suplemenGKI.com

Gereja Dan Lingkungan Hidup - GKI Residen Sudirman

Sadarkah Saudara bahwa alam tempat tinggal kita ini makin rusak? Dalam peringatan hari lingkungan hidup tanggal 5 Juni yang lalu, banyak orang menyoroti kerusakan lingkungan hidup. Kita merasakan bumi yang makin panas, banjir, juga pencemaran udara, air dan tanah, adalah masalah yang menimbulkan banyak dampak negatif bagi manusia. Gaya hidup manusia yang tidak ramah lingkungan dan eksploitasi alam yang berlebihan telah membuat alam ini berduka. Lingkungan hidup menjadi rusak dan terjadilah ketidakadilan ekolog

Mengapa lingkungan hidup kita menjadi rusak? Adakah cara pandang dan sikap manusia yang salah terhadap alam ?

Tentu saja. Pemahaman dan cara pandang orang terhadap lingkungan hidup mempengaruhi sikap mereka dalam memperlakukan alam. Misalnya ada pandangan bahwa manusia adalah pusat alam semesta (anthroposentris). Manusia dan kepentingannya dianggap yang paling menentukan dalam tatanan ekosistem. Alam dilihat hanya sebagai obyek, alat, dan sarana bagi pemenuhan kebutuhan dan kepentingan manusia. Alam hanya bernilai sejauh menunjang kepentingan manusia. Tentu pandangan seperti itu menghasilkan sikap yang tidak bersahabat dengan alam, misalnya eksploitasi alam yang berlebihan dan sikap yang tidak peduli dengan kerusakan alam.

Lalu, bagaimanakah pandangan kita (orang Kristen) terhadap alam atau lingkungan hidup?

Alkitab sebagai sumber nilai dan moral kristiani menjadi pijakan dalam memandang dan mengapresiasi alam. Alkitab sebenarnya mengajak manusia memberikan penghargaan yang tinggi terhadap ciptaan Allah lainnya, termasuk alam atau lingkungan hidup. Perhatikanlah kajian teologis berikut ini:

Semua ciptaan adalah berharga, cerminan keagungan Allah (Mazmur 104)

Kebesaran Tuhan yang Maha Agung bagi karya cipataanNya (dalam artian lingkungan hidup) tampak dalam Mazmur 104. Perikop ini menggambarkan ketakjuban pemazmur yang telah menyaksikan bagaimana Tuhan yang tidak hanya mencipta tapi juga menumbuh-kembangkannya dan terus memelihara ciptaanNya. Ayat 13, 16, 18 dan 17 misalnya, menggambarkan pohon-pohon diberi makan oleh Tuhan, semua ciptaan menantikan makanan dari Tuhan. Yang menarik adalah bukan hanya manusia yang menanti kasih dan berkat Allah tapi seluruh ciptaan (unsur lingkungan hidup). Di samping itu penonjolan kedudukan dan kekuasaan manusia atas ciptaan lainnya di sini tidak tampak. Itu berarti bahwa baik manusia maupun ciptaan lainnya tunduk pada kemahakuasaan Allah. Dalam ayat 30, secara khusus dikatakan: “Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi.” Kata “roh” seringkali dikaitkan dengan unsur kehidupan, atau hidup itu sendiri.[2] Ini berarti seluruh makluk ciptaan di alam semesta ini diberikan unsur kehidupan oleh Tuhan. Ayat ini jelas menunjukan bahwa bukan hanya manusia yang diberi kehidupan tapi juga ciptaan lainnya. Betapa berharganya seluruh ciptaan di hadapan Tuhan. Roh Allah terus berkarya dan memberikan kehidupan.[3]

Secara singkat dapat disimpulkan bahwa sebagai pencipta, Allah sesuai rencanaNya yang agung telah menciptakan segala sesuatu sesuai dengan maksud dan fungsinya masing-masing dalam hubungan harmonis yang terintegrasi dan saling mempengaruhi antara yang satu dengan yang lainnya. Jadi sikap eksploitatif terhadap alam merupakan bentuk penodaan dan perusakan terhadap karya Allah yang agung itu.

