suplemenGKI.com

D U S T A

24/09/2010

Fakultas kedokteran Temple University pernah mengadakan penelitian menarik tentang kebohongan. Mereka membentuk dua kelompok. Kelompok pertama diminta menceritakan sebuah kebohongan.  Kelompok kedua diminta untuk berkata benar. Selama aktivitas itu, respons otak mereka dianalisa dengan mesin MRI.  Hasilnya mencengangkan! Ternyata para “pembohong” mengaktifkan sembilan area di otaknya, sedangkan orang yang berkata jujur hanya memakai empat area. Jadi untuk berdusta, ternyata otak bekerja dua kali lebih keras!!
Berdusta itu mahal ongkosnya, tidak hanya melelahkan otak, tetapi juga menambah dosa serta menimbulkan masalah dengan orang lain, keluarga dan bahkan berpengaruh pada masyarakat di suatu kota!
Berikut daftar dosa yang mengikuti orang-orang yang sering bersikap tidak jujur:
ü     Amsal 11: 3, “orang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangnnya.”
ü    Amsal 11:11,” berkat orang jujur memperkembangkan kota, tetapi mulut orang fasik meruntuhkannya.”
ü    Amsal 14:11,” rumah orang fasik akan musnah, tetapi kemah orang jujur akan mekar.”

Dusta bila dibiarkan akan berkembang demikian rupa, sehingga menyerupai wabah yang akan menjangkiti masyarakat luas, dan bukan mustahil bahkan akan menjadi epidemi (penyakit menular) yang bersifat nasional. Bangsa Israel pada pada suatu masa pernah mengalaminya. Nabi Mikha menyatakan dengan tegas,”orang saleh sudah hilang dari negeri, dan tiada lagi orang jujur  di antara manusia (Mikha 7: 2)”. Lebih lanjut nabi yang sama menyaksikan,”orang yang terbaik di antara mereka adalah seperti tumbuhan duri, dan yang paling jujur di antara mereka seperti pagar duri.”
Dalam Perjanjian Baru ada kisah yang sangat dramatis tentang dosa dusta ini. Jemaat yang mula-mula dalam Kisah Para Rasul 15: 1-11 tentu berjuang untuk menjadi saksi bagi kebenaran Injil Yesus Kristus. Dusta adalah dosa yang bertolak belakang dengan tugas menjadi saksi.  Menjadi saksi haruslah berkata benar, oleh sebab itu ketika ada dua orang murid bersepakat dalam sebuah dusta, mereka dihukum dengan amat serius untuk menjadi peringatan bagi semua orang.  Ananias & Safira mengalami kematian karena yang mereka lakukan bukan hanya menodai ketulusan jemaat dalam hal saling mengasihi dan memberi. Mereka telah memberi dengan motivasi yang salah, yaitu agar dipuji dan dihormati sebagai orang yang saleh.
Satu hal lagi yang menyedihkan tentang Ananias & Safira adalah sikap mereka yang tidak tulus tersebut merupakan hasil kesepakatan suami istri (ayat 1-2)! Kita tidak tahu apakah mereka berdua telah memiliki anak atau tidak, tetapi yang pasti kematian mereka akan mengguncangkan seluruh kaum kerabat mereka. Betapa kejujuran sebagai suatu sikap harus dimulai dari rumah, anak-anak harus belajar sikap tersebut pertama-tama dari orang tua mereka (Amsal 1: 8; 13: 1).
Orang tua (baca: keluarga Kristen) memiliki tugas & tanggung jawab bukan hanya mengabarkan Injil, tetapi juga menjadi teladan sikap yang benar bagi anak-anak mereka. Dengan demikian anak-anak tidak hanya beroleh keselamatan dalam nama Tuhan Yesus Kristus, melainkan juga memiliki karakter Kristus yang kuat.  Selamat berjuang menjadi teladan bagi anak-anak dalam bersikap jujur!                                                                                                                                 TAPE

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*