suplemenGKI.com

PECINTA KELUARGA

Pdt. Em. Soetjipto, MCE - GKI Residen Sudirman

Sampai memutih rambutku
KAU putuskan aku menutup usiaku,
Ku kan s’lalu menyembahMU

Sepenggal lagu dari Franky Sihombing yang dulu sering ressYouthers dengar mampu menceritakan sepenggal kisah hidup Pak Tjip. Siapa lagi beliau ini? Coba lihat fotonya di halaman ini. Sudah tahu? Pernah lihat tapi tidak tahu? Hanya tahu karena pernah menjadi pengkhotbah di GKI Ressud? Di edisi ini satuTeam mengajak menyelam dan menyaksikan indahnya pekerjaan TUHAN dalam diri Pdt. Em. Soetjipto.

Saya lahir ke dunia di Blora, pada 25 Oktober 1933. Mau mencoba melihat ke kalender ressYouthers masing-masing, sudah berapa tahun yang lampau itu? Apakah sudah terlihat berapa lama TUHAN membimbing Pak Tjip? Beragam keindahan pengalaman hidup beliau akan ressYouthers lihat sendiri tanpa perlu satuTeam tunjukkan dengan gamblang lagi.
Saya bahagia bisa terlahir dari keluarga yang sejak awal sudah mengenal KRISTUS. Keluargalah yang membentuk prinsip-prinsip penting dalam hidup. Salah satu prinsip yang saya pegang adalah: belum mau menikah sebelum punya profesi. Hingga pada usia 25, saya menjadi seorang pengajar. ressYouthers, sosok masa kecil pelayan TUHAN yang murah senyum dan sabar ini tidak mendapat banyak porsi dalam satu_closer! kali ini.
Ibu Tjip, yang bernama Sri Oetari adalah seorang wanita kelahiran Malang, 21 Januari 1938. Saya bertemu Bu Tjip di suatu SMA di Cirebon. Pada waktu itu kami sama-sama berprofesi sebagai guru. Bertolak belakang dengan Pak Tjip, Ibu berasal dari kaum Muslim. Meski demikian, perbedaan agama tidak menghalangi pertemanan mereka. Sebagai rekan kerja sesama guru, kami sering melakukan aktivitas bersama. Perlahan, melalui perkenalan dan kedekatannya dengan saya sekitar dua tahun, membuat ia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan Yesus.
Setelah menjadi Kristen, kami menjumpai bahwa kami memiliki hobi yang sama, yaitu menyanyi. Bersama-sama kami menjadi anggota Paduan Suara (PS) Efrata di GKI Pengampon, Cirebon. Tak hanya berkutat sebagai guru dan melayani di PS, saya juga menjadi guru Sekolah Minggu, kemudian Pengasuh Komisi Remaja, lalu Pengasuh Komisi Pemuda, bahkan sampai Pengasuh Guru Sekolah Minggu. Tidak berhenti sampai di situ, saya pun menjadi Pengkhotbah awam.

Dengan banyaknya hal yang kami lalui bersama, kami pun berkomitmen unuk membentuk keluarga. Kami menikah pada tahun 1962, dan setahun kemudian langsung pindah ke Malang, tetap dengan profesi sebagai guru. Dengan kepindahan itu, anak pertama kami jadinya tidak lahir di Cirebon, tetapi di Malang. Saya ingat betul, ketika itu tanggal 28 Oktober 1969 terjadi peristiwa yang luar biasa, pentahbisan pendeta yang sebelumnya tidak pernah sekolah pendeta! Saya ditahbiskan sebagai Pendeta GKI Kediri. Kekurangan pendeta di Sinode Wilayah Jawa Timur pada waktu itu menjadi salah satu alasan ’pentahbisan istimewa’ ini. Saya lalu memboyong keluarga untuk berdomisili di Tulungagung. Sebagai Pendeta GKI Kediri saya memegang tiga wilayah: Kediri, Tulungagung, dan Gurah. Pelayanan pada waktu itu bahkan menjangkau sampai ke Pare. ressYouthers, silakan cari Peta Jawa Timur dan pelototi dimana letak Kediri, Tulungagung, dan Gurah, jika ingin tahu lebih jelas.

Pdt. Em. Soetjipto, MCE - GKI Residen Sudirman
Saya orang yang sangat suka dengan keluarga, saya mencintai keluarga. Saya dan Bu Tjip sangat bahagia mendapatkan karunia tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Empat diantara enam anak kami telah berkeluarga. Dan masing-masing memberi kami dua cucu. Jadi total keluarga besar saya ada 20 orang, yaitu saya dan Ibu, enam anak, empat menantu, dan delapan cucu. Keempat anak dan menantu saya semuanya tinggal di Surabaya Selatan, dekat dengan saya. Setiap hari Minggu setelah Kebaktian, mereka semua datang ke rumah dan kami berkumpul lengkap satu keluarga besar. Itulah sebabnya saya dan Bu Tjip tidak pernah merasa kesepian. Anak-anak sangat akrab dengan kami, orang tua. Sudah sedari kecil kami menerapkan kedekatan dengan anak dan komunikasi sebagai unsur penting dalam keluarga. Mereka bisa menceritakan apa saja kepada kami. Hidup dengan komunikasi yang terbuka ini juga berlanjut hingga ke cucu kami Ini terlihat dari orang tuanya yang menekankan untuk menyayangi Opa dan Omanya.

