suplemenGKI.com

Sabtu, 2 April 2011

Yohanes 9 : 8 – 17

Setelah orang buta itu dapat melihat, dia dikerumuni oleh tetangganya. Orang yang baru mengalami mujizat ini mengungkapkan kegembiraan dan rasa syukurnya dengan cara menceritakan apa yang dialaminya. Tetangga yang mengerumuninya kaget mendengar pernyataan orang yang tadinya buta itu. Mengapa YESUS membuat mujizat kesembuhan di hari Sabat?

Peristiwa ini pasti akan mendatangkan masalah dengan orang-orang Farisi. Para tetangga hendak mengklarifikasi mujizat itu kepada Farisi. Bagaimana tanggapan teologis mereka tentang hal ini? Orang Farisi menegaskan bahwa kesembuhan tersebut bukan dari ALLAH. Pernyataan ini memberikan beban pikiran bagi orang buta yang baru sembuh. Dia dituduh mengalami kesembuhan dari kuasa kegelapan. Syukurlah si buta memiliki ketetapan hati. Dia secara konsisten mengaku bahwa yang menyembuhkannya adalah nabi, yang berarti utusan dari ALLAH.

1. Bagaimanakah mestinya sikap orang Kristen menanggapi mujizat yang terjadi?
2. Mengapa ada orang-orang yang tidak percaya mujizat?
3. Perlukah memberikan kesaksian kepada sesama mengenai mujizat yang kita alami?

Renungan

TUHAN menghadirkan mujizat di tengah-tengah kehidupan umat manusia namun menuai berbagai macam tanggapan. Ada yang menganggap itu biasa-biasa saja. Ada juga yang menentangnya. Ada pula yang kagum dan mensyukuri mujizat, entah mujizat itu luar biasa ataupun sederhana. Bagi orang yang memiliki hati peka dan takut kepada TUHAN, mujizat akan ditanggapi dengan rasa syukur. Mereka yakin bahwa mujizat adalah anugerah yang tidak mungkin dibayar dengan apapun.

Orang-orang Farisi berupaya menyangkal adanya mujizat dalam kesembuhan si buta. Peristiwa tersebut tidak dianggap sebagai anugerah ALLAH melainkan sebagai sesuatu yang bisa menjatuhkan reputasinya.

Peristiwa kesembuhan ilahi ini dianggap sebagai kritikan terhadap apa yang selama ini dipegang teguh Farisi. Mungkin ada beberapa orang di zaman sekarang mirip dengan orang-orang Farisi. Mereka tidak terima dengan peristiwa mujizat yang terjadi. Bisa jadi mujizat tersebut merupakan ancaman yang akan menggeser eksistensi mereka.

Untuk dapat memahami mujizat, hadirkanlah di dalam hati : rasa disayang TUHAN, tenang karena mendapatkan pertolongan dan sukacita. Perasaan yang demikian dapat membangun kepekaan terhadap mujizat TUHAN, sekaligus meneguhkan bahwa mujizat adalah karya TUHAN. Mujizat tidak selalu dalam bentuk hal-hal supernatural yang spektakuler tapi juga nyata dalam keajaiban yang TUHAN nyatakan melalui peristiwa sehari-hari, misalnya oksigen yang tidak pernah habis kita hirup setiap hari. Menyadari adanya mujizat akan membuat kita semakin bersandar dan percaya kepada TUHAN. Sebagai anak-anak TUHAN sudah semestinya kita bukan hanya merasakan keajaiban kasih sayang TUHAN tapi juga menceritakan (memberikan kesaksian) berkat yang dianugerahkan TUHAN. Hal ini dilakukan bukan dengan motivasi untuk mencari popularitas melainkan dengan sebuah kerinduan semakin banyak orang yang makin mengandalkan TUHAN dalam kehidupannya.

“Bersaksi atas mujizat yang dialami berarti membuka diri untuk dipakai oleh TUHAN dalam menyebarluaskan kasih-Nya”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*