suplemenGKI.com


Tanggal 25 Desember dan pohon Natal sangat lekat dengan perayaan Natal. Benarkah TUHAN YESUS lahir tepat tgl 25 Desember? Sejak kapan orang Kristen merayakan Natal pada tgl 25 Desember? Mengapa pula dalam perayaan Natal selalu ada pohon Natal? Anda ingin tahu jawabannya? Mari ikuti ulasan berikut ini.

Ambil dan Bacalah!

NATAL = 25 DESEMBER?

Dalam kalender internasional, hari Natal jatuh pada tgl. 25 Desember.

Benarkah YESUS lahir pada tgl 25 Desember?

Alkitab tidak pernah memberikan kesaksian tentang tanggal kelahiran YESUS.

Injil hanya memberikan gambaran-gambaran situasi. Misalnya Lukas menggambarkan malam kelahiran YESUS adalah saat para gembala tinggal di padang menjaga kawanan ternak pada waktu malam. Ini menunjukkan bahwa kelahiran YESUS bukan terjadi pada bulan Desember yang adalah musim dingin di Israel. Klemens dari Aleksandria membuat perhitungan bahwa YESUS lahir pada tgl 25 Pachon, yaitu tgl 20 Mei. Tapi ini pun bukan kepastian.

Mengapa kita tak punya catatan tanggal kelahiran YESUS ? Karena pada jaman itu merayakan ulang tahun hanyalah kebiasaan orang kafir. Injil tak mencatat tanggal kelahiran YESUS karena maksud utama penulisan Injil bukan mengungkap sejarah hidup YESUS secara lengkap. Injil ditulis untuk menyaksikan bahwa di dalam KRISTUS ( perkataan & perbuatannya ), kerajaan ALLAH sudah datang, keselamatan manusia telah tiba.

Jadi sejak kapan Natal dirayakan?

Sekitar abad 3, umat Kristen di Mesir mulai merayakan Natal pada tgl 6 Januari. Diyakini hari itu adalah hari pembaptisan YESUS.

Sedangkan perayaan Natal 25 Desember pertama kali dilakukan oleh gereja Roma pada akhir abad 4. Mengapa 25 Desember? Tanggal tersebut dipilih untuk memberi isi yang baru kepada perayaan kafir yang memuja Dewa matahari . Pada waktu itu orang-orang Roma menyambut kembalinya matahari ke belahan bumi bagian utara. Orang-orang Kristen di Roma memakai tanggal tersebut untuk merayakan kelahiran YESUS, Sang Matahari kebenaran.

Tak lama kemudian, kebiasaan merayakan Natal pada tanggal 25 Desember menjadi kebiasaan gereja-gereja barat dan akhirnya setelah melalui proses yang panjang juga menyebar ke gereja-gereja timur. Sekalipun demikian gereja tak melupakan perayaan 6 Januari. Itulah hari Epiphania yaitu hari penampakan TUHAN sekaligus perayaan pembaptisan YESUS.

Dalam perkembangan berikutnya, kalender liturgi mencatat 25 Desember sebagai hari Natal dan 6 Januari sebagai hari Epiphania.

Jika demikian, bolehkah merayakan Natal tidak tepat tgl 25 Desember?

Bagi kita, yang penting bukan ketepatan tanggalnya tapi rasa syukur atas kelahiran KRISTUS di tengah dunia, karena tanpa kelahiran-NYA di bumi ini, kita tak dapat mengenal ALLAH dan terus berada dalam kegelapan. Sebaliknya dengan kelahiran-NYA, kita mengenal jalan keselamatan dan boleh hidup dalam keselamatan. Melalui perayaan Natal, kita terus diingatkan untuk mensyukuri kelahiran KRISTUS, Sang Surya Kebenaran. DIA-lah Penerang kehidupan dunia yang dalam kegelapan dosa. Karenanya, sambutlah Natal dengan membuka hati untuk kehadiran TUHAN, Sang Terang dunia

NATAL = POHON NATAL

Setiap kali ada perayaan Natal, maka di situ ada pohon Natal ( pohon terang ) dengan berbagai hiasannya. Perayaan Natal serasa kurang jika tak ada pohon Natal yang berdiri di situ. Pohon-pohon cemara ditebang untuk dijadikan pohon Natal.

Mengapa Natal dirayakan dengan memasang pohon Natal?

Konon, kisah pohon Natal dimulai pada abad ke 8 ketika Santo Bonifasius dari Inggris datang ke Jerman sebagai pekabar Injil. Bonifasius melihat seorang anak kecil akan digantung di pohon ek untuk dipersembahkan kepada para dewa. Ia menyelamatkan anak itu. Lalu Bonifasius memotong sebatang cemara kecil dan diberikan kepada orang-orang itu sebagai lambang hidup.

