suplemenGKI.com

Kamis, 27 Februari 2014

Mazmur 2:11-12   

Pengantar

Sepulang dari kebaktian Minggu, seorang remaja ditanya oleh ibunya: “ Bagaimanakah ibadahmu hari ini, menyenangkan? Kamu dapat Firman apa hari ini?” Jawab si remaja: “ Wah nggak asyik Ma. Membosankan! Tadi aku juga ngantuk, jadi aku ngobrol sama teman! “

Pernahkah Saudara memiliki pengalaman beribadah seperti itu? Mari kita merenungkannya!

Pemahaman

  • Ayat 11: Apakah arti: “ Beribadah kepada TUHAN dengan takut dan mencium kaki TUHAN dengan gemetar”?
  • Ayat 12: Mengapa Pemazmur menggambarkanmurka TUHAN mudah menyala?       

Bacaan hari ini merupakan lanjutan dari bacaan kemarin. Dalam kesadaran bahwa dalam kehidupan ini ada TUHAN Maha kuasa yang berkarya dalam segala sesuatu, maka para pemimpin dunia  dinasihatkan untuk beribadah dan mengabdi kepada TUHAN agar mereka tidak binasa karena murka TUHAN. Ini bukan ibadah yang hanya formalitas kewajiban tapi ibadah yang lahir dari hati yang sujud menyembah; hati yang sungguh-sungguh mengakui kekuasaan TUHAN; hati yang benar-benar berbakti. Oleh karena itu Pemazmur menyerukan: “Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kakiNya dengan gemetar!”

Kalimat seruan nasihat ini menegaskan bahwa bila kita sungguh-sungguh menyadari kekuasaan dan kebesaran TUHAN maka dengan rendah hati kita akan beribadah kepada-Nya.  Ibadah itu bukan sekedar hadir di ruang ibadah. Ibadah itu melibatkan getaran hati terdalam yang kagum akan kekuasaan TUHAN. Ibadah itu bukan main-main tapi totalitas kehidupan yang dipersembahkan. Oleh karena itu ibadah yang sungguh-sungguh merupakan bakti kepada TUHAN selalu berlanjut dalam kehidupan yang berlindung kepada-Nya.

Refleksi

Ingatlah kembali tentang bagaimanakah kehidupan ibadah Saudara! Apakah sekedar formalitas dan rutinitas ataukah ibadah yang digerakkan oleh  hati terdalam yang menaruh hormat dan kagum akan kekuasaan TUHAN?

Tekadku

TUHAN, mampukanlah aku menghidupi ibadahku kepada-Mu dengan penghayatan iman akan kehadiran kekuasaan-Mu dalam setiap detik kehidupanku. Jangan biarkan aku beribadah hanya sebagai rutinis tapi biarlah aku mempersembahkan ibadah yang sungguh-sungguh lahir dari getaran hati yang takut dan hormat kepada-Mu.

Tindakan

Mulai hari ini aku akan mengevaluasi setiap kegiatan ibadahku agar aku tidak terjebak dalam rutinitas ibadah yang tanpa makna.  Aku akan selalu melihat kembali, antara lain: Apakah aku telah mempersembahkan ibadah yang melibatkan totalitas kehidupanku? Apakah aku bersemangat dan menghayati puji-pujian yang dinyanyikan? Apakah aku memahami Firman TUHAN yang diberitakan dan selalu mengingat dan melakukannya?

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*