suplemenGKI.com

Rabu, 26 Juni 2013

Galatia 5:1-12

Pengantar

Sebuah keluarga baru saja dibaptis. Mereka bertekad meninggalkan kepercayaannya yang lama untuk menjadi pengikut KRISTUS. Dalam kepercayaan yang lama, mereka hidup dalam aturan hukum ibadah yang ketat. Dengan ketekunan menjalankan ibadah menurut aturannya, mereka percaya akan mendapatkan pahala berkat TUHAN. Ketika seorang anak dalam keluarga itu sakit, sang ayah berkata: “ Kamu tidak boleh bolos ke gereja sebab jika kamu bolos, TUHAN YESUS akan marah dan keluarga kita tidak diberkati!” Bagaimana pandangan Saudara terhadap pernyataan itu? Tampaknya sekalipun keluarga ini telah menjadi pengikut KRISTUS, mereka masih dalam bayang-bayang ketakutan hukum yang lama. Apakah Saudara juga mengalaminya? Mari kita renungkan!

Pemahaman

• Ayat 1-4 : Konflik pengajaran apakah yang sedang terjadi di jemaat Galatia?
• Ayat 5-10: Pengajaran apakah yang hendak ditegaskan oleh Paulus di tengah konflik ajaran jemaat Galatia?
• Ayat 11-12: Bagaimanakah pandangan Saudara tentang sikap tegas Paulus dalam menghadapi ajaran yang mengacaukan pemahaman iman jemaat?

Dalam bagian ini Rasul Paulus menjelaskan tentang Injil yang dipraktekkan dalam kemerdekaan. Pengajaran ini penting sebab pada waktu itu berkembang pengajaran lain yang meminta orang-orang percaya tetap melakukan hukum taurat, teristimewa sunat. Beberapa anggota jemaat di Galatia telah mengganti iman mereka kepada KRISTUS dengan iman kepada upacara-upacara legalistik dari hukum Taurat (Gal 1:6-7; 5:3). Paulus menyatakan bahwa mereka sudah berada di luar kasih karunia. Hidup di luar kasih karunia berarti terasing dari KRISTUS (bdk. Yoh 15:4-6) dan meninggalkan prinsip kasih karunia ALLAH yang membawa hidup dan keselamatan. Hal ini berarti hubungan dengan KRISTUS ditiadakan dan tidak lagi tinggal “di dalam KRISTUS”.

Rasul Paulus menegaskan bahwa KRISTUS telah memerdekakan kita. Oleh karena itu orang percaya dipanggil untuk hidup dalam kemerdekaan itu dan tidak terjebak lagi dalam perbudakan. Orang yang menjadikan hukum Taurat sebagai pegangan hidupnya adalah orang yang berada dalam kedudukan sebagai hamba. Sebaliknya orang yang berpegang teguh pada anugerah ALLAH, ia adalah orang merdeka. Yang membenarkan kita bukanlah tekanan dan pelaksanaan hukum Taurat melainkan kuasa dari kasih ALLAH yang besar sebab kasih selalu lebih berkuasa daripada hukum. Bagi Paulus, yang penting adalah kasih yang di dalamnya terangkum segala sesuatu yang dituntut oleh hukum Taurat (Rm. 13:9, 10).

Refleksi

Dalam keheningan, ingat-ingatlah: “apakah aku melakukan berbagai aturan hukum iman karena takut tidak diberkati TUHAN?” Apakah aku masih berpegang pada tradisi atau hukum yang menjanjikan keselamatan, berkat dan keuntungan?

Tekadku

TUHAN, mampukanlah aku meninggalkan tradisi dan aturan hidup yang lama agar aku dapat beriman dengan penuh syukur dalam kasih karunia anugerah-Mu.

Tindakanku
Aku akan beriman bukan dengan takut akan hukuman tapi dengan penuh syukur dan sukacita dalam kasih TUHAN.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«