suplemenGKI.com

Senin, 1 Juni 2009
DIA KUDUS & MULIA, AKU LEMAH DAN HINA
Yesaya 6:1-7

Perikop ini mengisahkan penglihatan yang berisikan panggilan Yesaya sebagai nabi; terjadi di bait Suci pada tahun matinya raja Uzia ( sekitar 742 SM). Yesaya dipanggil ketika sedang mengikuti upacara persembahan korban bakaran yang dilakukan oleh para imam.

Ayat 1-4 : Apakah yang diperlihatkan oleh ayat-ayat ini tentang TUHAN?
Ayat 5 : Apakah yang dirasakan oleh Yesaya ketika berhadapan kemuliaan dan
kekudusan TUHAN?
Ayat 6-7 : Bagaimanakah tanggapan TUHAN terhadap kerendahan hati dan pengakuan
dosa Yesaya?

Renungan
Penglihatan yang dialami Yesaya dalam perikop ini menggambarkan betapa akrab dan dekatnya relasi Yesaya dengan TUHAN. Yesaya melihat betapa mulia dan kudusnya TUHAN. Serafim (makhluk-makhluk sorgawi) berdiri di sekeliling takhta ALLAH. Hal ini menegaskan kekudusan dan kemuliaan ALLAH, apalagi ketika para Serafim berseru: “ Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!”. Suasana kudus dan mulia yang dirasakan oleh Yesaya ini membuatnya merasa lemah dan hina di hadapan ALLAH.
Apa yang dirasakan Yesaya sangat berbeda dengan raja Uzia. Kematian raja Uzia dicatat dalam peristiwa ini untuk mengingatkan pembaca bahwa ada hal penting yang tidak boleh dilupakan dalam peristiwa kematiannya. Raja Uzia meninggal dunia sebagai penderita kusta karena mencemoohkan kekudusan ALLAH. Ia adalah seorang raja yang tinggi hati. (II Taw 26:16). Berbeda dengan raja Uzia, Yesaya benar-benar menyadari bahwa sesungguhnya dia tidak layak berada di hadirat TUHAN yang kudus dan mulia. Pernahkah Saudara merasakan hadirat TUHAN yang kudus dan mulia menyentuh Saudara? Apakah saat itu Saudara merasa layak di hadapan-Nya? Atau apakah Saudara juga merasakan diri ini lemah dan hina?
Pengakuan akan kelemahan dan kehinaan ini penting agar umat TUHAN dapat merasakan kemuliaan pengampunan TUHAN. Itulah yang dialami Yesaya. Secara simbolis dalam ayat 6-7 seorang dari para Serafim menyucikan Yesaya. Bara api diambil dari mezbah dan disentuhkannya pada mulut Yesaya. Ini berarti bahwa TUHAN mengampuni kesalahannya dan menghapuskan kenajisannya. Saat kita merendahkan hati di hadapan TUHAN, kuasa dan kemuliaan-Nya semakin kita rasakan. Sebaliknya saat kita meninggikan diri di hadapan TUHAN, kita akan direndahkan ( Yes 2:17 ).
Apakah Saudara ingin menikmati kemuliaan TUHAN dalam hidup Saudara? Bangunlah relasi yang akrab dengan TUHAN dan rendahkanlah dirimu di hadapan-Nya. Akhiri perenungan Saudara hari ini dengan menyanyi PKJ 129:
“ Kau perkasa, ‘ku lemah, jauhkan ‘ku dari cela.
Hatiku amat tentram, asal aku dekat pada-Mu.
Makin akrab pada-Mu. YESUS ini doaku:
Tiap hari , Tuhanku, biar aku dekat pada-Mu.”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*