suplemenGKI.com

Dalam Yesaya 6: 8 ketika Tuhan bertanya,”Siapakah yang akan Kuutus, & siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka Yesaya menyahut:” Ini aku, utuslah aku!” Tentu saja ini adalah respon yang benar sebagai hamba Tuhan yang setia. Tetapi bukan mustahil—entah dalam hati atau pun sempat terucap, kita sering mengucapkan sebaliknya. “Ini aku, utuslah mereka.” Ada suatu keengganan dalam diri kita untuk melayani-Nya, sehingga kita lebih senang bila saudara seiman kita yang kerepotan melayani di banyak bidang pelayanan, dari pada kita mencoba ikut ambil bagian melayani di satu bidang pelayanan.
Keengganan itu mungkin salah satunya dikarenakan kita tidak siap mengalami penderitaan. Bacaan kita hari ini yang terambil dari Yesaya 53: 4-12 membeberkan fakta tentang hamba Allah yang menderita. Lebih-lebih lagi dikatakan di dalam bacaan tersebut bahwa penderitaan yang harus ditanggung oleh hamba Allah itu akibat kesalahan orang lain, bukan kesalahannya sendiri! Sosok hamba Allah itu bahkan disebutkan sebagai “domba yang tanpa daya” (ayat 7). Sebuah gambaran yang tepat memenuhi kriteria sebagai domba korban di dalam Perjanjian Lama.
Selain itu, gambaran hamba Allah yang begitu menyedihkan tersebut sesungguhnya adalah gambaran dari Tuhan Yesus sendiri! Di dalam Ibrani 5: 1-10, penulisnya memberikan gambaran jabatan Imam besar yang disandang oleh Yesus Kristus. Sebagai Imam Besar haruslah memenuhi kualifikasi tertentu dalam pekerjaannya mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa, dalam pengenalan terhadap umatnya, kesadaran bahwa panggilan itu tidak mengambil kehormatan (diri), melainkan menjadi pengantara atau mediator, membantu manusia mendapat pengampunan dosa.
Yesus sebagai Imam tentu beda dengan semua imam lainnya, Dia tidak berdosa. Tetapi saat Dia menjalankan tugas sebagai seorang Imam sungguh mengalami pergumulan yang berat. Di taman Getsemani semua tindakan Yesus sebagai Imam nampak makin berat dan mencapai puncaknya ketika Dia harus mengalami penyiksaan yang sangat keji di atas kayu salib! Sebagai Imam Besar, Dia tidak saja mempersembahkan korban penebus dosa, melainkan mempersembahkan diri sendiri untuk keselamatan seluruh umat manusia.
Di sisi yang lain, kita bisa jadi demikian semangat untuk melayani Tuhan di berbagai bidang pelayanan. Namun sayangnya dengan alasan yang salah. Markus 10: 35-45 memaparkan sisi negatif dari Yakobus dan Yohanes. Dua orang murid Tuhan Yesus tersebut bahkan di dukung ibundanya yaitu Salome, yang notabene adalah bibi dari Tuhan Yesus. Layaknya di masa itu (dan anehnya berlanjut di masa kini) seorang raja dapat menyerahkan tahta serta kekuasaannya kepada anaknya atau salah seorang kerabatnya. Ada aroma KKN yang kental di sini!
Tuhan Yesus lalu meluruskan hal ini. Kedudukan dalam Kerajaan Allah tidak diberikan bagi kepentingan pribadi, tetapi berdasarkan kehendak Allah. Berikutnya, di dalam kerajaan Allah berlaku aturan bahwa pemimpin harus melayani. Nah, aturan ini tentu beda 180 derajat dengan pemerintahan yang lazim di dunia ini. Kita semua tahu, sangat sulit mencari sosok pemimpin di jaman ini yang mau melayani, yang lebih umum kebanyakan pemimpin mencari keuntungan bagi dirinya sendiri.
Sekarang tentu saja terserah kepada kita sekalian, apakah kita mau menjadi pemimpin yang mau mencari keuntungan sendiri? Mencari kehormatan untuk diri kita sendiri? Atau kita mau meneladani Tuhan Yesus, yang mau berkurban bagi kita! Bagaimana menurut Anda?
— TAPE —

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*