suplemenGKI.com

“Ambil dan Bacalah” Edisi ke-30 Bln September Tahun 2009
G K I R e s i d e n S u d i r m a n S u r a b a y a

Mentari sudah mulai mengakhiri hari. Bayang-bayang gedung tua merupakan pertanda bahwa senja telah tiba. Gedung tua itu disebut orang GKS, Gereja Kita Sendiri. Seorang pemuda sedang duduk-duduk di selasarnya. Wong Bing Ung, begitulah nama pemuda itu. Seperti arti namanya, wajahnya senantiasa menyiratkan tanya. Tak terkecuali senja itu.

Nampaknya dia sedang menunggu seseorang. Beberapa hari yang lalu Wong sudah membuat janji ketemu dengan boksu kesayangannya, boksu Tan Tje Pin. Boksu satu ini memang lebih terkenal dengan nama mandarinnya ketimbang nama Indonesianya. “Soalnya, kalau khotbah selalu nancep” demikian kata orang ketika ditanya mengapa lebih suka memanggil boksu ini dengan nama mandarinnya.

Dari kejauhan nampak seorang pria paro baya tengah berjalan dari halaman gereja setelah memarkir kendaraannya di sana. Pria tinggi berkacamata itu rambutnya mulai memutih dimakan usia. Kebotakan juga mulai menghinggapi kepalanya. Namun ia tetap nampak menawan dengan kumis tipis yang menghias bibirnya. Dialah boksu Tan yang tengah ditunggu Wong Bing Ung.

“Hai Wong” sapa ramah boksu Tan. “Sudah lama?” kata boksu Tan sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

“Baru saja, Boksu. Ini tadi langsung dari kampus. Takut terlambat” Jawab Wong sambil tersenyum.

“Kalau begitu, kita langsung mulai saja ya diskusi kita hari ini.” Wong hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.

Hari itu Wong menanyakan banyak hal tentang reformasi yang terjadi pada abad ke-16, dipelopori Martin Luther, Calvin, Zwingli dan lain-lain. Hal ini berkaitan dengan hari reformasi yang jatuh pada tanggal 31 Oktober.

“Apakah Gereja Reformed Injili Indonesia atau yang biasa disingkat GRII itu satu-satunya pewaris gerakan reformasi, Boksu?” tanya Wong Bing Ung setelah diskusi berlangsung panjang lebar.

“Tidak Wong. Sebenarnya GKS (Gereja Kita Sendiri) juga merupakan hasil dari gerakan reformasi itu.”

“Sebenarnya, bagaimana sih awal mula berdirinya GRII itu?”

“Kalau menurut penjelasan di websitenya, maka sebenarnya GRII itu diawali oleh sebuah gerakan reformed, yang berakar pada peristiwa reformasi pada abad ke-16. Adapun motivasi reformasi adalah kembali kepada Kitab Suci dan mengaku bahwa segala sesuatu semata-mata berdasarkan anugerah, dan bahwa hanya melalui iman, dan bukan jasa manusia, kaum pilihan dipanggil untuk menjadi saksi Tuhan di dalam dunia ini.”

“Bagaimana hubungan gerakan reformasi pada abad ke-16 itu dengan gerakan reformed yang menjadi cikal bakal Gereja Reformed Injili Indonesia?” tanya Wong Bing Ung yang mulai bingung.

“Kalau digambarkan secara ringkas, kurang lebih begini” kata boksu Tan setelah menarik nafas panjang.

“Gereja mula-mula sangat menjunjung tinggi pengajaran para rasul. Sebagai contoh kamu bisa baca Kisah Para Rasul 2:42, di mana dikatakan bahwa Jemaat mula-mula itu bertekun dalam pengajaran rasul-rasul. Nah, kemudian pengajaran itu – yang kemudian kita miliki dalam bentuk Alkitab – mulai ditinggalkan. Gereja tidak lagi setia kepada Firman Allah. Maka terjadilah gerakan reformasi pada abad ke-16 itu. Kemudian melalui gerakan reformasi tersebut Gereja dibawa kembali pada Kitab Suci. Namun dalam perkembangannya kemudian Gereja kembali ditengarai telah mulai meninggalkan Kitab Suci lagi. Oleh sebab itulah lalu muncul gerakan reformed yang sekarang ini.”

“Jadi, kapan tepatnya gerakan reformed tersebut dimulai?”

“Gerakan reformed itu dimulai sekitar tahun 1984. Gerakan itu sendiri bermula sakitnya pelopor gerakan ini, yaitu Pdt. DR. Stephen Tong.”

“Apakah Boksu bisa menjelaskan lebih lanjut?”

“Ya, karena sakit itu Pdt. Tong merasa waktu yang dimilikinya tidak banyak lagi. Oleh sebab itu Pdt. Tong bersegera untuk memulai gerakan reformed.”

