suplemenGKI.com

Rabu, 9 Maret

Mazmur 32

Belakangan ini Surabaya dan sekitarnya secara bertubi-tubi digegerkan dengan berbagai macam kejahatan, termasuk pembunuhan. Dalam koran Jawa Pos edisi Minggu, 27 Pebruari 2011, dimuat berita tentang pembunuhan ibu dan anak yang terjadi di Lebak Timur IV/5. Sebelumnya juga ada serentetan pembunuhan, misalnya: pembunuhan di Probolinggo; pembunuhan siswi SMP di Wage, Sidoarjo, penemuan mayat lelaki di pinggir jalan tol Porong, dan penemuan mayat perempuan dekat tol Waru – Juanda. Para pelaku pembunuhan itu tentu saja melarikan diri atau menyembunyikan diri. Namun, cepat atau lambat, dosa dan kesalahan akan terungkap. Ada yang terungkap secara cepat, dalam hitungan hari, bahkan jam – ada seperti dua dari lima orang pembunuh ibu dan anak yang di Lebak Timur itu. Kurang dari 24 jam, mereka sudah tertangkap. Tapi ada yang masih belum tertangkap, menjadi pelarian dan masuk dalam DPO. Lalu, kalau Saudara yang berbuat dosa, lebih cenderung untuk mengakui atau lari?

- Menurut Saudara, mengapa Pemazmur mengambil keputusan untuk mengakui dosanya? Keuntungan apa saja yang diperoleh bila mengaku dosa?

- Hal-hal apa saja yang menghalangi seseorang untuk mengakui dosanya?

- Apakah yang dimaksud dengan “Berdiam diri” dalam ayat 3? Mengapa tindakan berdiam diri itu dapat membuat orang merasa tulang-tulangnya menjadi lesu dan mengeluh sepanjang hari?

Renungan:

Menjadi pelarian tentu bukanlah sebuah kehidupan yang tenang. Setiap hari akan dikejar-kejar dengan perasaan bersalah dan takut tertangkap. Hal ini akan menimbulkan kehidupan yang tertekan. Keadaan inilah yang digambarkan dalam Mazmur 32 ayat 3 dan 4. Pemazmur berkata bahwa ketika seorang pendosa tetap berdiam diri, dan menyembunyikan dosanya terhadap Tuhan dengan cara tidak mau datang kepada Tuhan, mengakui dosa-dosanya serta memohon pengampunan atasnya, maka orang tersebut akan terus kehilangan semangat hidupnya. Sebab tangan Tuhan sendiri yang akan menekan dia. Sebagai kontras dari kehidupan seorang pelarian yang tidak tenang itu, Daud menjelaskan tentang kebahagiaan yang dialami oleh orang yang menerima pengampunan, suatu penjelasan yang berangkat dari pengalaman hidupnya sendiri.

Istilah “pelanggaran” dan “dosa” (ay. 1), serta “kesalahan” (ay. 2), mengandung arti “pemberontakan” dan “tidak mengenai sasaran”.  Orang-orang yang telah melakukan pemberontakan atau tidak bertindak tepat seperti yang diharapkan oleh rajanya, pada umumnya akan berusaha melarikan atau menyembunyikan diri. Namun di sini Daud memproklamirkan tentang kebahagiaan orang yang diampuni pelanggaran dan dosanya. Testimony tentang kebahagiaan ini sebenarnya juga sekaligus merupakan undangan bagi mereka yang telah memberontak itu agar mau datang dan membereskan dosanya tersebut. Sebab tanpa mendapatkan pengampunan itu, maka mereka tetap akan menjadi pemberontak dan pelarian. Lalu, apakah kita memilih untuk menjadi seorang pelarian ataukah mau mengambil langkah pertobatan sehingga mendapatkan pengampunan?

Jalan untuk memperoleh pemulihan adalah memberi pengakuan

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*