suplemenGKI.com

Kejadian 18 : 20 – 32

Orang-orang Kristenmemahami doa sebagai sarana komunikasi dengan Tuhan, namun biasanya hanya komunikasi satu arah: hanya untuk meminta dan meminta terus. Itulah sebabnya banyak orang merasa kecewa dan menganggap doanya gagal karena tidak memperoleh apa yang dimintanya. Keberhasilan doa diukur hanya dari dikabulkan atau tidaknya doa itu. Padahal, komunikasi yang sehat haruslah terjadi dalam dua arah. Jadi, setelah berdoa, seharusnya kita bukan hanya menunggu doa kita dikabulkan, tapi juga bertanya tentang apa yang hendak Tuhan ajarkan kepada kita.
Dalam perikop kita, jelas terlihat bahwa doa memang komunikasi dua arah. Abraham berbicara kepada Tuhan, namun ia juga memasang telinganya untuk mendengarkan respon Tuhan. Abraham menyampaikan keinginannya kepada Tuhan, namun dia juga membuka hatinya untuk apa yang dikehendaki oleh Tuhan. Tawar-menawar antara Abraham dan Tuhan dalam perikop ini memang berlangsung cukup alot, mulai dari angka 50 sampai 10. Abraham cukup gigih memperjuangkan apa yang diinginkannya. Tuhan juga sangat murah hati mendengarkan keinginan Abraham. (Sebagai pembanding, mungkinkah Anda mendapatkan seorang pedagang di pasar yang bisa bersikap murah hati seperti ini? Anda menawar dengan angkan 50, dia OK. Tapi Anda menawar lagi dengan angka 45, dia OK lagi. Tapi Anda malah menawar lagi dengan angka 40. Bagaimana? Saya yakin, sebelum mencapai angka 10, dia akan mengusir Anda pergi dari hadapannya!). Jadi, sangat jelas bahwa memang Tuhan murah hati. Namun, sekali lagi, ini hanya salah satu sisi dari doa. Masih ada sisi lain yang perlu kita lihat.
Tuhan memberitahu Abraham mengenai rencana-Nya terhadap Sodom dan Gomora, mengapa? Jawabnya terdapat di ayat 17-19. Pertama, karena Tuhan sudah mengangkat Abraham sebagai mitra-Nya untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa (ay.17-18). Kedua, karena Tuhan telah memilih Abraham untuk mengajarkan “kebenaran dan keadilan” (ay.19). Karena itulah tawar-menawar antara Abraham dan Tuhan berakhir di ayat 32, ketika Tuhan berfirman: “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu.” Sepuluh apa? Sepuluh orang benar (ay. 23). Di Sodom dan Gomora terdapat ribuan orang jahat, namun sepuluh orang benar sudah cukup bagi Tuhan untuk menunjukkan kemurahan-Nya kepada mereka. Dengan demikian, Tuhan hendak menunjukkan kepada Abraham (dan juga kepada kita) betapa pentingnya kehadiran orang-orang benar di tengah masyarakat. Sesuai dengan ayat 19, orang-orang benar di sini adalah orang-orang yang “tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN.” Di satu sisi, tawar-menawar Abraham dengan Tuhan menunjukkan kemurahan Tuhan kepada kita, umat-Nya. Di sisi yang lain, tawar-menawar itu juga menegaskan kehendak-Nya bagi kita, yaitu agar kita tetap hidup menurut jalan-Nya.
Bagaimana dengan doa kita? Sama seperti kepada Abraham, Tuhan juga menyediakan kemurahan-Nya untuk mendengarkan setiap keinginan kita. Tuhan juga setia dan konsistenmemegang firman-Nya. Namun, pernahkah kita memikirkan apa yang dikehendaki-Nya bagi kita? Kita memang patut bersyukur dan bersukacita bila doa kita dikabulkan-Nya. Namun, kita juga tidak boleh lupa bertanya: “Apa yang Tuhan kehendaki dengan kemurahan-Nya yang telah aku terima ini?”
(TW)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*