suplemenGKI.com

Dipanggil Dan Diutus

06/08/2012

(Yehezkiel 2:1-5 & 2Korintus 12:2-10)

Setiap orang yang telah menjadi umat Allah atau telah diselamatkan di dalam Tuhan Yesus Kristus, harus menghayati bahwa posisi tersebut akan mengantar-nya pada tugas perutusan dari Tuhan yang telah menyelamatkannya. Dengan demikian dia harus siap sedia meresponi panggilan Tuhan untuk mengerjakan tugas perutusan dari Tuhan kapanpun, kepada siapapun dan dalam keadaan apapun.
Dalam Yehezkiel pasal 2 ini, dikisahkan tentang Allah mengutus Yehezkiel kepada umat Israel yang sedang berada dalam pembuangan di Babel akibat pemberontakan, keras kepala dan tegar hati mereka kepada Allah (Yehezkiel 2:3-4). Ada dua prinsip yang harus dihayati oleh Yehezkiel dalam tugas perutusannya kepada bangsa Israel, Pertama: Ia harus siap sedia dan taat menyambut tugas perutusan dari Allah. Kita bisa membayangkan bagaimana sulit dan beratnya menghadapi atau melayani bangsa yang karakteristiknya pemberontak, keras kepala dan tegar hati. Ungkapan pemberontak, keras kepala dan tegar hati seolah menjelaskan betapa tidak mudahnya melayani obyek yang demikian. Tidak menutup kemungkinan Yehezkiel akan mengalami penolakan, menghadapi perlakuan yang tidak baik dan sebagainya. Tetapi sebagai pribadi yang dipanggil dan diutus Tuhan, maka Yehezkiel harus taat, setia dan sedia melakukan tugas panggilannya. Ke dua: Dalam tugas panggilannya, ia harus menyampaikan perkataan-perkataan atau firman Tuhan. Tidak mudah untuk konsisten menyampaikan firman Tuhan dalam tugas perutusan ketika situasi, kondisi dan respons dari obyek tidak mendukung. Kita bisa mudah tergoda untuk kompromi, tergoda untuk menyampaikan pikiran diri sendiri atau terbawa arus obyek yang kita layani atau bahkan segera mundur dari panggilan itu. Untuk menghindari hal-hal demikian maka Allah berpesan kepada Yehezkiel “Sampaikanlah perkataan-perkataan-Ku kepada mereka, baik mereka mau mendengar atau tidak…Dan engkau, anak manusia, dengarlah apa yang Ku-firmankan kepadamu; janganlah memberontak seperti kaum pemberontak ini” (Yeh 2:7-8).
Terkadang kita menjadi gentar, takut dan bahkan tidak meresponi panggilan Tuhan yang mengutus kita untuk melayani sesama atau gereja karena kita tidak siap berhadapan dengan tantangan seperti yang dikisahkan dalam Yehezkiel 2 ini. Apalagi ketika kita merasa bahwa kita adalah orang yang banyak kelemahan. Kita akan cepat berkata “Aku tidak sanggup atau aku tidak siap dan aku tidak bersedia”.
Rasul Paulus mengajar kita dalam 2Korintus 12:2-10. Dia tidak memungkiri bahwa sebagai manusia biasa dia memiliki banyak kelemahan, salah satunya dia sebut “duri dalam daging” (2Kor 12:7) Namun dia tidak menjadikan itu sebagai alasan untuk tidak taat, tidak setia dan tidak sedia menerima dan mengerjakan tugas panggilan yang Tuhan percayakan kepadanya. Sebaliknya dia menyadari ketika dia lemah maka Tuhan yang mengutusnya akan memberikan kekuatan kepadanya. Sebab Tuhan telah memberikan kasih karunia yang cukup kepadanya, yaitu mempercayakan tugas panggilan untuk menjadi utusan-Nya, memberitakan firman-Nya kepada orang yang membutuhkan firman Tuhan untuk mengubah dan memperbaharui hidup yang tersesat. Mari saudara kita terus taat, setia dan sedia mengerjakan tugas panggilan Tuhan dalam pelayanan kita, walaupun harus berhadapan dengan tantangan, penolakan atau hambatan bahkan sekalipun kita merasa begitu banyak kelemahan. Percayalah ketika kita taat, setia dan sedia maka kita akan dimampukan oleh Tuhan sebab kasih karunia Tuhan cukup bagi kita. Amin.
—— ANDA ——

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*