suplemenGKI.com

Rabu, 7 Oktober  2015

Mazmur 22:2-6

Pengantar

Mazmur ini adalah seruan penderitaan dan kesedihan dari seorang beriman yang belum dibebaskan dari pencobaan dan penderitaan. Kata-kata dalam mazmur ini mengungkapkan suatu pengalaman yang jauh melebihi pengalaman manusia biasa. Pesan apakah sebenarnya yang hendak disampaikan Pemazmur? Marilah kita merenungkannya.

Pemahaman

  • Ayat 2-3 : Mengapa Pemazmur berseru-seru kepada ALLAH siang dan malam?
  • Ayat 4-6 : Bagaimanakah pengalaman  iman nenek moyang Pemazmur?

Mengapa Pemazmur membandingkan pengalaman doanya dengan pengalaman  iman nenek moyang? Tampaknya Pemazmur berada dalam penderitaan yang luar biasa sehingga  dia berseru, “ ALLAH-ku, ALLAH-ku, mengapa Engkau meninggalkan aku”. Kata-kata ini dikutip YESUS dalam bahasa Aram ketika berada di kayu salib.

Kita melihat bahwa Pemazmur tidak kehilangan iman bahkan ketika dia menceritakan penderitaan dan penganiayaannya yang hebat. Dia merasa ditinggalkan oleh ALLAH, tetapi dia mengetahui bahwa ALLAH dekat.  Seruan itu merupakan ekspresi seseorang yang kehabisan kekuatan oleh dukacita dan kengerian, yang berseru-seru dengan sungguh-sungguh untuk dibebaskan. Dan semuanya ini membuat ia menyangka dirinya telah ditinggalkan oleh ALLAH, tanpa ditolong, tanpa didengar, namun ia berseru-seru kepada-Nya, terus-menerus, “ALLAH-ku!”. Tanpa henti, ia berseru kepada-Nya, siang dan malam. Ia sungguh-sungguh menginginkan Dia kembali dengan belas kasih-Nya.

Dalam ratapannya itu, Pemazmur membandingkan kondisinya dengan mengingat dan mengimani bagaimana ALLAH dahulu selalu menolong umat-Nya. Pergumulan Pemazmur bisa diungkapkan dengan kalimat sederhana “Bila dulu ALLAH selalu menolong umat-Nya, mengapa sekarang Dia diam saja?” (ayat 5-6)

Perasaan ditinggalkan secara rohani merupakan penderitaan yang paling pedih bagi orang-orang beriman. Namun ketika kita merasa seolah-olah ALLAH mundur dari kita, kita tetap harus memanggil-Nya “ALLAH” kita, dan terus berseru kepada-Nya. Ketika kita kehilangan iman yang memberikan kepastian, kita harus hidup dengan iman yang menunjukkan kesetiaan. Orang beriman akan selalu berkata, “Bagaimanapun keadaannya, ALLAH itu baik. Meskipun Dia tidak menjawabku dengan segera, aku akan terus berdoa dan menunggu. Meskipun Dia diam, aku tidak akan berdiam diri.”

Refleksi:

Dalam keheningan renungkanlah kembali apakah Saudara pernah merasa ditinggalkan ALLAH? Apakah yang Saudara lakukan saat itu? Apakah Saudara terus berseru kepada ALLAH ataukah justru marah dan melupakan ALLAH?  Saat perasaan ditinggalkan ALLAH muncul dalam batin atau saat iman tak mampu menangkap dengan pasti kehadiran-Nya dalam kehidupan ini, tetaplah setia kepada-Nya dan teruslah berseru pada-Nya.

Tekadku

Ya TUHAN, tolonglah aku untuk selalu setia beriman kepada-Mu sekalipun di tengah kesepian dan penderitaan

Tindakanku.

Aku akan selalu menyediakan waktu hening untuk berdiam diri guna merasakan dan mensyukuri kehadiran Roh TUHAN agar aku tidak kehilangan iman di tengah persoalan dan penderitaan .

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*