Dulu saya pun mengalami masalah dan kesulitan dalam berkeluarga. Sewaktu masih aktif jadi Pendeta, timbul iri hati dari anak-anak saya kalau ada jemaat yang menelepon dan minta waktu untuk konsultasi. Saya memang selalu memenuhi permintaan jemaat. Sampai-sampai waktu untuk anak-anak jadi berkurang. Anak-anak pun komplain dan berkata: ”Papa ini Bapaknya Jemaat atau Bapaknya kami?” Kemudian saya berusaha mengatur waktu dan mengambil waktu setiap Kamis untuk meluangkan waktu seharian bersama-sama dengan keluarga. Misalnya dengan bermain ke taman, atau sekedar bercerita sambil tiduran di kamar dengan anak-anak.
Yang menjadi kesulitan pula ketika saya harus studi di salah satu Sekolah Teologia di Manila. Karena bukan berpijak dari pendidikan teologia, maka beberapa tahun setelah saya ditahbiskan menjadi Pendeta, baru saya kemudian belajar Teologia. Saat itu merupakan saat-saat terberat bagi kami sekeluarga. Saya harus studi di Manila, meninggalkan Ibu seorang diri mengasuh keluarga. Sebagai orang yang sangat mencintai keluarga, saya juga selalu menyempatkan untuk pulang ke Indonesia setiap semester. Pendapatan juga otomatis berkurang karena saya harus memakainya untuk kebutuhan studi di negeri orang. Selama tiga tahun di Manila saya berhasil menyelesaikan program Master karena pertolongan TUHAN. Puji TUHAN juga karena Bu Tjip masih diijinkan untuk mengajar sekolah Petra di Surabaya pada waktu itu. Ketika itu kami sudah pindah ke Surabaya, dimana saya diminta untuk menjadi Pendeta di GKI Ressud pada 7 Januari 1975 menggantikan Alm. Pdt. Abednego, pendeta pertama GKI Ressud.
Sekarang saya masih menikmati masa-masa pelayanan di usia yang sudah tua ini. Saya terkadang masih mengisi khotbah, memimpin perjamuan, dan sebagainya. Dengan pelayanan dan keluarga yang bahagia, TUHAN sungguh menunjukkan kesetiaannya dalam hidup saya sekeluarga.
ressYouthers, sudah menikmati karya TUHAN yang indah lewat hidup Pak Tjip?
Impian ressYouthers untuk membentuk keluarga bahagia
bukan hanya sekedar khayalan yang maya.
Semua keluarga yang tidak bahagia memiliki masalahnya masing-masing. Semua keluarga yang bahagia memiliki sedikit persamaan.

Selamat membentuk keluarga nantinya, ressYouthers!

(tyo)

BIOGRAFI RINGKAS

Nama : Pdt. Em. Soetjipto
Tempat/Tanggal Lahir: Blora, 25 Oktober 1933

Istri: Sri Oetari
Tempat/Tanggal Lahir: Malang, 21 Januari 1938

1958 Guru salah satu SMA di Cirebon
Bertemu Sri Oetari

1962 Menikah dengan Sri Oetari

1963 Pindah ke Malang

1969 Oktober, 28 Ditahbiskan jadi Pendeta GKI Kediri

1975 Januari, 7 Ditahbiskan jadi Pendeta GKI Ressud, Surabaya
Melayani TUHAN sampai sekarang, sebagai Pendeta Emeritus

Sumber : Satu Magazine – GKI Residen Sudirman, Edisi September-Oktober 2007

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

3 Comments for this entry

  • agus kresbianto says:

    Pak cip, Agus maw tanya. Di ressud ada KKR Kesembuhan Illahi. Apa KKR ini berkenan dengan ajaran GKI?

    Terima kasih.

  • YF (cewe) says:

    Apakah Tuhan berkenan dgn pernikahan beda agama?
    saya membaca dialkitab,beberapa nabi pun menikahi perempuan beda agama ada juga di 1 kor 7 : 12-14 saya sudah membawa masalah ini dlm doa saya slama 3thn, minta Tuhan ksh petunjuk. Tapi yg ada saya semakin dekat dengan dia Apa ini salah satu petunjuk Tuhan? Bukankah Tuhan akan memberikan yg anakNya minta,jika anakNya meminta dgn penuh percaya padaNya??

  • Karin says:

    Syaloom.. saya mau menanyakan tentang pernikahan beda agama apa sebenernya Tuhan berkenan? saya sampai membawa masalah ini dlm doa puasa saya 3thn ini saya minta Tuhan memberikan jawaban, tp yg ada saya smakin dekat dgn dia Jika saya mulai ragu, saya berdoa dan hub kami smakin membaik Apa saya slh klo saya berpikir ini rencana Tuhan? Terkadang saya berharap dia menjadi umat Allah, sering saya berdoa sampai nangis untuk masalah ini memang belum ada tanda2 jelas, ia mau pindah agama. tapi apa iya hal ini dosa?? atau hanya keegoisan dan gengsi agama saja??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*