Ada pula kisah tentang Martin Luther yang menebang pohon cemara pada bulan Desember 1540. Ia memasang beberapa lilin di pohon itu pada hari Natal sebagai lambang terang dan hidup sebab pohon cemara tetap hidup dan hijau di segala musim.Bahkan di tengah musim dingin, terpaan angin dan salju tak membuat pohon cemara layu dan mati. Pohon-pohon lain mati, tapi cemara tetap tegak berdiri, bagaikan kasih TUHAN yang kekal di segala waktu kehidupan

Mengingat akan kekhasan dan kekuatan cemara, maka cemara dipakai sebagai simbol kasih TUHAN sekaligus gambaran kehidupan yang tetap tegar sekalipun di tengah berbagai kesulitan. Nyala lilin yang menghiasi pohon Natal melambangkan terang yang memancar ke sekitar.

Dengan memasang pohon Natal, kita diingatkan akan kelahiran YESUS KRISTUS yang memberi kehidupan dan terang kepada umat manusia. Bukankah Natal adalah perayaan kehidupan dan terang yang TUHAN berikan kepada manusia di tengah kegelapan dan kematian karena dosa? Bukankah Natal adalah perayaan kelahiran YESUS KRISTUS, Sang sumber terang dan kehidupan?

Mulai pertengahan abad ke 19, tradisi memasang pohon terang diperkenalkan oleh Pangeran Albert, suami Ratu Victoria, di Inggris dan dari situ meluas ke seluruh dunia.

Sekarang, pohon Natal berdiri dengan nyala terang lampu hias dan berbagai hiasan yang menawan. Tentu ini bukan sekedar pajangan yang menyemarakkan suasana Natal. Ingatlah setiap kali kita memasang dan menikmati pohon Natal, seharusnya kita mensyukuri kasih TUHAN yang kekal . Ingatlah pula bahwa kasih TUHAN itu memungkinkan kita  seperti pohon cemara yang tetap hidup dan tegak berdiri di tengah berbagai tantangan kehidupan. Saat memasang pohon Natal, mari kita menyerahkan diri kepada TUHAN, membuka hati kita untuk kelahiran Sang Juruselamat dunia, agar kita dimampukan hidup tegar menghadapi berbagai hempasan badai kehidupan.

Di sisi lain, penggunaan cemara sebagai pohon Natal memunculkan persoalan yang mengancam keutuhan lingkungan hidup. Manakala orang-orang Kristen merayakan Natal dengan memasang pohon Natal, maka sekaligus ada kenyataan begitu banyak pohon cemara ditebang setiap tahun. Sadarkah kita, bahwa dengan demikian kita merusak lingkungan? Kalau terjadi tanah longsor dan banjir akibat begitu banyak pohon cemara ditebang, maka kita turut bersalah. Sungguh ironis, lahirnya Sang Sumber kehidupan kita rayakan dengan merusak lingkungan yang mengakibatkan datangnya bencana dan petaka bagi manusia dan semesta. Dengan kata lain, kita bergembira di atas penderitaan orang lain atau pun lingkungan kita. Pantaskah ini dilakukan oleh orang-orang Kristen? Tentu saja tidak, karena kita diciptakan untuk membangun kehidupan yang baik di bumi ini.

Jika demikian, sekarang ini masih perlukah kita memasang pohon Natal dari pohon cemara yang hidup?

Ada baiknya sekarang kita membiasakan diri memasang pohon cemara imitasi atau menanam pohon cemara di pot besar yang sewaktu-waktu bisa diangkat untuk dimasukkan rumah atau ruang gereja. Bahkan perlu pula berkreasi membuat pohon Natal dari bahan-bahan daur ulang. Dengan begitu, kita tak merusak lingkungan dan perayaan kelahiran Sang Sumber Terang dan Kehidupan benar-benar memberikan sukacita bagi semua orang bahkan bagi semua makhluk di muka bumi.

SELAMAT NATAL 2008!

Catatan:

Info lain tentang pernik-pernik Natal dalam ulasan sederhana dapat dibaca dalam buku “Selamat Natal” (Andar Ismael)

Sumber:

Ambil dan Bacalah Edisi 21, bulan Desember Tahun 2008, Departemen Pengajaran

Digg This
Reddit This
Stumble Now!
Buzz This
Vote on DZone
Share on Facebook
Bookmark this on Delicious
Kick It on DotNetKicks.com
Shout it
Share on LinkedIn
Bookmark this on Technorati
Post on Twitter
Google Buzz (aka. Google Reader)

3 Comments for this entry

  • Benny Gunawan says:

    untuk melengkapi wawasan kita tentang Seputar Perayaan natal tgl 25 desember yang telah disajikan oleh Dept. Pengajaran dengan sangat baik, maka saya postingkan catatan dari Bambang Noorsena tentang kelahiran Isa Almasih.
    Kiranya catatan ini dapat bermanfaat.