Semua ciptaan (kosmos) diselamatkan melalui Kristus (Kolose 1:15-23)

Dalam perikop ini diungkap dimensi kosmologis yang terkait erat dengan hal keutamaan Kristus, khususnya karya pendamaian, penebusan dan penyelamatan-Nya atas semua ciptaan. Dalam ayat 23 dikatakan bahwa Injil diberitakan kepada ktisis (seluruh alam). Melalui Kristus dunia diciptakan, dan melalui Kristus pula Allah berinisiatif melakukan pendamaian dengan ciptaan-Nya. Sekarang alam berada di bawah kuasa-Nya dan dengan demikian kosmos mengalami pendamaian.[4] Bagian ini juga menekankan arti universal tentang peristiwa Kristus melalui penampilan dimensi-dimensi kosmosnya dan melalui pembicaraan tentang keselamatan bagi seluruh dunia, termasuk semua ciptaan. Kristus membawa pendamaian dan keharmonisan bagi semua ciptaan melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Penebusan Kristus juga dipahami sebagai penebusan kosmis yang mencakup seluruh alam dan ciptaan. Penyelamatan juga mencakup pendamaian atau pemulihan hubungan yang telah rusak antara manusia dan ciptaan lainnya.[5]

Demikianlah dapat disimpulkan bahwa baik manusia maupun segala ciptaan atau makluk yang lain merupakan suatu kesatuan kosmik yang memiliki nilai yang berakar dan bermuara di dalam Kristus.

Dengan memperhatikan kajian teologis di atas maka melahirkan teologi kontekstual-ekologis sebagai berikut:

a. Teologi Ciptaan. Teologi ciptaan menekankan karya Allah yang memberikan hidup kepada seluruh ciptaan (Mazmur 104). Dalam hal ini manusia dilihat sebagai bagian integral dari alam bersama tumbuh-tumbuhan, hewan dan ciptaan lainnya. Tanggungjawab manusia adalah bekerja untuk Tuhan dalam memelihara dan mengelola lingkungan hidup, bukan mendominasi apalagi mengeksploitasinya. Teologi seperti ini juga pernah dirumuskan dalam KTT Bumi di Rio de Jeneiro tahun 1992.[6]

b. Solidaritas dengan alam. Kesadaraan bahwa seluruh ciptaan berharga di mata Tuhan, membawa kita untuk membagun sikap solidaritas dengan alam. Kita memperlakukan lingkungan hidup sebagai sesama ciptaan yang harus dikasihi, dijaga, dipelihara dan dipedulikan. Kita mencintai dan memperlakukan lingkungan hidup dengan sentuhan kasih sebagaimana sikap Tuhan. Kita membangun solidaritas baru dengan alam yang telah rusak.

c. Spiritualitas Ekologis. Spiritualitas ini dibangun dengan dasar penghayatan iman bahwa semua ciptaan diselamatkan dan dibaharui oleh Tuhan. Pembaharuan itu menciptakan kehidupan yang harmonis. Spiritualitas ekologis mempunyai dasar pada pengalaman manusiawi yang berhadapan dengan kehancuran lingkungan hidup sekaligus berhadapan dengan pengalaman akan yang Mahakudus, yang mengatasi segalanya. Dalam pengalaman ini kita dipanggil untuk secara kreatif memelihara kualitas kehidupan, dipanggil untuk bersama Sang Penyelenggara hidup ikut serta mengusahakan syalom, kesejahteraan bersama dengan seluruh alam.[7] Spiritualitas ekologis terwujud dalam macam-macam tindakan etis sebagai wujud tanggungjawab untuk ikut memelihara lingkungan hidup.

Konkretnya, apa yang dapat gereja lakukan untuk mewujudkan pandangan teologi seperti tersebut di atas?

Selama ini gereja hanya berkonsentrasi pada kegiatan-kegiatan kebaktian atau kegiatan lain yang melayani manusia. Sudah saatnya gereja menyadari bahwa gereja memiliki tugas panggilan menjaga keutuhan ciptaan atau kelestarian lingkungan hidup, misalnya dengan membuat program-program sebagai berikut:

a. Pembinaan tentang kesadaran ekologis. Pembinaan ini merupakan upaya gereja untuk mengingatkan anggotanya bahwa alam adalah ciptaan Allah yang harus dihargai dengan memelihara dan melestarikannya. Misalnya dalam PA atau pembinaan khusus dan tema-tema kebaktian.

b. Perayaan lingkungan hidup dalam liturgi. Misalnya membuat ibadah khusus untuk merayakan hari lingkungan hidup. Dalam ibadah, ada baiknya kita melakukan penyesalan dosa terhadap alam semesta karena ulah manusia yang telah merusak alam. Penting juga untuk menciptakan dan menyanyikan lagu-lagu rohani yang bertemakan alam.

c. Menyuarakan suara kenabian terhadap kerusakan lingkungan hidup.

