suplemenGKI.com

Senin, 25 April

Kisah Rasul 2:14-21

Sungguh, merupakan suatu hal yang menyenangkan ketika kita melihat seekor ulat dalam kepompong yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Melihat perubahan yang positif adalah suatu hal yang menggembirakan. Bukan hanya karena perubahan semacam itu merupakan suatu hal yang indah, tetapi juga akan menghasilkan sesuatu yang indah pula. Dalam bacaan hari ini, kita akan merenungkan perubahan positif beserta dengan dampak positifnya pula.

-          Apakah Saudara cukup mengenal Petrus, murid Kristus? Ketika mendengar nama Petrus, apa sajakah yang terlintas di benak Saudara? Bagaimana pula gambaran Saudara tentang sosok Petrus dalam bacaan kita hari ini? Apakah ada perbedaan di dalam kedua gambaran tersebut?

-          Mengapa Petrus menjadikan hari baru pukul Sembilan sebagai dasar pembuktian bahwa orang-orang tersebut tidak mabuk?

-          Apa yang dimaksud dengan “hari-hari terakhir” oleh rasul Petrus? Apakah kita juga hidup dalam hari-hari terakhir itu?

Renungan:

Mungkin di mata kebanyakan orang, Petrus adalah sosok yang memiiki reputasi buruk. Dialah satu-satunya murid yang oleh Tuhan Yesus ditegur dengan keras, “Enyahlah Iblis” (Mat. 16:23; Mar. 8:33). Petruslah yang sesumbar, “Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” (Yoh. 13:37), tetapi kemudian hanya mengikuti proses pengadilan Yesus dari jarak jauh (Mat. 26:58), dan akhirnya menyangkal bahwa dia mengenal Yesus, bukan satu kali, tapi tiga kali; bukan di hadapan para pembesar, tapi di hadapan budak, sekalipun sebelumnya dia menyatakan tekad, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” (Mat. 26:35).

Tapi di sini, Petrus berdiri di hadapan ribuan orang mengkhotbahkan tentang Pribadi yang beberapa minggu sebelumnya disangkal. Petrus berkhotbah dengan tidak takut, melainkan dengan suara nyaring ia berkata: “Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini.” Dan melalui khotbahnya itu ada tiga ribu orang yang dibaptis (Kis. 2:41).

Mengawali khotbahnya, Petrus mematahkan tuduhan bahwa mereka mabuk oleh anggur, karena hari baru pukul Sembilan. Dalam kebudayaan Yahudi, pukul Sembilan adalah saat di mana orang Yahudi mempersembahkan korban. Dan sebelum mempersembahkan korban, biasanya mereka tidak makan atau minum. Dengan kata lain, Petrus ingin menyatakan bahwa mereka tidak sedang melanggar adat istiadat tersebut, terutama karena saat itu adalah “pertemuan kudus” Yahudi. Mereka tidak sedang mabuk oleh anggur, tetapi apa yang terjadi itu merupakan penggenapan nubuatan Perjanjian Lama.

“Hari-hari terakhir” yang dikutip oleh rasul Petrus dari Perjanjian Lama (kitab Yoel) adalah untuk menunjang pembuktian bahwa apa yang sedang terjadi itu sudah dinubuatkan. Allah akan mengirimkan Roh-Nya, dan itulah yang sedang terjadi. Dan sama seperti yang dilakukan Yoel, maka Petrus menyerukan pertobatan di akhir khotbahnya. Hari terakhir adalah hari di mana Allah melawat umat-Nya. Kita harus menyambutnya dengan mengoyakkan hati kita, menyambut dengan pertobatan kita.

Cara terbaik menyambut Tuhan adalah dengan merendahkan diri dalam pertobatan

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*