suplemenGKI.com

Kamis, 10 Maret

Roma 5:1-11

Konon harapanlah yang membuat orang masih mau melanjutkan hidup. Ketika orang berhenti berharap, maka sebenarnya ia berhenti untuk melangkah dalam hidup ini. Kalaupun mereka masih hidup dengan tanpa harapan, sebenarnya mereka sedang menunggu waktu panggilan ilahi saja. Karena ketika seseorang hidup dengan tanpa pengharapan, maka dia tidak mempunyai semangat hidup. Bahkan hal ini juga disebabkan oleh hilangnya tujuan hidup. “Untuk apa aku hidup?” begitulah kira-kira ungkapan hati orang yang hidup dengan tanpa pengharapan.

- Pernahkah Saudara berharap kepada Allah kemudian merasa kecewa, karena harapan itu tidak menjadi kenyataan? Lalu, apa arti pernyataan bahwa pengharapan itu tidak mengecewakan (ay. 5)?

- Menurut Saudara, (sifat) Allah yang seperti apakah yang lebih sering membuat Saudara kecewa dan terluka? Allah yang maha baik, ataukah Allah yang maha benar?

- Apakah Saudara sedang mengharapkan sesuatu dari Allah? Sudah berapa lama Saudara berharap? Apakah Saudara yakin Allah akan memenuhi harapan Saudara? Mengapa?

Renungan:

Salah satu sarana harapan orang Kristen adalah doa. Tapi kadang orang kecewa atas respon Allah terhadap doa-doa yang dipanjatkan. Pada dasarnya kekecewaan itu terjadi karena adanya jurang antara harapan dan kenyataan. Kita membuat profil yang keliru tentang Allah yang maha baik itu, karena kita memisahkan, bahkan mempertentangkan, kemahabaikan Allah dengan kemahabenaran Allah. Kita telah membuat Allah melawan diriNya sendiri dengan meminta Dia melakukan kebaikan yang bertentangan dengan kebenaran.

Ketika Kristus mati bagi kita, Dia mati agar kita dibenarkan – dijadikan orang benar, bukan dijadikan orang baik. Oleh sebab itu segala sesuatu yang diberikan kepada kita, yaitu segala kebaikan Allah kepada kita, pada dasarnya adalah untuk menunjang kita menjadi orang yang benar, bukan menjadi orang yang baik. Kalau pada mulanya, tatkala Allah menciptakan segala sesuatu dalam keadaan baik, itu dalam pengertian dalam keadaan yang benar. Alam semesta yang baik adanya itu adalah alam semesta yang berada pada susunan dan hubungan yang benar satu sama lain. Demikian pula halnya dengan kehidupan kita. Kalau kita berharap Allah melakukan sesuatu yang kita pandang baik, namun tanpa kita sadari bahwa apa yang kita harapkan itu sebenarnya membuat segala sesuatunya mejadi tidak berada pada susunan dan hubungan yang benar satu sama lain, maka sebenarnya kita sedang meminta Allah yang maha benar itu untuk melakukan hal yang tidak benar. Kita tidak dapat melihat seluruh hubungan yang ada ini, tetapi Alah dapat. Yang kita lihat hanyalah bahwa Allah tidak mengabulkan apa yang kita harapkan. Pengharapan kita baru tidak akan mengecewakan apabila kita mengharapkan janji Allah. Itu berarti mengharapkan kehendak Allah yang terjadi, bukan kehendak kita sendiri. Kita mengharapkan kehendak Allah itu terjadi sesuai dengan cara dan waktu Allah, bukan menurut cara dan waktu kita

Untuk dapat mengharapkan kehendak Allah yang terjadi, pertama-tama kita harus belajar mengosongkan diri

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Next Post
»