suplemenGKI.com

(Kej 32: 22-32 dan Mazmur 121)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia gigih memiliki makna: tetap teguh pada pendirian. Sosok pribadi yang gigih pastilah punya prinsip dan tujuan hidup yang jelas dan kuat. Untuk menjadi pribadi yang semacam itu pastilah bukan pekerjaan yang mudah. Demikian pula perjuangan Yakub saat hendak menyeberang sungai Yabok. Perlu diketahui bahwa saat itu Yakub tidaklah seorang diri. Dia bukanlah seorang lajang seperti pada saat dia mengawali petualangannya dengan menipu Esau. Saat mendekati sungai Yabok dia harus memikirkan bagaimana menyeberangkan rombongan besar yang terdiri dari 2 istri, 2 gundik, plus 11 anak. Belum lagi sejumlah besar ternak yang diperolehnya saat bekerja kepada Laban.
Suasana hati yang galau makin mencekam kala Yakub mendapat informasi bahwa sang kakak yang pernah diakalinya sedang menunggu di depan perjalanannya! Waktu yang berlalu sekian puluh tahun nampaknya belum bisa menghapus bayangan Esau yang dianggapnya masih bisa mengancam diri serta keluarganya. Oleh karena itu setelah sukses menyeberangkan keluarga besarnya, Yakub memilih untuk tinggal seorang diri di seberang sungai Yabok. Pada saat itu pula datang seorang pria misterius, yang langsung mengajaknya bergulat! Pergulatan itu sangatlah menarik ketika kemudian pria misterius itu teridentifikasi sebagai malaikat TUHAN, yang seringkali dihubungkan dengan Allah sendiri!
Sementara Yakub mati-matian bergumul dengan Allah untuk beroleh berkat yang dijanjikan, Allah memang kemudian memperkenankannya untuk menang. Namun bukan kemenangan yang telak, sebab untuk menang Yakub harus merelakan pangkal pahanya dilukai oleh Allah. Kegigihan Yakub dalam pergumulan itu membawanya kepada fajar kehidupan. Fajar kehidupan yang ditandai dengan kesadaran bahwa Yakub tidak boleh lagi hidup dalam kekuatannya sendiri, tetapi harus hidup dalam ketergantungan yang penuh hanya kepada-Nya.
Apa yang dialami oleh Yakub nampaknya pernah juga dialami oleh sang Pemazmur. Mazmur 121 memberi kesaksian betapa dahsayatnya campur tangan-Nya dalam kehidupannya. Wilayah di sekeliling Yerusalem yang berupa gunung-gunung kerapkali memberi tantangan bagi para peziarah yang harus melewatinya. Bukan hanya bukit serta batu padas yang menghimpit jalan raya yang harus mereka hadapi, melainkan bisa jadi para perampok ataupun binatang buas yang kelaparan! Namun mata iman sang pemazmur tidaklah terpaku kepada keperkasaan gunung-gunung melainkan kepada Allah yang adalah sang empunya gunung-gunung itu!
Apakah kita sebagai orang yang percaya benar-benar ingin mengalami hal yang sama? Pada waktunya kita semua akan sampai kepada sungai Yabok kita masing-masing. “Sungai Yabok” yang bermakna pengosongan/pelepasan, menuntut kita untuk melepaskan diri kita dari kecenderungan untuk mengandalkan diri sendiri. Allah ingin membawa kita ke tempat dimana kita mati terhadap diri sendiri sekaligus juga mati terhadap kecenderungan tersebut. Dan kemudian menerima hidup baru yang sepenuhnya bergantung kepada Kristus. Maukah Anda mengalaminya sekarang?
( TAPE )

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*