“Ooo… jadi pada tahun 1984 itu Pdt. Tong mendirikan Gereja Reformed sebagai tonggak dimulainya gerakan reformed?”

“Wah, kesimpulanmu terlalu cepat.”

“O ya?”

“Iya, sebab ceritanya masih panjang.”

“Tidak apa-apa Boksu, saya masih sanggup mendengar” Boksu Tan tersenyum kagum dengan semangat belajar Wong Bing Ung.

“Saya ringkas saja ya penjelasannya” kata boksu Tan dengan masih menyungging senyum. Kemudian dia melanjutkan penjelasannya, “Gerakan reformed itu dimulai dengan mengadakan SPIK, Seminar Pembinaan Iman Kristen. Nah, setelah itu untuk mewadahi mereka yang mau belajar lebih lanjut secara formal, maka didirikanlah sekolah tinggi reformed. Lalu dalam rangka untuk memfasilitasi persekutuan orang-orang yang mau bergabung dengan gerakan reformed tersebut, didirikanlah GRII”

“Nampaknya mereka sangat menjaga obor reformasi itu ya Boksu?”

“Paling tidak mereka selalu menggembar-gemborkan untuk kembali kepada Firman Allah serta melaksanakan amanat agung”

“Maksudnya amanat agung itu pemberitaan Injil ya?”

“Iya, pemberitaan Injil, yang meliputi mandat penginjilan dan mandat budaya”

“Maksudnya?”

“Mandat penginjilan itu mengacu pada amanat agung Tuhan Yesus dalam Matius 28:18-20. Sedangkan mandat budaya mengacu pada Kejadian 1:28” Wong Bing Ung mengangguk-anggukkan kepalanya, mencoba memahami penjelasan boksu Tan.

“Apakah masih ada yang ingin kamu tanyakan, Wong?” aktivis kritis itu hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.

“Kalau begitu, sekarang gantian saya yang ingin bertanya kepadamu” kalimat boksu Tan ini membuat kepala Wong berhenti menggeleng.

“Tanya apa Boksu?”

“Apa yang dapat kamu pelajari dari pengenalan sekilasmu tentang GRII?”

“Yang dapat saya pelajari?!? Yang dapat saya pelajari… ya…… seharusnya ya banyak”

“Bagus kalau begitu. Coba, sebutkan, apa saja itu?”

“Langkah mereka untuk melakukan pembinaan-pembinaan melalui program SPIK (Seminar Pembinaan Iman Kristen) itu bagus ya. Demikian pula dengan upaya mereka untuk menggebrak kerohanian orang-orang Kristen melalui KKR-KKR.”

“Iya, betul. Kita memang perlu mengadakan pembinaan-pembinaan iman kristen. Tapi harus diingat agar ketika kita melakukan pembinaan iman menurut penghayatan kita, jangan sampai kita menyinggung – apalagi melecehkan – penghayatan saudara-saudara kita yang lainnya” peringatan boksu Tan ini membuat kepala Wong terangguk-angguk.

“Lalu, apalagi Wong yang dapat kamu pelajari dari mereka?”

“Itu Boksu, semangat mereka didalam mengemban mandat pekabaran Injil dan mandat budaya. Kalau itu bisa dilakukan dengan metoda yang tepat maka pasti dampaknya luar biasa.”

“Ya, ‘dilakukan dengan metoda yang tepat’. Saya rasa ungkapan ‘dilakukan dengan metoda yang tepat’ di sini patut digarisbawahi. Kita perlu melakukan pekabaran Injil dengan tepat. Kita perlu belajar membaca keadaan, sebab keadaan terus berubah. Metoda pemberitaan Injil era tahun 60-an atau 70-an mungkin kurang tepat lagi kalau digunakan pada jaman sekarang.”

“Satu lagi Boksu, upaya mereka untuk terus mengobarkan semangat reformasi. Mereka terus mengajak orang Kristen untuk kembali kepada Firman Allah.”

“Tepat sekali. Saya setuju dengan hal itu. Apakah kamu secara pribadi selalu mengenal Firman Allah?”

“Saya memang harus jujur bahwa saya kurang dekat dengan Firman Allah. Saat teduh saya banyak bolongnya. Tapi Boksu, yang seperti itu khan banyak, bukan cuma saya sendiri” jawab Wong tanpa merasa bersalah, membuat Boksu Tan menjadi kebingungan.

“Jadi karena banyak orang seperti itu kamu tidak merasa bahwa tindakanmu itu salah, begitu?” Wong hanya tertunduk malu mendengar tebakan boksu idolanya itu. Tebakan yang sekaligus merupakan teguran itu mengingatkan Wong Bing Ung tentang betapa pentingnya untuk senantiasa dekat dengan Firman Allah agar mengalami perjumpaan dengan Allah dari hari ke hari, bukan hanya dari hari Minggu ke hari Minggu berikutnya. Selamat memperingati hari reformasi.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«