suplemenGKI.com

MENGUAK FAKTA, MENATA KARYA NYATA

MENGUAK FAKTA, MENATA KARYA NYATA


Judul Buku :

MENGUAK FAKTA, MENATA KARYA NYATA

(Sumbangan Teologi Praktis dalam Pencarian Model Pembangan Jemaat Kontektual)

Penulis :

Pdt. Dr. Rijnardus A. van Kooij

Pdt. Sri Agus Patnaningsih, M.Th.

Yam’ah Tsalatsa A., SIP

Penerbit :

BPK Gunung Mulia


 

Kata Pengantar


JEMAAT : BERKEMBANG KE MANA?

Prof. Dr. J.B. Banawiratma

“Jemaat: Berkembang ke mana?” Pertanyaan ini dikemukakan oleh buku “Menguak Fakta, Menata Karya Nyata. Sumbangan Teologi Praktis dalam Pencarian Model Pembangunan Jemaat Kontekstual” ini kepada setiap jemaat yang ingin hidup dan lebih hidup lagi. Bukan hidup tanpa arah, melainkan hidup menurut Injil Yesus Kristus yang mendasari seluruh kehidupan kristiani. Lebih dari itu buku hasil penelitian ini menawarkan pertolongan untuk menjawab tantangan itu. Oleh karena itu, terbitnya buku ini kita sambut dengan gembira. Sejauh saya tahu, di Indonesia buku ini merupakan buku pertama mengenai pembangunan jemaat kontekstual yang ditulis berdasarkan pada penelitian lapangan.

Antara Cita-cita dan Kenyataan

Jemaat selalu berada dalam kesenjangan antara cita-cita dan kenyataan. Mengusahakan kemajuan secara sadar pastilah menyadari pula bagaimana kenyataan jemaat sekarang ini. Ke arah manakah jemaat ingin berkembang sekarang ini? Apakah kenyataan jemaat sekarang ini serupa dengan potret dalam buku ini? Kalau tidak, apa perbedaannya? Apa pula kesamaannya? Jemaat juga dapat berdialog dengan buku ini me­ngenai apakah yang selayaknya dicita-citakan. Banyak jemaat sudah merumuskan visi dan misi yang lahir dari percakapan bersama. Lebih jauh, jemaat juga mencoba mewujudkan visi dan misi itu ke dalam strategi dan program yang direncanakan. Bahkan ada juga jemaat yang kemudian secara rutin mengevaluasi kegiatan-kegiatan yang dijalankan. Namun, rumusan visi dan misi beserta perwujudannya tidaklah bersifat beku, bahkan selayaknya setiap kali ditinjau kembali.

Banyak jemaat tidak lagi mencita-citakan perkembangan kuantitatif, melainkan kemajuan kualitatif. Barangkali tidak salah kalau kita menduga bahwa sekarang ini banyak jemaat lebih bergerak ke dalam ketimbang ke luar. Sedangkan yang dikehendaki sebenarnya adalah gerak yang seimbang. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah nilai-nilai manakah sebenarnya yang secara nyata menggerakkan jemaat sekarang ini?

 

Hidup bagi Yesus Kristus di Sini Sekarang Ini

Nilai mendasar itu selayaknya bukanlah hidup untuk dirinya sendiri, melainkan bagi dan bersama Yesus Kristus di sini sekarang ini. Kepedulian mendasar adalah menempatkan hidup jemaat sendiri dalam Yesus Kristus, yang adalah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan. Yesus Kristus sungguh dialami sebagai kebenaran dan kehidupan jika apa yang dikatakan dan yang dilakukan dijalani oleh jemaat.

Di manakah kita menjumpai Kristus sekarang ini? Dalam Injil Matius 25:31-46, “yang paling hina” secara positif dan secara negatif dinyatakan sebagai wakil Kristus di dunia sekarang ini. “Ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan. Ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum. Ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan. Ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian. Ketika Aku sakit, kamu melawat Aku. Ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.” Kriteria positif mengatakan, “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (ay. 40). Kriteria positif ini ditegaskan lagi secara negatif, “Segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku” (ay. 45). Artinya, yang dilakukan untuk yang paling hina dilakukan un­tuk Anak Manusia/Raja, dan yang tidak dilakukan untuk yang paling hina juga tidak dilakukan untuk Anak Manusia/Raja. Pernyataan positif dan negatif semacam itu dinyatakan dalam adegan pengadilan terakhir. Hal itu berarti bahwa “yang paling hina” sungguh menentukan, sungguh merupakan wakil-wakil Kristus sekarang ini. Apakah orang yang berkuasa dan yang kaya juga masuk dalam rencana penyelamatan Allah dan menerima kabar gembira Injil Yesus Kristus? Tentu saja, inilah kabar gembiranya: Berbahagialah kalian, sebab kalian juga diundang untuk diselamatkan, untuk menjumpai dan mengikuti Kristus, yakni melalui solidaritas terhadap wakil-wakil Kristus sekarang ini, yakni saudara-saudari yang paling hina itu.

