suplemenGKI.com

Sabtu, 1 Oktober 2011

Matius 21: 33-41

Seorang pemuda mahasiswa merana dalam penyesalan karena ia kehilangan beasiswa yang selama 3 tahun menopang studinya . Ia adalah seorang yang pandai karena itu ia mendapatkan beasiswa prestasi dari kampusnya. Namun ketika memasuki tahun ke 4 perkuliahan, ia mulai punya pacar. Ia sibuk mengurusi pacar sehingga kurang waktu untuk belajar. Pada akhir semester barulah ia menyadari bahwa ia mengalami penurunan nilai drastis. Akibatnya ia harus rela beasiswanya diberikan kepada orang lain. Ia sangat kecewa lalu marah dan berkata-kata kasar pada pacarnya sebab ia merasa sang pacar terlalu manja dan tidak mandiri sehingga menghabiskan waktunya. Mendapat amarah tersebut, sang pacar tersinggung lalu meninggalkannya. Ia memutuskan hubungan. Sungguh malang nasib si pemuda.

Pendalaman teks Alkitab

Ayat 33 – 36 : Mengapa penggarap-penggarap kebun anggur itu membunuh hamba-hamba yang dikirimkan Sang pemilik kebun anggur?
Ayat 37-39 : Mengapa penggarap-penggarap kebun anggur itu membunuh anak yang dikirimkan Sang pemilik kebun anggur?
Ayat 40-41 : Apa yang akan dilakukan Sang pemilik kebun anggur terhadap para penggarap yang jahat?

Renungan

Pada saat TUHAN YESUS menceritakan perumpamaan ini, Palestina merupakan daerah yang miskin. Oleh karena itu di sana banyak tuan tanah yang pergi meninggalkan tanahnya untuk disewakan dan hanya datang untuk menarik uang sewa saja pada waktunya. Uang sewa itu dapat dibayar dengan tiga cara. Uang itu dapat dianggap sebagai ongkos sewa tanah; atau dalam bentuk buah anggur yang beratnya ditentukan, tak peduli apakah panen berhasil atau tidak atau dapat pula berdasarkan prosentase panen yang sudah disetujui bersama. Pada waktu itu, tindakan seperti yang dilakukan para penggarap kebun anggur dalam perumpaan ini biasa terjadi. Negeri Palestina dipenuhi dengan pergolakan karena persoalan ekonomi; para pekerja tidak puas dan memberontak. Tindakan para penggarap yang hendak membunuh anak pemilik kebun anggur itu bukanlah hal yang mustahil.

Pada saat berada di tengah kesulitan hidup, manusia seringkali menjadi gelap mata. Hati dan pikirannya dibutakan oleh ambisi memperoleh keuntungan. Ia menjadi seorang yang egois, bahkan suka merampas milik orang lain.

Saat ini kita merasakan bahwa kehidupan juga semakin sulit. Kita melihat para koruptor meraup kekayanan yang bukan hak miliknya. Kita juga melihat orang menghabisi nyawa orang lain demi kepentingan pribadinya. Aksi kejahatan di jalanan, di perkantoran bahkan di rumah tangga menjadi berita yang kita dengar sehari-hari. Manusia tidak saling menjaga tapi saling menjegal. Manusia tidak saling merawat dan membebat tapi justru saling membinasakan.

Situasi hidup yang sulit tidak boleh menjadikan kita permisif terhadap angkara murka dan dosa. Oleh karena itulah TUHAN, Sang pemilik kebun anggur menghukum penggarap-penggarap yang tidak bertanggungjawab bahkan menyewakan kebun anggurnya pada penggarap-penggarap yang lain.

Jikalau kita membiarkan kejahatan dan dosa berkuasa di hati kita maka TUHAN tidak akan berkenan memakai kita.
Sebenarnya TUHAN penuh kesabaran dan memberikan kepercayaan penuh bagi kita untuk melakukan pekerjaan TUHAN. Yang dinantikan TUHAN adalah tanggungjawab hidup dan hasil ( buah ) yang dipersembahkan kepada TUHAN.

Apakah keluarga Saudara sedang terhimpit oleh kesulitan hidup di masa kini? Ingatlah sesulit apa pun hidup ini, kita mesti memberi pertanggungjawaban pada TUHAN, Sang Pemilik kehidupan ini. Ajaklah setiap anggota keluarga untuk semangat bekerja dengan hati dan pikiran yang bersih dan kudus.

Janganlah kekuatiran hidup menggelapkan mata hati sehingga tega melukai dan menyakiti orang lain.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«
Next Post
»