    Benarkah Al-Masih lahir pada tanggal 25 Desember?
    Bambang Noorsena

    Dokumen Gereja pertama kali yang mencatat penetapan tanggal kelahiran Al-Masih, adalah Didascalia atau Konstitusi Rasuli (Arab: Dastur Rasuliy) yang berbunyi: “Saudara-saudaraku, peliharalah perayaan untuk kelahiranNya (Natal) pada tanggal 25 bulan ke-9 Ibrani, yaitu tanggal 29 bulan ke-4 Mesir”[1]. Injil Lukas 1:26 mencatat, bahwa berita Malaikat Jibril akan lahirnya Yesus, terjadi pada bulan ke-6. Dalam kalender Ibrani, ada 2 macam perhitungan: Pertama, Kalender perayaan keagamaan (the Sacred calendar), yang ditetapkan sejak Bani Israel kembali dari pembuangan di Babel, dan mulai dari bulan Nisan (kira-kira April). Kedua, Kalender sipil (the Civil calendar) yang diawali dari bulan Tisyri atau Etanaim (Kira-kira bulan Oktober)[2]. Bulan ke-6 dalam kalender sipil Ibrani adalah Adar, kira-kira jatuh pada bulan Maret. Jadi, menurut hitungan gereja waktu itu, Malaikat Jibril datang kepada Maryam pada hari ke-25 bulan Maret yang paralel dengan minggu ke II dlm bulan Adar2/Nisan (Lihat Kalender Ibrani). Itulah ‘Id Bisyarat al-Adzra’ (Maryam menerima Kabar Gembira)[3]. Karena itu kemudian kelahiran Yesus jatuh pada hari ke-25 bulan Ibrani Tebeth (Kanun al-Awwal), kira-kira 25 Desember. Dalam teks liturgis disebut hari Natal (atau ‘Id al-Milad). Hitungan ini ternyata cocok dengan terjadi konjungsi planet Jupiter dan Saturnus, yang terjadi bulan Desember tahun 7 sebelum Masehi.

    Tapi mengapa kini ada perbedaan dalam merayakan Natal: antara Gereja Barat yang merayakan pada tanggal 25 Desember, dan Gereja Timur yang merayakan tanggal 7 Januari? Harus dicatat, perbedaan itu tidak terjadi pada fakta dasarnya, tetapi akibat selisih perhitungan antara penanggalan Gregorian Barat dan penanggalan Julian yang lama yang masih dipakai di gereja-gereja Timur. Sebenarnya, penetapan pertama hari-hari raya Gereja, untuk pertama kalinya secara akurat dihitung dari Mesir. Seorang astronom Gereja Mesir, bernama Batlimous, pada akhir abad ke-2 Masehi, melakukan perhitungan secara cermat atas perintah Baba Dimitri/Demetrius, yang menjadi Patriakh Alexandria dari tahun 199-232[4]. Penanggalan Mesir dihitung berdasarkan penampakan bintang Siriuz, [5] yang diakui UNESCO sebagai kalender yang paling akurat dibandingkan dengan sistem penanggalan manapun yang pernah dibuat[6]. Jadi penenetapan perayaan Natal mula-mula jatuh pada tanggal 29 bulan Kiahk. Di wilayah kekaisaran Roma pada waktu itu berlaku kalender Julian. Kalender ini ditetapkan oleh Julius Caesar tahun 46 sebelum Masehi, yang didasarkan atas peredaran matahari. Hitungannya 700 tahun dari berdirinya kota Roma. Nah, pernah terjadi hitungan kalender Julian ini salah. Lalu seorang astronom, Mesir, Sosiginous, memperbaikinya yaitu menyesuaikan dengan tahun Coptic yang terdiri dari 365 hari. Kalender inilah yang diikuti seluruh Gereja baik di Timur maupun di Barat sampai abad ke-16 Masehi. Pada tahun 1582, Paus Gregorius dari Roma membuat modifikasi dari kalender Julian ini, yang kemudian disebut Kalender Gregorian hingga sekarang. Kalender inilah yang sampai hari ini diikuti oleh Gereja Barat: baik Katolik maupun gereja-gereja Protestan. Sedangkan gereja-gereja Timur dari dahulu hingga sekarang tetap menggunakan Kalender Julian itu.

