suplemenGKI.com

Jumat, 22 Januari 2010 ; Nehemia 9:1-38

Nehemia pasal 9 adalah kelanjutan kisah perayaan pondok daun yang digambarkan dalam pasal 8. Nampaknya perayaan tersebut memang berkelanjutan dalam jangka waktu yang cukup lama. Bangsa Israel bukan hanya larut dalam rasa sukacita karena keberhasilan membangun kembali Yerusalem, melainkan juga karena hati mereka telah dipulihkan untuk kembali terarah kepada Allah.

  • Mengapa orang Israel Pada hari yang kedua puluh empat bulan itu berkumpul dan berpuasa dengan mengenakan kain kabung dan dengan tanah di kepala (ay.1)?
  • Mengapa Keturunan orang Israel memisahkan diri dari semua orang asing (ay. 2)?
  • Menurut Saudara, mengapa orang Israel pada waktu itu dapat tahan beribadah selama setengah hari (seperempat hari digunakan untuk mendengarkan pembacaan bagian-bagian dari kitab Taurat TUHAN, sedangkan seperempat hari lagi digunakan untuk mengucapkan pengakuan dan sujud menyembah kepada TUHAN, Allah mereka?

 

Renungan

Pasal 9 ini dimulai dengan sebuah pernyataan, “Pada hari yang kedua puluh empat bulan itu”. keterangan waktu ini merujuk pada bulan ketujuh, bulan Tisri atau sekitar bulan September. Ini adalah hari kedua setelah pesta hari raya pondok daun berakhir. Pada saat itulah bangsa Israel dicatat sedang menjalani masa perkabungan. Hal ini dapat kita lihat dari tindakan-tindakan mereka seperti mengenakan kain kabung dan dengan tanah di kepala.

Indikator lainnya adalah bagaimana mereka berupaya untuk memisahkan diri dari semua orang asing yang ada di sekitar mereka. Sangat mungkin orang asing tersebut adalah orang non Yahudi yang mereka nikahi. Pernikahan semacam ini telah mendukakan hati Allah. Dengan menikahi orang non Yahudi, sesungguhnya orang Israel itu telah menunjukkan ketidaktaatan mereka. Dan kini, mereka mengakui segala dosa dan kesalahan mereka.

Dengan hati yang bertobat itu mereka terus menerus merenungkan kebenaran firman Tuhan. Firman yang telah membuka hati mereka serta memimpin mereka pada pertobatan itu semakin diijinkan untuk menguasai kehidupan mereka. Semakin Firman itu diijinkan menguasai kehidupan mereka, semakin mereka mengalami pertobatan dan pembaharuan hidup. Demikianlah pertobatan dan perenungan Firman itu terus saling terkait membentuk rajutan kehidupan yang baru.

Betapa sering pertobatan kita tidak bertahan lama sehingga kita menjadi orang kristen tomat, sebentar bertobat, sebentar lagi kumat. Hari ini tersentuh oleh Firman Allah, tapi esok kembali lupa akan Allah. Dari perenungan hari ini kita dapat melihat betapa penting untuk terus menerus merenungkan Firman Allah dari hari ke hari. Kalau kita mau terus membuka diri untuk Firman Allah maka kita tidak akan menjadi orang Kristen tomat.

 

”Mana mungkin kita bisa berubah dan menghasilkan buah, jika kita tidak membiasakan diri menyerap Firman dengan benar, hingga hidup kita diubah.”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*