suplemenGKI.com

Bacaan: Ayub 19: 23-27; Lukas 20:27-38; 2 Tesalonika 2:1-15,13-17

Fenomena sosial yang cenderung membenarkan, meninggikan diri di pihak lain cenderung menyalahkan dan merendahkan orang lain bukanlah sesuatu yang baru di kehidupan masa kini.Dalam sejarah Alkitab pada Perjanjian Lama juga ditemukan fenomena-fenomena yang sama. Sebut saja bangsa Israel yang mulai berkembang pesat di Mesir. Yang kemudian perkembangan ini dilihat sebagai ancaman bagi bangsa Mesir sehingga muncullah kebijakan dari raja Firaun yang bersifat menyengsarakan dan menghancurkan bangsa Israel. Mereka dipaksa bekerja keras membangun kota, dan pasca itu bangsa raja Firaun pun membunuh bayi-bayi yang lahir khususnya laki-laki saat itu.Fenomena sosial lain juga ditemukan dikalangan antar sahabat seperti yang dialami oleh Ayub hamba Allah yang setia.Penderitaan yang dialami Ayub seperti kehilangan harta benda, kehilangan anak-anak tercinta, dan penderitaan sakit penyakit oleh sahabat-sahabat Ayub keadaan itu dilihat sebagai akibat dari perbuatan Ayub yang tidak berkenan kepada Tuhan. Sehingga tidak sedikit nasehat, teguran bahkan anjuran untuk bertobat yang disampaikan sahabat-sahabat kepada Ayub. Bahkan, yang lebih ekstrim yaitu tatkala penderitaan itu hanya menimpa kepada Ayub bukan kepada teman-temannya sehingga para sahabat menganggap bahwa mereka lah yang benar dan Ayub salah sehingga Ayub harus mau mendengarkan nasihat mereka.Dalam Alkitab Perjanjian Baru, fenomena-fenomena sosial juga dapat dilihat dari kehidupan beragama atau ber-Tuhan, tepatnya kepatuhan menjalankan hukum Taurat. Umat Yahudi seperti golongan Farisi dan Saduki merasa bahwa merekalah yang benar sedang yang di luar mereka adalah salah dan tidak bersesuaian dengan kehendak Tuhan yaitu hukum Taurat. Tindakan mereka tampak ekstrim tatkala sikap mereka terhadap orang-orang yang tidak berjalan menurut hukum Tuhan. Mereka membenci, memusuhi, menganiaya, bahkan menghukum hingga sampai mati (situasi ini telah dialami oleh Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya).Fenomena-fenomena seperti itu juga ada di tengah-tengah kehidupan kita di negara kita masa kini. Ketika ada pribadi atau kelompok yang berbeda pandangan, keyakinan, ras dengan pihak golongan tertentu maka hal itu dianggap/ dinyatakan salah, sesat, bahkan penjahat yang harus dibasmi keberadaannya. Sebaliknya pandangan atau keyakinan mereka lain yang dianggap/ dinyatakan sebagai yang benar dan yang sesuai dengan kehendak sang Ilahi.Fenomena tersebut tidak hanya terjadi di antara keyakinan iman yang berbeda, melainkan juga terjadi di antara keyakinan iman yang sama atau di antara gereja yang berbeda. Berbeda azas, corak teologi, ternyata berdampak pada ketegangan, kebencian bahkan permusuhan. Dan, tetap masing-masing pihak menganggap bahwa kelompok atau gereja merekalah yang benar yang lain salah dan sesat.Jika kita berani jujur, diri kita sendiripun pernah melakukan hal serupa sekalipun hanya dalam pikiran dan perasaan hati.Rasul Paulus dalam 2 Tesalonika 2:1-15, maupun Tuhan Yesus dalam Lukas 20:27-38 kiranya menjadi dasar bagi kita untuk berefleksi dan berintrospeksi diri. Bahwa Allah itu Maha Adil nan bijaksana sekaligus Maha Kuasa. Ia akan menyatakan penghakiman-Nya dengan tegas dan adil. Oleh sebab itu, sebelum hari penghakiman tiba, mari!!!! Hiduplah sesuai kehendak Tuhan dan hidup saling menghargai, hormat menghormati, mengasihi, mengampuni, menolong, menghibur, memberi kekuatan, walau sekalipun kita berbeda. Berbeda agama, berbeda suku, ras, golongan, berbeda denominasi gereja, berbeda corak teologi, dsb.

Kiranya Tuhan menguatkan dan memampukan kita untuk mewujudkannya. Tuhan Yesus memberkati. Amin                                                                                   (JpS)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*