suplemenGKI.com

Minggu 24 Januari 2010; II Timotius 3:14-17

Paulus menegaskan bahwa semua tulisan “diilhamkan Allah” (Yun. theopneustos; yang terdiri atas dua kata: theos yang artinya “Allah” dan pneo yang artinya “bernafas”). Alkitab itu adalah hidup dan Sabda Allah. Bahkan sampai kata-kata dalam naskah asli, Alkitab itu tidak ada salahnya, benar sepenuhnya, dapat dipercayai dan tidak mungkin salah. Hal ini benar bukan hanya ketika Alkitab membicarakan keselamatan, nilai-nilai etika dan moralitas, tetapi juga tanpa salah tentang segala sesuatu yang dikatakannya, termasuk sejarah dan alam semesta (bandingkan dengan 2 Petrus 1:20-21; dan perhatikan juga sikap pemazmur terhadap Alkitab dalam Mazm 119:1-176).

  • Situasi apa sebenarnya yang sedang dihadapi Timotius sehingga Paulus perlu menasihatkannya untuk terus berpegang pada kebenaran? (2 Timotius 3:1-9)
  • Apa yang dinasihatkan Paulus kepada Timotius dalam menghadapi situasinya saat itu? (2 Timotius 3:14-15)

Renungan

Situasi zaman yang sedang dihadapi Timotius sebagai pelayan muda belia memang sangat tidak mudah. Dalam pasal 3:1-9, Paulus menjabarkan keadaan manusia di akhir zaman yang penuh dengan dosa dan pemberontakan.

Sebagai Bapak rohani, Paulus perlu mengingatkan Timotius untuk berada dalam posisi kebenaran. Itulah sebabnya Paulus berkata,”Tetapi, engkau ….” Paulus menasihati Timotius agar mengambil rute kehidupan yang bertolak-belakang dengan para pengajar sesat. Timotius didorong untuk mengikuti teladan hidupnya, yang setia dan senantiasa menantikan kedatangan Tuhan Yesus. Timotius perlu meneladani pengajaran dan kesalehannya. Ia juga perlu memiliki cara pikir seperti Paulus, memiliki niat untuk melayani Tuhan dengan daya tahan yang dilandasi kasih. Bukan hanya menasihati secara abstrak, Paulus kemudian mengingatkan Timotius tentang apa yang dialaminya sendiri di Antiokhia ketika ia dan Barnabas diusir, di Ikonium, ketika akan dilempari batu oleh masyarakat, dan di Listra, ketika ia dan Barnabas mula-mula disembah, tetapi lalu dilempari batu sampai hampir mati—namun Allah menyelamatkannya. Semua orang, termasuk Timotius, yang berketetapan untuk menjadi saleh akan mengalami penganiayaan. Mereka harus sadar akan hal itu. Namun di balik semua hal berat yang mungkin saja berusaha menekan anak-anak dan pelayan TUHAN, ada sebuah kepastian, yaitu jika terus berpegang pada Firman, niscaya kita juga berpegang pada kebenaran yang menuntun kita pada kehidupan yang ALLAH janjikan.

Situasi zaman kita kurang lebih sama dengan situasi yang dihadapi oleh Timotius. Dalam menghadapinya kita sangat perlu menggunakan nasihat Paulus yaitu dengan berpegang teguh pada Firman dan hidup seturut dengan kebenaran itu.

“Jika ingin hidup aman di tengah situasi dunia yang penuh kesuraman,

Jangan pernah melepaskan Firman/Kebenaran dari genggaman ”

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*