suplemenGKI.com

Jumat, 30 September 2011

Filipi 3:12-14

Seorang anak dari keluarga pra sejahtera ingin hidup sukses namun sayang orang tua tak mampu membiayai sekolahnya. Akhirnya ia harus keluar dari sekolah dan membantu orang tua mencari uang. Pada suatu hari ketika ia menjajakan koran di perempatan jalan, ia bertemu dengan mantan gurunya. Ia ditawari untuk menjadi anak asuh sang guru. Dengan semangat ia terus belajar di bawah bimbingan sang guru. Ia harus belajar keras setiap hari sambil tetap membantu orang tuanya bekerja. Namun semua perjuangannya tidak sia-sia, ia berhasil menyelesaikan kuliahnya bahkan kini menjadi seorang arsitek hebat. Ia pun dapat membahagiakan orang tuanya. Ia merasa menuju kesempurnaan hidup, ia bahagia dan orang tua pun bahagia walaupun untuk mencapai itu ia harus berjerih lelah dan terus berjuang keras untuk mewujudkannya.

Pendalaman Teks Alkitab

Ayat 12 : Apakah yang dikejar Paulus dalam kehidupannya?
Ayat 13-14 : Apakah kunci sukses Paulus untuk meraih kesempurnaan hidupnya?

Renungan

Alangkah bahagianya jikalau kita mendapatkan apa yang kita inginkan dalam hidup ini. Namun seringkali untuk mendapatkan yang kita inginkan diperlukan perjuangan keras. Itulah yang dilakukan Paulus. Paulus merasa mengejar kesempurnaan dalam hidup ( ay 12). Kata yang diterjemahkan “sempurna” di sini berasal dari bahasa Yunani teleios memiliki makna berkembang penuh ( lawan dari tidak berkembang). Kata ini menunjukkan kematangan dalam pikiran. Di masa gereja perdana, kata teleios sering dipakai untuk merujuk pada para martir. Seorang martir dikatakan disempurnakan oleh pedang dan hari kematiannya disebut sebagai hari penyempurnaannya.

Oleh karena itu ketika Paulus memakai kata sempurna dalam ayat 12, tidak berarti ia sudah menjadi orang Kristen yang lengkap, tapi ia terus mengejarnya. Ia berusaha menangkapnya karena ia telah ditangkap KRISTUS. Setiap orang ditangkap KRISTUS demi tujuan tertentu, oleh sebab itu di sepanjang hidupnya ia harus mengejar terus sehingga ia pun dapat menangkap tujuan yang sesuai kehendak TUHAN.

Untuk mencapai tujuan itu, Paulus mengatakan 2 hal yaitu:
1. Melupakan apa yang telah ada di belakang.
Maksudnya ia tidak akan pernah membanggakan keberhasilannya atau menjadikannya sebagai alasan untuk bersantai saja. Rasul Paulus mau menegaskan bahwa orang Kristen harus melupakan semua yang telah dilakukannya dan hanya boleh mengingat apa yang masih harus dilakukan.
2. Mengarahkan diri kepada apa yang ada di depannya.
Kata yang diterjemahkan dengan “mengarahkan diri” adalah epekteinomenos. Kata ini digunakan untuk menggambarkan perjuangan seorang pelari yang berlari sekuat tenaga untuk mencapai garis finis. Jadi Paulus ingin berkata bahwa dalam hidup Kristen kita harus melupakan keberhasilan masa lalu dan hanya mengingat tujuan yang terbentang di depan.

Dalam penjelasan Paulus ini jelas terungkap pentingnya disiplin dan usaha untuk bertumbuh semakin matang dan dewasa dalam iman. Ajaran ini penting untuk kita praktekkan di tengah jaman yang menyukai hal-hal siap pakai alias “instant”.

Membangun keluaga Kristen berarti membangun mentalitas siap berjuang dan berjerih lelah, berlari untuk meraih tujuan yang ada di depan. Jangan jadi keluarga Kristen penikmat berkat tapi jadilah Kristen yang siap berjerih lelah dan berjuang demi dan dalam iman. TUHAN sudah menangkap kita dengan anugerah-Nya. Oleh karena itu sudah selayaknya kita setia berjalan di dalam TUHAN dan bahkan bekerja keras untuk bertumbuh kembang dalam kedewasaan iman. Itu adalah ungkapan syukur dan tanggungjawab kita sebagai orang-orang yang telah ditangkap dan diselamatkan KRISTUS.

Bila hati penuh syukur, perjuangan menuju tujuan akan penuh kegirangan


Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*