suplemenGKI.com

Jumat, 27 November 2015

I Tesalonika 3:9-13

Pengantar

Setiap orang tua sangatlah bersukacita ketika anak-anaknya bertumbuh. Merekapun memiliki harapan jika sang anak dapat membahagiakan kedua orangtuanya. Namun di sisi lain, ada orang tua yang menderita secara mental ketika sang anak terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam kondisi demikian orang tua hanya bisa pasrah. Karena masalah anak juga jadi beban bagi orang tua. Jika orang tua sungguh-sungguh beriman mempercayakan hidup anaknya ke dalam tangan Tuhan, maka keluarga pun akan mampu bertahan di tengah badai yang dihadapi. Hal yang sama juga dirasakan oleh Paulus. Paulus mulanya mengkhawatirkan kondisi jemaat di Tesalonika yang diterpa oleh berbagai masalah. Namun akhirnya Paulus bersukacita atas kemajuan jemaat di Tesalonika.

Pemahaman

  • Ayat 9-10       : Tindakan apakah yang dilakukan oleh Paulus sebagai tanggung jawabnya dalam membina iman jemaat di Tesalonika?
  • Ayat 11-13    : Apakah yang menjadi harapan Paulus untuk jemaat di Tesalonika?

Rasul Paulus memiliki keinginan untuk menangani jemaat di Tesalonika yang sedang menghadapi banyak masalah. Oleh sebab itu, Paulus mengutus Timotius untuk melihat bagaimana keadaan jemaat di Tesalonika. Hasilnya di luar dugaan Paulus. Mulanya Paulus bimbang dengan iman jemaat di Tesalonika yang sedang menghadapi ancaman kedatangan Yesus kembali, penganiayaan dari kelompok Yahudi fundamentalis, ancaman keutuhan, serta ancaman dekadensi moral. Namun Timotius memberitakan kemajuan jemaat Tesalonika yang semakin bertumbuh dalam imannya. Paulus pun bersyukur dan bersukacita atas kemajuan jemaat Tesalonika.

Paulus bersyukur  serta “siang dan malam berdoa sungguh-sungguh” ( ayat 9-10), membuktikan bahwa Paulus terbeban dan berjuang agar iman jemaat Tesalonika tidak goyah. Paulus berharap agar jemaat di Tesalonika berlimpah kasih seorang dengan yang lain ( ayat 12 ). Paulus mengutarakan sikapnya dan teman-temannya sebagai teladan bagi orang-orang yang baru menjadi pengikut Kristus dengan saling mengasihi. Bahkan kasih itu tidak hanya diwujudkan pada sesama orang Kristen, tetapi juga orang lain termasuk yang membenci kita. Selain itu Paulus mengharapkan agar mereka tetap beriman dan hidup kudus sebagai umat Kristus sampai pada kedatangan-Nya kembali. Jadi Paulus lebih menanggapinya dengan mengajak jemaat di Tesalonika untuk menggunakan waktu secara positif menjalani praksis beriman kepada Kristus sehari-hari dengan benar.

Refleksi

Pernahkah kita berefleksi dan mengukur seberapa dalam iman kita di hadapan Tuhan? Ketika menghadapi berbagai penderitaan maupun ancaman, masihkah kita bertekun dalam iman dan pengharapan kepada Tuhan? Jika kita belum memahami seberapa dalam iman kepada Tuhan, bagaimanakah kita dapat bersiap untuk menantikan kedatanganNya kembali?

Tekadku

Tuhan tolonglah aku untuk tidak menoleh ke kanan dan ke kiri ketika penderitaan melanda hidupku. Aku bertekad untuk mengarahkan hidupku selalu beriman kepadaMu. Pakai hidupku untuk menguatkan orang-orang yang sedang menghadapi pergumulan hidup.

Tindakanku

Hari ini aku akan menguatkan saudara-saudara seiman yang sedang bergumul dalam penderitaan hidupnya. Aku akan membagikan pengalaman hidupku ketika aku mempercayakan hidupku kepada Tuhan.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*