    Lalu mengenai perbedaan jatuhnya perayaan Natal di Barat dan di Timur itu? Nah, perbedaan itu mula-mula disebabkan karena perbedaan dalam menghitung jatuhnya ‘Idul Fashha (Perayaan Paskah). Konkritnya, Gereja Barat menetapkan jatuhnya perayaan Paskah tepat pada bulan purnama musim semi. Ini mengikuti kebiasaan Paskah Yahudi. Padahal orang Yahudi memakai kalender bulan, yang setahunnya hanya terdiri dari 354 hari. Itu berarti selisihnya dengan kalender matahari 10 hari. Dalam hal ini, Paskah Yahudi memang selalu jatuh pada bulan purnama. Karena perhitungan peredaran bulan tadi. Tetapi tidak demikian dengan Paskah Kristen, yang dihitung berdasarkan peredaran matahari. Akibatnya, pada tahun-tahun lain bulan purnama jatuh sebelum jatuhnya perayaan Paskah Kristen. Nah, waktu itulah jatuhnya Paskah di Barat harus dimajukan. Sedangkan gereja-gereja Timur menghitungkan jatuhnya Paskah selalu pada hari Minggu. Tidak peduli tepat pada bulan purnama atau tidak. Sebab yang menjadi patokan bukan lagi pengorbanan domba dalam kalender Yahudi, sebab Yesus sendirilah “Anak Domba Paskah kita” (1 Korintus 5:7).

    Pada tanggal 5 Oktober 1582, kalender Gregorian maju 10 hari. Selanjutnya, satu hari hilang pada tahun 1700, 1800, dan 1900. Akibatnya, 10 hari ditambah 3 hari menjadi 13 hari itu. Hitungannya jadi berbeda, tetapi karena kalender Barat yang menang, maka hitungan yang tepat dari Gereja Timur yaitu tanggal 29 Kiahk atau 25 Tebeth itu, harus mengalah hingga sekarang ini selalu jatuh tanggal 7/6 Januari, apabila dihitung dari kalender Barat yang maju 13 hari tadi.

    Catatan kaki:
    1.Markus Aziz, Khalil, The Coptic Orthodox Church (Montreal, Canada: The Coptic Orthodox Patriarchete,t.t), p.35.
    2.Richard Booker, Jesus in the Feast of Israel (Shippensburg, PA: Destiny Image Publishers, 1987), pp.10-11. Cf. “Syriac Calendar” dalam Alexander Roberts, D.D and James Donaldson, L.L.D (ed), The writings of The Fathers Down to A.D. 325 Ante Nicene fathers. Volume 8 (Peabody, Massachussets, 1994), pp.666
    3.“Al-A’Id al-Tsabitah”, dalam Mar Ignatius Zakka I ‘Iwas, At-Tuhfat ar-Ruhiyat fii ash Shalat al-Fardhiyat (Allepo: Dar Al-Raha lil Nasyir, 1990), p. 204
    4.Iris Habib al-Mishr, The Story of The Copts (Kairo: The Middle East Council of Churches, lt.t), p. 563
    5.Markus Aziz Khalil, Op.Cit, p.33
    6.Pengakuan itu diterbitkan UNESCO dengan judul: The Modern Science of Astrology, terbit di London, 1966.
    Sumber:Bambang Noorsena, Renungan-renungan Idul Milad (Natal) di Tanah Suci Israel/Palestina (Malang: Studia Syriaca Orthodoxia,1999).
    Copyright © 2002 Institute For Syriac Christian Studies

  • fajar says:

    Natal berdasarkan kalender Gregorian (Masehi) adalah tanggal 25 Desember sedangkan berdasarkan kalender Julian adalah tanggal 6 atau 7 Januari. Perbedaan tersebut hanya karena kalender Gregorian maju sekitar 13 hari dari kelender Julian.

    Intinya, bukan sesuatu yang penting untuk dipertanyakan Berapapun tanggal yg ditetapkan untuk memperingati hari lahirnya Tuhan kita. Karena hal tersebut hanya berujung pada satu FAKTA, yaitu :

    Yesus Kristua telah datang kedalam dunia menjadi sama dengan manusia, mati disalibkan, dikuburkan dan bangkit dari antara orang mati. IMAN kia dan SEJARAH dunia membuktikan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan (Yahweh) Allah Yang Maha Kuasa.

    Salam sejahtera,

  • fajar says:

    Natal berdasarkan kalender Gregorian (Masehi) adalah tanggal 25 Desember sedangkan berdasarkan kalender Julian adalah tanggal 6 atau 7 Januari. Perbedaan tersebut hanya karena kalender Gregorian maju sekitar 13 hari dari kelender Julian.

    Intinya, bukan sesuatu yang penting untuk dipertanyakan Berapapun tanggal yg ditetapkan untuk memperingati hari lahirnya Tuhan kita. Karena hal tersebut hanya berujung pada satu FAKTA, yaitu :

    Yesus Kristua telah datang kedalam dunia menjadi sama dengan manusia, mati disalibkan, dikuburkan dan bangkit dari antara orang mati. IMAN kita dan SEJARAH dunia membuktikan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan (Yahweh) Allah Yang Maha Kuasa.

    Salam sejahtera,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Previous Post
«