Lalu bagaimana dengan perintah “baptislah” pada Matius 28:19b? Pada bagian akhir Injil Matius itu, perintah untuk membaptis berada dalam rangka perintah utama, yakni menjadikan semua bangsa murid-Ku (ay. 19a). Perintah untuk membaptis (ay. 19b) juga menjadi satu de­ngan perintah untuk mengajar melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu (ay. 20). Baptisan merupakan tanda memasuki persekutuan murid-murid Yesus (ay. 19a), dan murid-murid Yesus dinilai dari melakukan atau tidak melakukan apa yang diperintahkan Yesus (ay. 20). Murid-murid Yesus selayaknya berada bersama dengan Yesus, mendengarkan dan melakukan apa yang disampaikan oleh Yesus. Dengan kata lain, teks Matius 28 tidak hanya tempatnya berdekatan dengan Matius 25, melainkan isinya juga menyatu dengan Matius 25. Baptisan tanpa melakukan untuk yang paling hina, tidak lagi merupa­kan tanda dari murid yang mengikuti Kristus.

Dengan pandangan semacam itu kita dapat mengerti bila tim peneliti buku ini pada akhirnya mengatakan, “Hasil penelitian ini memberikan pemahaman bahwa keberhasilan pertumbuhan atau perkembangan gereja tidak dapat diukur hanya dari makin besarnya jumlah anggota dan makin besarnya gedung gereja … tetapi dari makin berfungsinya gereja di tengah masyarakat”. Di tengah kemiskinan rakyat Indonesia, jemaat yang mengikuti Kristus selayaknya menjumpai Dia dalam tindakan untuk kaum miskin dan tak berdaya. Perjumpaan dengan Yesus Kristus yang hadir dalam Roh seharusnya menjadi satu dengan perjumpaan melalui wakil-wakilNya, yakni saudara-saudari yang paling hina.

 

Perubahan Terencana dan Terobosan

Buku ini menawarkan juga pemikiran-pemikiran strategis untuk perubahan khusus ditunjuk komunitas-komunitas keluarga dan komunitas basis. Sewajarnyalah bahwa jemaat tidak hanya mempunyai cita-cita yang umum, melainkan membawa cita-cita itu sampai pada perencanaan. Perubahan yang terencana diharapkan mencapai jangkauan yang luas dengan kualitas yang tinggi. Meskipun demikian jemaat selayaknya tetap terbuka terhadap terobosan-terobosan yang barangkali muncul dari inisiatif para anggota jemaat dan yang barangkali tidak pernah masuk dalam perencanaan strategis maupun agenda jangka pendek dari jema­at. Barangkali ada juga anggota-anggota jemaat yang bergerak di luar pe­rencanaan organisasional dari jemaat dengan memasuki usaha perubahan sosial bersama dengan saudara-saudari di luar jemaat dan saudara-saudari beriman lain. Semua itu selayaknya disambut gembira dan didukung oleh jemaat.

Keterbukaan semacam itu penting, sebab Roh Kudus tidak dapat dibatasi dengan strategi dan program jemaat. Roh Kudus dianugerahkan kepada semua dan tidak hanya kepada anggota-anggota tertentu saja. Keterbukaan terhadap Roh Kudus diwujudkan dalam keterbukaan satu sama lain demi pelayanan bersama. Jadi, di satu pihak strategi dan pro­gram jemaat sangat penting, di lain pihak strategi dan program itu harus selalu terbuka terhadap gerakan lain yang muncul, yang barangkali merupakan buah dari karya Roh itu.

Sebagai akhir kata dari pengantar singkat ini, saya mengucapkan selamat kepada tim peneliti, yaitu Pdt. Dr. Rijnardus A. van Kooij, Pdt. Sri Agus Patnaningsih, M.Th., dan Sdr. Yam’ah Tsalatsa A., SIP. Semoga hasil penelitian ini dimanfaatkan oleh banyak aktivis jemaat demi transformasi kehidupan jemaat menuju kehidupan yang makin menjalani Injil Yesus Kristus.

 

Yogyakarta, Paskah 2007

 

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*