suplemenGKI.com

“Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir” (Kej. 45:8).
Membayangkan sosok yang dipanggil untuk memerdekakan, maka yang muncul dalam benak adalah sosok yang heroik, memenangkan berbagai pertempuran bak di film-film laga ataupun kisah-kisah legenda. Kira-kira apakah Yusuf merupakan sosok seperti itu? Sepertinya tidak.
Profil Yusuf muncul dengan gambaran awal sebagai pribadi yang disayangi ayahnya, dan karena itu maka ia dipecundangi saudara-saudaranya. Ia ditangkap hidup-hidup oleh saudara-saudaranya yang berikhtiar untuk membunuhnya, akan tetapi kemudian “hanya” dimasukkan ke dalam sumur, setelah itu dijual seharga 20 syikal kepada para saudagar Midian, dan berujung pada menjadi budak di rumah Potifar, pembesar Mesir.
Kisah selanjutnya lebih menggetarkan lagi. Seakan-akan mampu membalikkan posisinya sebagai budak, Yusufpun berhasil mencapai “puncak kariernya” dengan menjadi orang kepercayaan Potifar dalam mengatur seluruh urusan rumah tangga Potifar. Namun justru di puncak kariernya itu, Yusuf malah kembali terjungkal. Ia dimasukkan ke dalam penjara, bukan karena ditangkap KPK, melainkan karena difitnah.
Memang tragis apa yang dialami Yusuf. Tapi, kata orang, lakon menang mburi (kemenangan pahlawan ada di babak akhir). Yusuf patut disebut sebagai orang yang memerdekakan, karena memang dialah yang menyelamatkan Mesir dari bahaya kelaparan besar selama 7 (tujuh) tahun. Seluruh proses keterpurukannya, baik itu di dasar sumur, sebagai budak, maupun di dalam penjara, merupakan jalan yang dipakai Tuhan untuk memanggil Yusuf sebagai orang yang memerdekakan.
Ada suatu hal yang indah tatkala kita mencermati kalimat Yusuf dalam ayat yang dikutip di atas. Yusuf mengatakan, “bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah”. Sangat jelas tergambar bagaimana Yusuf menyadari ada campur tangan Allah dalam seluruh proses hidup yang telah dilaluinya, sekaligus akan panggilan Tuhan dalam hidupnya. Marilah kita menjalani hidup ini dengan sikap yang diteladankan Yusuf. Usahlah kita berkutat dengan keluh kesah atas segala pergumulan yang ada, karena kita percaya bahwa Tuhan memanggil kita untuk memerdekakan sesama. (Razamu)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*