaku dosa adalah keberanian orang-orang yang beriman kepada terang kasih dan pengampunan ALLAH.

Terang ALLAH yang menguasai kita akan memampukan kita untuk hidup memancarkan Terang itu yaitu hidup dalam kasih dan pengampunan. Watak orang beriman semestinya ditentukan oleh watak ALLAH yang ia sembah. Jika ALLAH adalah terang, maka kehidupan orang beriman juga memancarkan terang kasih ALLAH. Jika kita mengaku sebagai anak-anak ALLAH maka hati kita dipenuhi terang ALLAH dan di mana pun kita berada akan memancarkan jejak Sang Terang yang menerangi kehidupan orang lain.

Sudahkah kehidupan Saudara memancarkan jejak Sang Terang bagi orang lain?
Agar kita dapat menjadi anak-anak Sang terang, ingatlah filosofi pensil.
SATU: Pensil akan dapat melakukan banyak hal besar bila membiarkan dirinya dipegang oleh seseorang. Kita akan dapat melakukan banyak hal besar apabila kita menyerahkan diri kita untuk selalu dipegang TUHAN.
DUA: Pensil akan menderita tiap kali diruncingkan, tapi dia butuh itu agar bisa menjadi pensil yang lebih baik. Di tangan TUHAN kita juga kan selalu dibentuk. Kegelapan yang menodai hidup kita disingkirkan oleh terang TUHAN. Mungkin kita akan kecewa karena kehilangan kenikmatan duniawi, tapi kita memerlukan proses pembentukan ini.
TIGA: Pensil selalu mungkin melakukan kesalahan dan rela apa yang salah ditulisnya dihapus oleh manusia. Beranilah mengaku dosa dan mengoreksi kesalahan, agar terang kasih dan pengampunan TUHAN membersihkan diri Saudara.
EMPAT: Pada tiap permukaan di mana pensil dipakai, selalu meninggalkan jejak yang bisa dibaca orang. Dan di situlah pensil menjadi berkat. Tinggalkan jejak yang bisa dibaca orang lain, bukan jejak dosa tapi jejak kasih dan pengampunan yang menerangi kehidupan orang lain. Pancarkanlah Terang ALLAH yang telah memenuhi hati Saudara!

Orang yang hatinya dipenuhi terang,

ia akan mampu memancarkan jejak terang

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Next Post
»