suplemenGKI.com

Jumat, 18 November 2011

Efesus 1: 17-19

Doa syafaat adalah doa yang memperjumpakan pergumulan dan kehidupan orang lain di hadapan TUHAN.
Pokok-pokok doa apakah yang sering kita naikkan kepada orang lain? Pernahkah Saudara mendoakan pertumbuhan iman orang lain?
Pendalaman teks

Bagian ini merupakan doa syafaat Paulus. Bagaimanakah isi doa Paulus untuk jemaat Efesus?

Renungan

Dalam doa syafaatnya, Paulus mendoakan jemaat Efesus. Paulus memohon kepada TUHAN agar:
1. Jemaat terus diajar dalam pengetahuan tentang ALLAH dan jalan-jalan-Nya (ayat 17, 18)
Dalam hal ini Paulus memohon agar jemaat dipenuhi roh hikmat dan wahyu agar mata hati mereka mengalami terang TUHAN.

2. Jemaat lebih teguh berpegang pada pengharapan di dalam keselamatan dari TUHAN YESUS KRISTUS

3. Kuasa ALLAH memperlengkapi mereka.

Manakah yang lebih banyak kita lakukan: berdoa untuk kekuatan iman diri sendiri ataukah berdoa pula untuk kekuatan iman orang lain? Tidak semua orang memiliki jalan yang lancar ketika mereka melangkah dalam perjalan hidup beriman. Ada banyak kendala, kesulitan dan hambatan yang bisa membuat orang mengalami kelemahan iman, atau bahkan mengalami kemunduran iman. Adalah sebuah kebahagiaan, apabila memiliki saudara yang menemani dan mendoakan perjalanan pertumbuhan iman. Mendoakan kekuatan iman orang lain adalah tanggungjawab kita. Mungkin salah satu anggota keluarga atau pun teman kita masih berada dalam kondisi iman yang dangkal atau bahkan sedang berada dalam kegelapan. Doakanlah mereka. Mintalah kuasa TUHAN menaungi mereka sehingga mereka makin kokoh dalam kedewasaan iman. Pastikanlah lampu doa Saudara bagi mereka terus menyala.

Pengalaman Ibu Monika yang setia mendoakan pertobatan dan pertumbuhan iman, anaknya yaitu Agustinus menjadi teladan kita. Ibu Monika tidak lelah dan putus asa untuk terus berdoa bagi anak yang dirindukan hidup benar dan sungguh beriman. Doa Ibu Monika didengar TUHAN. Agustinus pun akhirnya berjumpa TUHAN dan menjadi teladan iman. Kita juga mengenal pertumbuhan iman Timotius. Iman itu bertumbuh dan berkembang antara lain karena ibu dan neneknya terus mendoakan.

Berdoa bukan sekedar meminta sesuatu yang secara fisik dapat segera terwujud di hadapan kita. Berdoa adalah perjumpaan kita dengan TUHAN dan memperjumpakan kasih kita kepada orang lain dihadapan TUHAN.

Pada suatu hari dua orang kakak beradik mendaki gunung bersama. Ketika mereka berada di tengah perjalanan menuju puncak, langit mendung dan angin ribut menerjang mereka. Hari menjadi gelap. Mereka ketakutan lalau berdoa. Si kakak berdoa: “ TUHAN tolonglah saya , selamatkan saya!’ Si adik berdoa pula: “ TUHAN, dengarlah doa kakak saya: selamatkan dia, kabulkanlah permohonannya.” Setelah 1 jam cuaca buruk, mendung pun berlalu, angin pun reda. Ada regu penolong yang mengevakuasi mereka dari atas gunung. Si kakak berkata: “ Terimakasih TUHAN, engkau sungguh baik. Engkau mengabulkan permohonan saya”. Tiba-tiba dia mendengar suara lembut ROH TUHAN yang berbisik: “ Anak-Ku, sesungguhnya doa adikmu yang dikabulkan”.

Ilustrasi di atas mau mengatakan bahwa doa untuk keselamatan bahkan kekuatan iman dan kebaikan orang lain didengar oleh TUHAN. TUHAN selalu menanti untuk melihat seberapa besar kasih kita kepada orang lain; apakah dari hati kita yang terdalam kita sungguh mengasihi orang lain dan mendoakannya.

Harapan dunia ini menjadi lebih baik perlu ditindaklanjuti dengan mendoakan agar semua orang di dunia hidup beriman secara dewasa.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*