suplemenGKI.com

Senin, 2 Februari 2015

Yesaya 40:21-26

Pengantar

Bacaan kita hari ini adalah bagian perikop dari  Yesaya kedua (Deutro Yesaya) yang mengemukakan kekuasaan ALLAH pada masa pembuangan Babel. Era ini adalah masa kehancuran Yehuda dan pembuangan ke Babel (tahun 586 SM). Pada saat itu  Yerusalem dihancurkan oleh orang-orang Babel. Apakah yang dirasakan umat ALLAH dalam penderitaan di era ini? Bagaimana tanggapan Firman TUHAN atas kondisi iman umat-Nya? Mari kita merenungkannya?

Pemahaman

  • Ayat  21      : Kira-kira apa maksud Yesaya mengungkapkan pertanyaan retoris dalam ayat ini?
  • Ayat 22-26 : Apakah yang hendak dikatakan Yesaya kepada umat ALLAH melalui gambaran-gambaran tentang  ALLAH dalam ayat-ayat ini?
  • Ayat 23      : Seperti apakah kekuasaan dan kekuatan ALLAH dibandingkan dengan kekuasaan dan kekuatan para pembesar dunia?

Situasi pembuangan Babel mengakibatkan keputusasaan umat-Nya. Pengharapan mereka akan keselamatan menjadi sangat lemah sebab Israel terpenjara dalam pembuangan Babel, tak merdeka dan berdaulat serta tak memiliki kemampuan militer. Pada waktu itu umat yang di buang ke Babel merasakan tidak ada yang lebih besar dari kerajaan dan dewa Babel. Pola pikir seperti ini membuat hilangnya pengharapan mereka akan kebebasan. Hal ini membuat jiwa mereka menjadi kerdil, semangat menjadi padam, tubuh menjadi lemah. Mata bangsa ini tertutup oleh situasi yang demikian hebat sehingga mereka melupakan ALLAH.

Untuk itulah Yesaya mengajukan beberapa pertanyaan retoris yang bertujuan mengingatkan mereka tentang siapa ALLAH Israel dalam sejarah dan juga dalam konteks mereka saat itu. Pertanyaan: ”Tidakkah kamu tahu? Tidakkah kamu dengar?”(ay.21) menjelaskan bahwa ada yang terlupakan oleh Israel. Dan yang terlupakan itu adalah: Keberadaan ALLAH itu sendiri.  Keberadaan-Nya yang menciptakan semua isi dunia ini (ay.22),  kekuasaanNya atas dunia dan pembesar-pembesar dunia (ay.23-24).  Yesaya mengingatkan bahwa seharusnya bangsa Israel paham akan ALLAH mereka sehingga tak pantas membandingkan ALLAH dengan allah-allah lain (ay.25) juga dengan bintang dilangit yang dipahami oleh orang Babel sebagai ilah atau allah (ay.26). Semuanya tunduk dalam kuasa ALLAH saja, sebab Ia yang menciptakannya. Para pembesar di bumi ini – bahkan Sanherib dan Nebukadnezar – juga adalah semata-mata rongsokan yang tak bernilai (sia-sia) di hadapan Penguasa Tertinggi yang mahakuasa dan maha kuat. Mereka seperti benih baru yang belum berakar kuat, mudah diterbangkan atau tercabut dari tanah di mana mereka tertanam (ay. 24).

Dengan menyadari kembali bahwa ALLAH-lah yang paling berkuasa diatas bumi  ini, akan memberikan  semangat yang baru bagi umat buangan itu. Ini berarti bila dibandingkan dengan besarnya persoalan dan penderitaan yang dialami umatNya, maka kuasa ALLAH tetap jauh lebih besar.

Refleksi

Dalam keheningan, tutuplah mata sejenak, berulang-ulang tarik dan hembuskanlah nafas perlahan-lahan. Rasakanlah kehadiran Roh ALLAH dalam nafas hidup Anda. Sekarang ingat-ingatlah apakah ketika menghadapi cobaan dan penderitaan, mata Anda 100% tertuju kepada masalah itu, sehingga seluruh hidup dikuasai oleh masalah itu ataukah memandang  kepada ALLAH yang jauh lebih besar dan berkuasa atas masalah yang kita hadapi?

Tekadku

Ya  TUHAN,  kuasa-Mu sungguh besar dan  mengagumkan; membuat aku sadar betapa kecilnya diriku.  Kini aku ingin menaruh pengharapanku hanya kepada-Mu dan mempercayakan hidup dan masa depanku ke dalam tangan-Mu.

Tindakanku.

Setiap bangun pagi hari, aku akan bersyukur atas kuasa ALLAH yang besar yang melingkupiku dan aku akan menyerahkan hidupku sepanjang hari dalam kekuasaan dan kekuatan-Nya.

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*