suplemenGKI.com

Sabtu, 7 Juni 2014

Yohanes 20:19-21

Pengantar
Pada saat ketakutan melanda, manusia cenderung mengunci diri. Dan ini berarti karya pun terhenti. Apakah Anda punya pengalaman seperti itu? Marilah kita merenungkannya.

Pemahaman
• Ayat 19 : Mengapa para murid berada di ruangan dengan pintu-pintu yang terkunci?
• Ayat 20 : Apakah yang dirasakan dan dialami para murid setelah melihat
kehadiran KRISTUS yang telah bangkit di tengah mereka?
• Ayat 21 : Apakah landasan pengutusan para murid?

Murid-murid YESUS telah terpenjara oleh rasa takut mereka sendiri. Mereka berkumpul di dalam ruangan yang terkunci karena khawatir akan sikap pemimpin-pemimpin Yahudi terhadap mereka setelah kematian YESUS. Apalagi jasad YESUS pun kemudian hilang dari kubur. Hidup mereka saat itu seperti sebuah sasaran tembak, setiap saat dan tanpa terduga bisa saja terkena tembak. Tak heran bila murid-murid YESUS jadi menyembunyikan diri rapat-rapat. Di ruangan yang terkunci itulah YESUS tiba-tiba hadir di tengah-tengah para murid untuk mengutus mereka supaya mereka menyatakan keselamatan bagi umat manusia. Bagaimana mungkin murid-murid yang masih ketakutan mampu menjalani perutusan TUHAN?

Jawabannya ada pada kehadiran YESUS di tengah-tengah mereka yang menerobos segala keterbatasan. Ia hadir bukan untuk menegur sikap pengecut mereka yang melarikan diri dan meninggalkan-Nya saat Ia di salib. YESUS hadir untuk menyatakan damai sejahtera bagi mereka.Damai sejahtera itu bukan didasarkan pada kondisi iman para murid melainkan pada kehadiran YESUS yang sudah bangkit. Oleh karena itu rasa takut menguap, berganti dengan damai sejahtera yang memenuhi hati. Dalam damai sejahtera inilah mereka diutus. YESUS berkata: “ .. Sama seperti BAPA mengutus Aku, demikianlah juga sekarang AKU mengutus kamu.” ( ayat 21)

Perhatikanlah landasan pengutusan mereka adalah “Sama seperti Bapa mengutus Aku” Kesamaan pengutusan itu terletak dalam dua hal. Pertama di dalam fakta bahwa misi para murid adalah meneruskan misi YESUS dari BAPA. Misi tersebut adalah membawa kabar baik keselamatan bagi dunia ini. Kedua, misi itu harus dijalankan persis seperti cara YESUS menjalankannya, yaitu di dalam ketergantungan penuh kepada BAPA.

Refleksi
Apakah aku masih dikuasai ketakutan ataukah telah berani membuka hati untuk menjadi utusan TUHAN? Apakah aku dapat merasakan kehadiran TUHAN yang meneguhkan?

Tekadku
TUHAN, bukalah hatiku, jernihkan pikiranku, agar aku siap menjadi utusan-Mu.

Tindakanku
Setiap hari aku akan menyediakan waktu untuk berada dalam keheningan agar peka merasakan kehadiran TUHAN yang memberi damai sejahtera. Dengan damai sejahtera anugerah TUHAN, aku siap bangkit dari ketakutan dan melangkah maju menjadi utusan-utusan TUHAN.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*