Gereja perlu menyuarakan kritik atau memberikan masukan-masukan bagi masyarakat ataupun pemerintah terkait dengan upaya melestarikan lingkungan hidup.

d. Menata lingkungan gereja dengan memperhatikan keseimbangan ekologis. Misalnya jangan habiskan tanah untuk mendirikan bangunan tapi berikan ruang untuk tanam-tanaman. Kita bisa membangun lingkungan gereja yang hijau dan asri.

e. Gerakan penanaman pohon bagi seluruh warga gereja.

f. Mengajak anggota jemaat membudayakan gaya hidup yang ramah dan dekat dengan alam, misalnya dengan memisahkan sampah plastik, membuat lingkungan sekitar rumah menjadi hijau dengan tanam-tanaman.

g. Membangun kerjasama dengan lembaga atau kelompok pecinta alam, misalnya WALHI, untuk memperjuangkan pembangunan yang berwawasan ekologis.



 

[1] Ekologi berasal dari kata Yunani “oikos” berarti rumah tempat tinggal atau lingkungan hidup atau ruang hidup. Ekologi merupakan ilmu mengenai hubungan antara makhluk-makhluk hidup dengan lingkungan hidup mereka. Dalam ekologi, kita melihat bahwa bumi mengalami proses dinamis yang melibatkan manusia dan makhluk-makhluk hidup dalam interaksi yang saling mempengaruhi sehingga terwujud suatu keseimbangan. Lingkungan tempat berlangsungnya proses dinamis itu disebut ekosistem yaitu aturan atau tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi dan saling bergantung (interdependen). Bumi ini dapat dipandang sebagai ekosistem besar yang di dalamnya terdapat berbagai macam ekosistem kecil. Jadi secara ringkas dapat dikatakan semua ekosistem meliputi interaksi antara lingkungan biotik (alam hidup: tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia) dan lingkungan abiotik (alam tak hidup: tanah, air, udara, batu dll).Bumi dengan segala ekosistem yang ada, makin hari makin mengalami kerusakan. Kerusakan itu seringkali disebabkan oleh pengelolaan ekosistem yang salah oleh manusia. Inilah yang disebut dengan ketidakadilan ekologis.

 

[2] W.E. Vine, et.al., Vine’s Complete Expository dictionary of Old and New Testament Words. Nashville: Thomas Nelson Publiser, 1985 hlm.240.

 

[3] Kita juga dapat membandingkan hal ini dengan PB, yaitu karya pemeliharaan Allah pada seluruh ciptaan dalam Matius 6:26-30.

 

[4] Eduard Lohse, Collosians and Philemon; A Comentary on the Epistle to the Colossians ang to Philemon. Philadelpia, Fortress Press 1971, hlm.59-60.

 

[5] Celia Deane-Drummend, Opcit., hlm 36.

 

[6] Lih. Wesley Granberg-Michaelson, Menebus Ciptaan. Jakarta: BPK Gunung Mulia 1997, hlm.85.

 

[7] J.B. Banawiratma, 10 Agenda Pastoral Transformatif. Yogyakarta: Kanisius 2002, hlm. 73.

Ambil dan Bacalah edisi ketiga Juni 2007, Departemen Pengajaran.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

4 Comments for this entry

  • Saya merasa ngeri saat melihat dimana telah banyak terjadi penggundulan besar-besaran (masif), mempertontonkan ketamakan manusia pada alam yang memberikan kita anugrah yang berharga dalam kehidupan, saya adalah seorang mahasiswa yang aktif dalam kegiatan kampus. Dalam kesempatan yang berbahagia ini saya berharap dapat mendapatkan program maupun kegiatan-kegiatan keagamaan dengan lingkungan hidup melalui suplemengki ini, terimakasih.

  • wissel says:

    Terimakasih atas Perenungan ini. Saya sangat setuju bahwa Gereja harus semakin bersungguh2 memberitakan Injil yang ekologis, karena Karya keselamatan yang dikerjakan oleh Kristus memang tidak terpisahkan dari ekologi. Dia memberikan diriNya untuk membuat segala sesuatu baru termasuk sikap manusia terhadap lingkungan hidup. Keselamatan yang dikerjakanNya juga untuk lingkungan hidup. Jika dunia cenderung mengeksploitasi bumi makan Gereja atau orang percaya haruslah sebaliknya mengelola dan memelihara. Orang percaya tidak boleh serupa dengan dunia ini (Rm 12:2).

  • della says:

    syalom..artikelnya sgt menarik n trima kasih kn menambah wawasan kami. oh yach artikelnya nggak bisa dicopy yach.. saya kepingin copy artikel ttg gereja dan lingkungan hidup. gimana yach? trims untuk bantuanya Tuhan Memberkati .

  • dani says:

    ijin copas buat tambahan materi lomba artikel gerejawi yah..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»