suplemenGKI.com

Markus 6:30-34

Merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, tentu bukan perkara yang mudah. Apalagi jika yang sedang dirasakan oleh orang lain itu adalah perasaan-perasaan negatif seperti sedih, kecewa, marah, dan sebagainya. Terhadap perasaan-perasaan negatif semacam itu, kita biasanya akan menghindar. Karena tidak ingin berurusan dengan perasaan mereka, maka kita juga mengabaikan mereka. Padahal, justru orang-orang seperti inilah yang sangat membutuhkan pelayanan kita. Ketidakpedulian kita terhadap sesama kita sering kali dimulai dari ketidakpedulian kita terhadap perasaannya.
Bacaan kita hari ini cukup jelas mengungkapkan betapa pentingnya memiliki hati yang berbela rasa, artinya ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Hati yang berbela rasa (atau berempati) itulah yang diperlihatkan oleh Yesus dan yang juga diajarkan-Nya kepada para murid-Nya. Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari melalui bacaan ini. Pertama, hati yang berbela rasa membutuhkan kerelaan berkorban. Yesus dan para murid-Nya telah seharian melakukan pelayanan kepada banyak orang, sehingga makan pun mereka tidak sempat (ay. 31). Jelas, mereka membutuhkan waktu untuk beristirahat. Namun, semua kebutuhan pribadi itu harus dikesampingkan. Hati Yesus tergerak oleh belas kasihan ketika melihat sejumlah besar orang yang terus-menerus mengikuti-Nya (ay. 33). Kedua, hati yang berbela rasa harus mewujud dalam tindakan. Tergerak oleh belas kasihan di hati-Nya, Yesus mengajar orang banyak yang keadaannya “seperti domba yang tidak mempunyai gembala” (ay. 34). Yesus bertindak untuk memenuhi kebutuhan mereka. Demikian pula, ketika mereka membutuhkan makanan, Yesus “melatih” para murid-Nya bertindak memenuhi kebutuhan mereka. Cara terbaik untuk melatih bela rasa (empati) di dalam hati kita adalah dengan mewujudkannya di dalam tindakan.
Tentu saja, tindakan yang muncul dari hati yang berbela rasa tidak harus berupa tindakan-tindakan spektakuler dengan biaya yang besar. Sebaliknya, rasa empati dapat diwujudkan melalui tindakan-tindakan yang tergolong sederhana. Ketika hendak mengawali tahun ajaran baru, pak guru Alter yang mengajar di kelas lima sebuah sekolah dasar di Oceanside, California terperangah melihat empat belas orang siswanya masuk kelas dengan kepala gundul. Apa yang terjadi dengan empat belas bocah ini? Sebenarnya, mereka tidak harus menggundul kepala mereka, kecuali seorang yang bernama Ian O’Gorman. Ian menderita kanker dan harus menjalani kemoterapi. Karena itulah Ian harus mencukur gundul kepalanya. Namun kemudian, tiga belas orang teman sekelasnya memutuskan untuk ikut mencukur gundul kepala mereka agar Ian tidak merasa sendirian. Aksi gundul bersama ini dimulai oleh Kyle Hanslik, seorang bocah berusia sepuluh tahun. Kyle menceritakan gagasannya kepada teman-temannya, dan dalam waktu singkat mereka bergegas menuju kios potong rambut. “Kami hanya ingin membuat Ian merasa lebih baik,” kata Kyle. Shawn, ayah Ian, berlinang air mata ketika ia menceritakan apa yang telah dilakukan para bocah ini untuk anaknya. Dia hanya berkata, “Sangat sulit untuk melukiskannya dengan kata-kata.”
Mencukur rambut mungkin adalah hal biasa, namun alasan yang mendorong tindakan para bocah ini sungguh luar biasa. Mereka melakukan hal itu karena dorongan rasa empati yang ada di dalam hati mereka. Apa yang dilakukan Kyle dan kawan-kawannya dapat menjadi pelajaran bagi kita yang ingin sungguh-sungguh melayani sesama kita. Setiap tindakan dan karya pelayanan terhadap sesama kita seharusnya juga muncul dari hati yang berbela rasa. Hanya dengan hati yang berbela rasa maka kita Dapat menjangkau hati orang-orang yang kita layani
—- TW —-

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*