suplemenGKI.com

Kenalkah saudara dengan Mark Joseph Inglis? Ia adalah seorang warga negara Selandia Baru. Laki-laki kelahiran 27 September 1959 ini amat gemar mendaki gunung. Sejak kecil ia sudah bercita-cita untuk menaklukan Mount Everest. Namun, impian itu menjadi pudar setelah ia mengalami pengalaman pahit ketika mendaki Mount Cook, gunung tertinggi di Selandia Baru, pada tahun 1982. Terjebak dalam badai salju dan suhu dingin yang menusuk selama 13 hari bersama rekannya yang bernama Philiph Doole, membuat kedua kakinya membeku dan harus diamputasi. Kenyataan ini membuat Inglis nyaris putus asa. Rekannya sesama pendaki memotivasi dirinya, “jika kamu tidak mampu mendaki dengan kakimu, kuatkanlah tanganmu!” motivasi ini membakar semangat Ingler untuk kembali mendaki gunung-gunung tinggi dunia. Pada tahun 2002, Ingler berhasil menaklukkan Mount Cook. Pada tahun 2004, Ingler berhasil menaklukkan Gunung Cho Oyu. Pada tahun 2006, Ingler berhasil menaklukan Mount Everest. Gunung-gunung itu ia taklukkan hanya dengan menggunakan ke dua tangannya.
Berapa banyak “gunung” yang telah kita taklukkan? Melayani Tuhan sama seperti ketika kita mendaki sebuah gunung. Tidak mudah dan penuh dengan tantangan. Tantangan itu bisa berasal dari luar maupun diri kita sendiri. Ada kalanya kita seperti Ingler yang merasa tidak mampu melakukan tindakan besar dalam hidup karena keterbatasan yang dimiliki. Kita merasa belum siap atau kurang mampu. Sehingga kita banyak menjauhkan diri dari panggilan pelayanan. Banyak alasan yang selalu kita ungkapkan untuk menolak pelayanan. Bukan hanya itu, ada kalanya ketika kita telah bersedia untuk melayani, ternyata semuanya itu dilandasi oleh penghayatan yang keliru dan kesetiaan yang mudah kendor. Sebagai orang Kristen, kita terpanggil untuk melayani Tuhan. Itu adalah pekerjaan besar yang tentu tidak bisa dijalankan dengan mudah.
Di dalam 1Korintus 12:1-11, dituliskan oleh Paulus bahwa setiap orang memiliki karunia yang bermacam-macam dari satu Tuhan. Tidak ada orang yang lahir tanpa karunia. Karunia itu diberikan oleh Tuhan untuk membangun kepentingan bersama (1Kor. 12:7). Pelayanan tiap orang tidak sama karena rencana Tuhan bagi setiap orang pun tidaklah sama. Tetapi, sungguh disayangkan, kita telah mengubur dalam-dalam karunia itu dan tidak pernah menggunakannya untuk pelayanan. Kita tidak pernah menemukan karunia itu karena kita tidak mau menghadapi pendakian “gunung” yang sulit dan terjal. Kita tidak mau terjun untuk melayani Tuhan dan merasakan suka dan dukanya.
Sadarkah kita bahwa segala kelemahan dan kekurangan kita adalah kenyataan yang harus kita miliki supaya pekerjaan Allah bisa dinyatakan melalui kita? Sama seperti kurangnya persediaan anggur dalam pernikahan di Kana (Yoh. 2:1-11). Kurangnya persediaan anggur dalam pesta itu menjadi jalan supaya Yesus menyatakan kemuliaan-Nya (Yoh. 2:11). Pekerjaan Allah dinyatakan melalui peristiwa habisnya persediaan anggur. Demikian pula dengan kita. Kita adalah orang-orang dengan berbagai keterbatasan. Tetapi, keterbatasan itu haruslah ada supaya pekerjaan Allah dinyatakan melalui kita. Allah akan memperlengkapi kita untuk menjadi pelayan-pelayan-Nya sehingga karya dan perwujudan rencana-Nya bisa semakin disempurnakan.
Sekarang, apakah kita menyadari panggilan Allah itu? Allah tentu bisa menyempurnakan karya-Nya tanpa pertolongan manusia. Tetapi, Allah tidak mau berbuat demikian. Allah mau membangun karya-Nya bersama dengan manusia. Allah bukan sebagai bos yang memerintah tetapi Allah sebagai sahabat yang mendampingi kita. Siapkah kita menjadi pendaki-pendaki “gunung” seperti Ingler dengan segala keterbatasan kita? (NVS)

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*