suplemenGKI.com

Kamis, 26 Maret  2015

Mazmur 118

Pengantar

Dalam sebuah penerbangan, tiba-tiba pesawat tergoncang hebat. Seorang teman yang duduk di kursi sebelah saya menjerit: “TUHAN YESUS, tolong…!” Jeritan itu merupakan ekspresi iman bahwa TUHAN pasti menyelamatkan. Saat kondisi agak tenang dia berkata: “Terimakasih TUHAN, Engkau telah menyelamatkan kami!”

Apakah Saudara pernah merasakan goncangan hidup yang menakutkan? Apakah yang Saudara lakukan di saat ketakutan melanda? Mari merenungkannya!

Pemahaman

  • Apakah alasan Pemazmur mengajak umat TUHAN bersyukur?
  • Situasi apa sajakah yang sedang dihadapi Pemazmur dan apakah yang diyakini Pemazmur di tengah kesulitannya?

Mazmur 118 merupakan mazmur syukur atas perbuatan-perbuatan ALLAH yang besar. Mazmur ini memuji TUHAN karena kasih setia-Nya yang abadi bagi umat-Nya. Mazmur pujian ini merupakan nyanyian kemenangan yang sarat dengan kegembiraan. Saat itu raja keturunan Daud berada dalam keadaan bahaya, lalu dilepaskan oleh ALLAH untuk kemudian dipulihkan kedudukannya sebagai raja. Menurut sumber-sumber Yahudi, mazmur ini diucapkan bersahutan pada hari raya Pondok Daun.

Dalam nyanyian ini, Pemazmur mengisahkan tentang penyelamatan yang dialaminya (ayat 5-21). Ia mengakui bahwa TUHAN-lah yang membawa dia pada kelegaan. Pengakuan ini tidak hanya makin mengentalkan keyakinannya bahwa TUHAN ada di pihaknya, tetapi juga makin memperteguh iman dan pengharapannya. Ia juga mengajak umat untuk hanya mengandalkan TUHAN dan bukan manusia, betapa pun kuatnya (ayat 8-9). Meski akibat dari keyakinan ini ia harus berhadapan dengan sejumlah lawan dari segala bangsa (ayat 10) dan ditolak dengan hebat sampai jatuh (ayat 13), namun ia tidak jatuh, apalagi sampai mengalami kematian. ALLAH memberinya kekuatan sehingga ia dapat mengalahkan musuh-musuhnya. Jadi mazmur ini merupakan mazmur syukur atas pertolongan TUHAN.

Mazmur ini biasa dibacakan pada Minggu Palmarum. Ayat 25a dan 26 diucapkan oleh orang-orang yang mengelu-elukan YESUS: “ Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan (Hosana!)”. “ Diberkatilah  dia yang datang dalam nama TUHAN!”

Dalam perjalanan mengikut KRISTUS, mampukah  Saudara terus berseru: “Hosana! Hosana!” Dalam berbagai perjuangan hidup menghadapi aneka persoalan dan kesulitan, mampukah Saudara selalu berkata: “ Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!”   Ekspresikan  iman kepada TUHAN dengan bersyukur dalam segala keadaan.

Refleksi

Sudahkah Saudara bersyukur hari ini? Lihat dan amatilah awan di  langit. Tak selamanya langit cerah.  Tak selamanya awan putih dan bersih tapi sewaktu-waktu mendung dan awan hitam bisa datang. Kapan sajakah Saudara bersyukur kepada TUHAN? Saat langit cerah ataukah juga saat mendung hitam? Saat hari gelap dan cuaca kehidupan memburuk, apakah Saudara masih  meyakini “bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia TUHAN”?

Tekadku

TUHAN, tolonglah agar aku selalu mensyukuri kasih setia-Mu juga dalam kondisi terburuk yang harus kuhadapi sebab aku tahu bahwa sesungguhnya rasa syukur membuatku lebih tenang menghadapi apa pun.

Tindakanku

Aku akan menjalani kehidupan setiap hari, apa pun yang akan kuhadapi hari ini dan hari-hari mendatang dengan senyum syukur dan selalu berucap: “Terima kasih, TUHAN !”

 

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*