suplemenGKI.com

Lukas 12:49-53

Secara sekilas, nampaknya gambaran sosok Kristus dalam nas kita hari ini sangat bertolak belakang dengan gambaran yang selama ini kita miliki. Bukankah kita mengenal Kristus sebagai Sang Mesias yang bergelar Sang Raja Damai sebagaimana dinubuatkan oleh nabi Yesaya (Yes. 9:5)? Lalu, mengapa dalam nas kita hari ini Kristus berkata, “Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-Ku kepadamu, bukan damai, melainkan pertentangan.” (Luk. 12:51). Bahkan gaya penulisan Matius lebih tegas lagi dengan memakai istilah “pedang” sebagai ganti kata “pertentangan” yang digunakan oleh Lukas (Mat. 10:34).
Satu hal yang harus selalu kita ingat dalam mencermati hal ini, yaitu Kristus senantiasa mengajarkan dan meneladankan pertentangan. Dalam khotbahnya di bukit, Ia berkata, “Berbahagialah orang yang membawa damai” (Mat. 5:9). Bahkan setelah pernyataan-Nya kalau Ia membawa pertentangan tersebut, Kristus mengajarkan, “Sebab, jikalau engkau dengan lawanmu pergi menghadap pemerintah, berusahalah berdamai dengan dia selama di tengah jalan…” (Luk. 12:58). Bahkan berita yang senantiasa dikumandangkan para murid-Nya adalah Injil damai sejahtera (Efe. 6:15), atau berita perdamaian (2Kor. 5:19). Kita akan dapat lebih melihat keagungan berita ini tatkala mengingat bahwa salah satu murid Kristus yang membawa berita damai sejahtera itu adalah seorang zelot yang berusaha untuk memberontak kepada orang Romawi. Sebelum Simon orang zelot itu menggemakan berita damai sejahtera, dia telah berhasil menunjukkan dalam perbuatannya, yaitu dengan hidup damai bersama Matius si pemungut cukai yang notabene bekerja bagi Romawi. Hal ini tidaklah mengherankan sebab Kristus sendiri memberikan teladan bukan hanya melalui pengajaran-Nya melainkan juga dengan perbuatan-Nya. Dia bukan hanya mengajarkan kasihilah musuhmu, tetapi juga memerintahkan Petrus untuk menyarungkan pedangnya pada waktu IA ditangkap di Getsemani.
Menilik respon orang atas kehadiran Kristus yang mengajarkan dan meneladankan hidup dalam damai itu, pada kenyataannya ada orang-orang yang menerimanya, tetapi ada juga yang menolaknya. Bahkan perbedaan respon itu sendiri bisa terjadi dalam sebuah keluarga besar maupun keluarga inti. Bukankah kerabat Kristus sendiri ada yang tidak mengakui kemesiasan-Nya, serta mengatakan bahwa DIA gila (Mar. 3:21)? Dalam pengertian inilah pertentangan tersebut terjadi.
Meski demikian, Kristus tetap berjuang menghadirkan damai di bumi ini, terutama memperdamaikan manusia dengan Allah, sehingga manusia bisa berdamai dengan dirinya sendiri, dan pada akhirnya dapat berdamai dengan sesamanya. Sudahkah kita meneladani Kristus dengan menghadirkan damai di bumi Indonesia? ( Razamu )

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*