suplemenGKI.com

Senin, 5 Oktober 2015

 Ayub 23:1-12

Pengantar

Seorang ibu, penderita kanker, terbaring lemah dalam kesakitan di atas ranjang. Seorang temannya datang mengunjunginya. Si teman mengatakan, “Mengapa sakitmu tak kunjung sembuh? Lakukanlah instropeksi diri, apakah dosa yang telah kau lakukan sehingga TUHAN menghukummu seperti ini. Bertobatlah agar TUHAN menyembuhkanmu!”  Si ibu hanya terdiam mendengar nasihat temannya namun batinnya bergolak. Begitulah kiranya perasaan Ayub yang kita baca dalam bacaan hari ini. Marilah kita merenungkannya.

Pemahaman

  • Ayat 1-2  : Apakah yang sedang dirasakan Ayub ketika mendapatkan nasihat dari Elifas ?
  • Ayat 3-6  : Siapakah yang dirindukan Ayub di tengah pergumulan penderitaannya?
  • Ayat 7-12: Bagaimanakah iman Ayub di tengah penderitaannya?

Ayub sepertinya tidak tahu harus bagaimana lagi menanggapi nasihat Elifas.Ia merasa tidak ada gunanya berbantah-bantah lagi dengan sahabat yang tidak lagi mendukungnya, bahkan cenderung mendakwanya. Oleh karena itu, Ayub mengarahkan pengharapannya kepada ALLAH. Ayub jarang menyebutkan kehilangan kekayaan; ia hampir tidak menyinggung kesedihannya yang mendalam atas kehilangan semua anaknya; kehilangan kehadiran ALLAH-lah yang diratapinya. Di tengah segala kesengsaraannya ia ingin bertemu dengan ALLAH dan berdekatan dengan Dia. (bdk. Ayub 13:24; 16:19-21; 29:2-5 ). Ayub sungguh merindukan ALLAH.

Ayub mengharapkan ALLAH bersedia mendengarkan pembelaan dirinya, bahkan berkenan pula menjawabnya (ayat 3-7). Ayub yakin bahwa ia tidak bersalah.  Bahkan ia merasa tetap  setia  mengikut ALLAH dan melakukan perintah-Nya. Ia selalu menuruti jalan yang ditunjukkan ALLAH. Ayub juga yakin bila ALLAH mengujinya, ia akan  muncul seperti emas. Semakin ditempa, semakin murni dan berkilau(ayat 10-12).Namun Ayub bergumul apakah ALLAH sudi mendengarkan perkaranya?

Bergumul dengan penderitaan baik secara fisik maupun rohani memang tidak mudah. Penderitaan ini bertambah berat kalau orang-orang terdekat tidak bersimpati dengan penderitaan kita, malahan melontarkan berbagai gosip dan fitnah yang  cenderung menghakimi. Apakah Saudara pernah mengalami pergumulan yang serupa? Saat Saudara merasa sendiri di tengah penderitaan; tak didukung dan dikuatkan teman dan keluarga, janganlah kehilangan pengharapan. Datanglah di hadapan hadirat ALLAH dan curahkanlah isi hati Saudara kepada-Nya.   Lebih baik Saudara mencari ALLAH sebagai Pembela. Jangan ragukan Dia. Ingatlah bahwa ALLAH tidak pernah meninggalkan Saudara.

Refleksi:

Rasakanlah hembusan lembut angin yang menerpa tubuh Saudara. Bersamaan dengan hembusan angin, bayangkanlah Roh ALLAH hadir berhembus dalam seluruh hidup Saudara. Bila Roh ALLAH selalu menghembusi Saudara, apakah Saudara yakin bahwa ALLAH tahu apa yang sedang menjadi pergumulan hidup Saudara? Apakah Saudara yakin bahwa ALLAH adalah Pembela hidup Saudara?

Tekadku

Ya TUHAN, mampukanlah aku selalu percaya bahwa Engkaulah Pembelaku. Kuatkanlah aku di tengah pergumulan hidupku

Tindakanku.

Aku akan mengunjungi teman yang sedang memiliki pergumulan hidup yang berat dan membutuhkan dukungan sahabat. Aku akan mendengarkan keluh kesahnya dan mendoakannya, bukannya menghakiminya, agar dia dapat merasakan kehadiran ALLAH , Pembela hidupnya, melalui kehadiranku.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»