suplemenGKI.com

Jumat, 3 Juli 2015

II Korintus 12:2-6

Pengantar

Bersaksi dalam sebuah persekutuan atau ibadah mungkin sering dilakukan. Namun melalui setiap kesaksian itu, siapa yang sesungguhnya kita tonjolkan? Tidak jarang manusia lebih menonjolkan dirinya sendiri bukan TUHAN. Pagi ini melalui teladannya, Rasul Paulus mengajak kita untuk menitikberatkan kesaksian pada ALLAH bukan pada diri manusia itu sendiri.

Pemahaman

  • Ayat 2-4         : Siapakah “orang Kristen” yang dimaksudkan Paulus di ayat-ayat ini?
  • Ayat 5-6         : Mengapa Paulus tidak bermegah atas dirinya?

Di bagian awal ini Rasul Paulus seakan-akan berbicara mengenai orang lain, padahal ia sedang berbicara mengenai dirinya sendiri. Ungkapan 14 tahun yang lalu mengacu kepada salah satu pengalaman Rasul Paulus. Pengalaman yang diceritakan kemungkinan setelah rasul Paulus melarikan diri dari Damsyik (band. 2 Kor. 11:33), yang disebutnya sebelum bercerita mengenai penglihatan tersebut. Ungkapan “entah dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu” artinya Rasul Paulus menyadari bahwa pengalaman tersebut merupakan pengalaman iman yang luar biasa yang terjadi karena ALLAH memperkenankannya.

Rasul Paulus menceritakan pengalaman itu untuk menegaskan kewibawaannya sebagai seorang rasul. Pengalaman itu merupakan peristiwa yang agung tetapi rasul Paulus tidak mau menjadikan pengalaman itu sebuah kesombongan, sekalipun hal itu adalah “kebenaran”. Ia menahan dirinya (ayat 6) supaya yang orang lain lihat bukanlah tentang dirinya, melainkan tentang apa yang ALLAH lakukan kepadanya. Dalam surat 2 Korintus (juga 1 Korintus), Rasul Paulus berkali-kali menekankan untuk tidak memegahkan diri, kecuali di dalam TUHAN, yaitu kemegahan yang bukan karena kemampuan atau kehebatan diri, tetapi karena kemampuan dan kehebatan dari TUHAN. Rasul Paulus menyatakan bahwa pengalamannya yang begitu megah adalah karena ALLAH yang melakukannya; karenanya, itu bukan alasan baginya untuk memegahkan dri. Dalam kelemahanlah Rasul Paulus ingin bermegah. Bermegah dalam arti menceritakan dan memberitahukan hal itu kepada jemaat. Mengapa demikian? Karena memang hanya Dialah yang patut dimegahkan, bukan diri kita manusia. Setiap helaan nafas, setiap darah yang terus mengalir, setiap organ tubuh yang terus bekerja setiap detik, semua itu adalah anugerah ALLAH yang dashyat yang memampukan kita untuk melakukan setiap hal di muka bumi ini. Jadi bukan aku, tetapi ALLAH.

Refleksi

Pejamkan mata Saudara, dan cobalah mengingat bagaimana Saudara menyampaikan pengalaman iman kepada orang lain! Apakah Saudara cenderung memegahkan diri atau memegahkan ALLAH? Siapa yang menjadi nomor satu, Saudara atau ALLAH?

Tekadku

Ya TUHAN, ampuni aku jika aku seringkali lebih memegahkan diriku sendiri ketika aku menyampaikan pengalaman imanku. Mampukan aku untuk menahan diri dan tidak memegahkan diriku tetapi menceritakan perbuatan-Mu yang ajaib dan agung melalui setiap pengalaman hidupku.

Tindakanku

Sepanjang hari ini, aku ingin mencatat setiap karya TUHAN dalam hidupku. Mulai dari hari ini, demikian juga tindakan ini akan berlanjut untuk hari-hari selanjutnya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*