suplemenGKI.com

Markus 10:2-16

“Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”
Serombongan turis Amerika yang berwisata di pedalaman Tiongkok berpapasan dengan arak-arakan meriah. Sebuah arak-arakan pernikahan; pengantin pria sedang menjemput pengantin wanita untuk menuju balai pesta. “Siapa yang wajahnya ditutup cadar tebal itu?” tanya para turis. “Pengantin wanita,” sahut pemandu lagi. “Mengapa wajahnya harus ditutup?” “Di desa ini, orangtua menjodohkan anak-anaknya, dan seorang pengantin dilarang melihat calon pasangannya sampai resmi menikah,” jelas si pemandu.
Seorang turis penasaran: “Di negara saya, setiap orang memilih jodohnya sendiri, bahkan ada yang sudah serumah sebelum menikah, angka perceraian sangat tinggi. Di sini, pasti jauh lebih tinggi ya?” Dengan heran si pemandu menjawab: “Di sini justru hampir tak ada perceraian.” “Apa rahasianya?” tanya turis itu lagi. Si pemandu terdiam lama sebelum menjawab: “Di negara Anda, orang menikah dengan orang yang mereka cintai. Di sini, nenek moyang kami mengajar bahwa kami harus mencintai orang yang kami nikahi”.
Ini mungkin hanyalah sebuah tradisi dari sebuah kebudayaan disebuah negara. Namun tradisi ini mengajarkan kepada kita, bahwa pernikahan adalah sesuatu yang sangat penting dan serius. Bahkan jauh sebelumnya, Tuhan Yesus sudah mengajarkan kepada kita bahwa “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”
Pernikahan adalah salah satu kehendak Tuhan bagi manusia. Sejak manusia diciptakan di Taman Eden, Allah sudah merencanakan bahwa seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging (Kej 2:24). Kalimat yang sama dikutip lagi oleh Tuhan Yesus ketika orang Farisi datang kepadaNya dan menanyakan apakah mereka boleh menceraikan isteri dengan alasan apapun (ay. 3). Memang dahulu Musa pernah memberikan peraturan bahwa seorang laki-laki dapat menceraikan isterinya (Ul 24:1-4), sehingga orang Farisi mencoba untuk menjebak Yesus dengan pertanyaan mereka tadi.
Tapi jawaban Yesus sungguh luar biasa. Tuhan Yesus mengatakan bahwa dari semula Tuhanlah yang menciptakan manusia laki-laki dan perempuan, dan ketika mereka bersatu menjadi satu daging (dalam hal ini berarti menikah), itu pun adalah rencana Allah (ay. 4-5). Pernikahan bukanlah inisiatif dari manusia, tetapi dari Allah. Sama seperti Allah yang berinsiatif untuk menjadikan Hawa sebagai pasangan Adam, demikian juga Allah tetap menjadi pihak yang berinisiatif dalam sebuah pernikahan.Oleh karena pernikahan adalah inisiatif Allah, maka tidak ada yang dapat menggugat apa yang Allah telah lakukan.
Mari, teruslah berjuang untuk mempertahankan keutuhan pernikahan kita, karena itulah yang Allah kehendaki didalam kehidupan kita. Teruslah berjuang dengan terus menerus mempercayakan Tuhan untuk memimpin keluarga kita, sehingga menjadi keluarga yang memuliakan Tuhan.

SELAMAT BERJUANG DAN TERUSLAH MENGANDALKAN TUHAN

(YTP)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Next Post
»